Hujan & Senja

Gambar

 

Tittle : Hujan & Senja

Cast    : Lee Mi Young | Kim Ryewook ,  etc

Author : Yunfy_Shin

Genre : Romance, Friendship, |Find your self|

Lenght : Oneshoot

 

Mengapa kau menyukai hujan…???
Mengapa kau menyukai senja…???
Karena senja indah.
Karena hujan juga indah.
Jika senja membias, dapat membuat warna langit berubah.
Jika hujan menetes, rasanya seperti seluruh dunia sedang menangis.
Senja seperti lukisan yang tidak mengatakan apapun tapi orang dapat memahaminya.
Hujan seperti nyanyian yang merdu tapi pesannya tidak sampai pada orang yang dituju.
Cahaya senja itu membawa kehangatan!
Dan rintik hujan itu membawa kenyamanan (setidaknya untukku) 😀

-$$$$-

Hujan turun lagi!

Mengajak ribuan bulir bening menyerbu bumi yang tadinya terik, memberikan keteduhan dan dengan segera semua orang mencari tempat untuk berlindung dari bulir-bulir air itu. Hujan membuat banyak kegiatan terhambat, orang-orang yang bekerja diluar gedung selalu menjadi sasaran empuknya dan tidak sedikit orang-orang yang menderita sakit karena hujan, pengaruh cuacanya yang dingin

Karena itu, tidak sedikit orang yang berkeluh kesah jika hujan mulai turun. Kegiatan mereka terhenti dan hanya bisa menatap dari balik gedung menunggu kapan baru mentari akan muncul lagi, Di dunia yang sudah serba maju seperti sekarang, terlambat sedetik maka kau akan tertinggal. Dan sadar atau tidak, hujan sudah sering membuat orang-orang terlambat dalam melakukan sesuatu

“Hujan lagi?” desis seorang pria dengan suara nyaringnya, mendengus begitu melirik dari balik kaca kamarnya dan  menjadi kabur karena embun yang diakibatkan oleh hujan

Dia salah satu orang yang ‘kurang suka’ denga hujan. Alasannya sama, karena banyak menghambat kegiatan/pekerjaan. Terutama ia yang sangat suka bepergian

Dia mengambil telponnya, menekan beberapa nomor kemudian terlihat berbicara sebentar. “Ya, aku mengerti. Kita bisa lakukan lain kali… walaupun aku tidak yakin cuaca akan mendukung” serunya

“Baiklah” dan dia mematikan sambungan telepon. Dia menatap lagi di kaca yang masih tetap buram itu ‘I hate rain’ tulisnya dikaca itu dengan telunjuknya.

-$$$$-

Seorang gadis langsung melompat dari tempat tidurnya begitu ia mendengar suara yang begitu deras. Dia tadinya sedang tertidur tapi langsung bangun seketika begitu mendengar suara tersebut. Sepertinya dia familiar dengan suara itu dan sangat mengenalnya dan juga sangat menyukainya, mungkin

“Hujan lagi…?? Kyaaaa” teriaknya kegirangan dan langsung membuka tirai jendelanya kemudian menarik kursi kecil dipojok kamar dan meletakkannya tepat didepan jendela. Dibukanya kaca jendela itu dan ia mengeluarkan tangannya, merasakan bulir-bulir bening dan tak berwujud itu membasahi tangannya

Wajahnya tersenyum girang, dia suka hujan sangat suka. Banyak orang menganggap dia kadang aneh menyukai hujan, hey begitu banyak orang yang membenci hujan karena kedatangannya yang tiba-tiba dan tanpa ampun tapi dia selalu tersenyum setiap air hujan menetes meskipun kadang ia menjadi korban karena cuaca dinginnya

“Mi Young” suara lembut seorang pria menyapanya dan saat gadis itu menoleh pria itu tengah berdiri didepan pintu kamarnya

“Kau tidak berangkat les piano?” Lee Donghae yang merupakan kakaknya itu menanyakan kegiatan sabtu sore adiknya yang ia hafal betul. Wajar, karena dia adalah orang yang selalu mengantar-jemput adik satu-satunya itu kemanapun ia pergi. Bisa dikatakan seperti supir, supir pribadi yang tampannya tidak ketulungan.

“Tidak, kecuali kalau hujannya berhenti” gadis itu kembali menatap keluar. Seluruh kota jadi berwarna putih karena derasnya hujan,, dia tersenyum lagi

“Kau bisa terlambat nanti”

“Tidak akan, lesnya akan di tunda jika hujan sedang deras. Guru Kang sangat benci keluar rumah dan dikena hujan jadi dia tidak akan mengajar”

“Ya, hanya kau yang sangat menyukai hujan. Kau gadis aneh…” desis Donghae kemudian berlalu

“cih,” gadis itu hanya mencibir. Semua orang mengatakan ia aneh karena menyukai hujan. Apa yang salah dengan menyukai hujan? Dia bukan sesuatu yang buruk.

-$$$$-

Sunset, salah satu kejadian alam yang paling indah. Matahari berwarna jingga orange terang, membias dan membuat seluruh langit ikut berwarna yang sama dengannya tapi sayangnya itu tidak terjadi dalam waktu yang lama. Hanya beberapa jam saja dan setelahnya akan digantikan oleh kabut malam yang berwarna hitam gelap

Banyak orang yang menyukai sunset karena keindahannya. Memang sunset selalu indah, maka tak heran banyak orang yang menyukainya, banyak orang yang keluar rumah disore hari hanya untuk melihat sunset, banyak juga orang yang menghabiskan waktu untuk nongkrong dengan kerabat dan orang-orang terdekat diwaktu senja dan melihat sunset, itu karena sunset itu indah apalagi setelah matahari terbenam senja akan muncul; membuat langit menjadi coklat kemerahan karena cahayanya. Bagaimanapun, Sunset & Senja adalah dua hal menarik & yang paling indah di dunia saat sore hari.

Dan pria ini salah satunya, dia salah satu dari sekian juta orang yang begitu menyukai sunset & senja. Menurutnya kejadian itu alami, ketika senja mulai membias dia merasa hangat, senja itu… inspirasi alam yang tiada batas; tidak mengatakan apapun tapi orang tau keindahannya; dia tidak berwujud tapi orang tau kehadirannya selalu membawa senyuman. Entah mau di deskripsikan seperti apa, tetap saja baginya senja selalu istimewa, Kim Ryewook

Dia duduk di sebuah taman kecil nan indah yang terletak dipinggiran laut, matahari masih terik dan terasa hangat sekali tapi angin laut yang menerpanya membuat dia merasa lebih sejuk. Taman disekelilingnya juga, begitu indah membuat otak kita yang tegang bisa relaks seketika, dia duduk dengan tenang – menunggu senja; tinggal beberapa menit lagi

Kertas kartun yang tadinya berwarna putih sudah mulai ternoda, sedikit demi sedikit garis-garis mulai mencoret-coret tidak jelas diatas permukaannya. Perlahan-lahan mulai terlihat apa yang akan terbentuk diatas kertas itu… tangan lihai itu mulai lagi mengganti pensilnya dengan yang lebih berwarna, bergantian sampai benar-benar terlihat mirip dengan apa yang ada didepannya,

Pemandangan sunset di tepi laut!

Ryewook berhasil melukisnya walau hanya dalam hitungan kurang dari 1 jam dan hasilnya benar-benar mirip. Dia memang tidak pernah belajar melukis tapi dia sangat pandai dalam menduplikat apa yang ia lihat kedalam kertas kartun putihnya, bakat alamiah yang ia sendiri tak tau kapan muncul. Yang jelas, sekarang dia menikmati itu
Dia baru membubuhkan beberapa warna lagi agar gambarnya benar-benar terlihat mirip tapi cuaca tiba-tiba saja mendung dan sebutir air bening menjatuhi gambarnya yang langsung meleburkan warnanya

“Oh, shitt… it’s rain” desisnya berdiri dan menutup buku gambar serta mengambil pensil-pensil berwarnanya dan ia masukkan kedalam tas. Dia berlari kecil menjauh dari taman itu mencari tempat berlindung

Hujan semakin deras, mengguyur kota Seoul dan sekitarnya dan Ryewook harus mengakui dia membenci ini. Bajunya sudah mulai basah ketika ia menemukan emperan toko yang sunyi dan ada atap berlebih yang bisa menampung dirinya – Dia segera bergegas kesana.

Seoul memang sedang dilanda musim penghujan saat ini jadi, tidak heran hujan bisa turun kapan saja dan dimana saja, bahkan ditempat dan waktu yang tidak kita duga.

“Woofff” Ryewook menarik nafasnya dalam, merapikan rambutnya yang sudah basah. Rambut kerennya berantakan lagi,

Sudah lebih sejam Ryewook menunggu hujan berhenti tapi sampai sekarang belum juga mereda sedangkan sebentar lagi malam, dia ada kegiatan malam ini. Tidak boleh telat dan tidak pernah… haruskah sekarang dia telat hanya karena air ini?

Dia mendesis lagi, seandainya dia bisa memohon untuk kali ini mungkin dia akan memohon agar dia bisa diberi sedikit ruang agar bisa sampai dirumah. Bisakah? Hujan juga bukan benda yang bisa dia lempar untuk melampiaskan kekesalannya. Ryewook menatap lagi ujung langit didepannya

Masih mendung & bahkan makin gelap,

Ryewook mengeluarkan ponselnya dan dia mengobrol sebentar

“Batalkan saja acara malam ini aku tidak bisa datang” dia kemudian diam sebentar

“Pokoknya batalkan saja, aku tidak ingin keluar rumah disaat hujan deras seperti ini. Aku benci hujan, kau tau itu kan?” dia menutup telponnya dan terlihat kesal

Ryewook mulai terdiam lagi, menunggu memang satu-satunya cara yang bisa ia lakukan sekarang
Bunyi handpone orang disampingnya membuat Ryewook mengalihkan pandangannya tapi cuman sekilas dan dia kembali menunggu

“Kau dimana? Biar kujemput”

“Tidak jauh dari toko buku, tapi disini sedang hujan deras” jawab gadis itu

“Heol, kau pasti sangat menikmatinya…”

“Tidak juga, disini dingin. Aku lebih menyukainya jika melihat hujan dari balik jendela kamarku”

“Kalau begitu kau pulang sekarang”

“Kau gila…?” suara Mi Young meninggi dan dia menyadari pria disebelahnya sedang menatapnya. Dia tersenyum kikuk, dan melanjutkan lagi obrolannya “Oppa… jemput aku begitu eomma pulang ne? anyong…” dan sambungan telponnya terputus.

Mereka berdua menunggu,

Ryewook memasang muka malasnya sedang gadis disampingnya tetap berdiri dengan sabar dan sesekali tersenyum riang begitu butir-butir air hujan menyentuh tangannya yang ia julurkan kebawah ujung atap
Ini sudah lebih dari 2 jam,

“Kau menyukai hujan?” Ryewook mengeluarkan suaranya. Ingin menghidupkan suasana yang beku ini, di sini hanya ada mereka berdua setidaknya untuk mencari selingan agar tidak bosan menunggu

“Begitulah,”jawab Mi Young, menyipitkan kedua matanya “Dan sepertinya kau membenci hujan”

“Kau gadis aneh. Tidak ada orang yang menyukai hujan. Hujan membuat kegiatan kita terbengkalai dan hujan membuat kita menunggu, seperti sekarang”

“Aku sudah sering mendengar itu” Mi Young membalas santai

“Lalu…?”

Mi Young terdiam sebentar, kemudian berdehem kecil “Tidak ada alasan bagiku untuk membenci sesuatu hanya karena pandangan orang-orang yang rata-rata negative terhadapnya. Aku menyukai hujan karena alasanku sendiri & aku tidak akan membencinya karena alasan orang lain”

Ryewook tersenyum “Kau hebat…”

“Apanya?”

“Prinsipmu… sepertinya kau orang yang berpendirian tegas”

“Tidak juga, hanya… kadang-kadang” gadis itu tersenyum lagi terlihat dari matanya yang sudah tidak Nampak

“Sh, kau benar-benar aneh…” gumam Ryewook

“Terimakasih” Mi Young kembali membalas

“Untuk apa?”

“Sudah mengatakan pendapatmu tentangku” Ryewook tertawa kecil “Sejujurnya, aku… memang sedikit aneh” lanjut Mi Young mengakui

“Aku tau”

Hujan mulai mereda dan disaat itu sebuah sedan hitam berhenti didepan mereka berdua. “Mian, apa kau menunggu lama?” Eunhyuk menyapa dari balik kaca mobilnya

“Tidak juga, hanya lebih dari 3 jam” balas Ryewook menyindir

“Mianhe,,, tadi dijalan juga macet karena kabut begitu tebal” Eunhyuk membuka pintu mobil disampingnya dan Ryewook bergegas

“Kau tidak ikut?” Tanya Ryewook menatap Mi Young sebentar

“Terimakasih, tapi Oppaku sebentar lagi akan datang menjemputku” dia tersenyum lagi

“Baiklah… klu begitu aku duluan”

-$$$$-

“Mian… eomma baru saja pulang” sahut Donghae tersenyum manis, menatap gadis didepannya yang sedang berdiri sambil memeluk dirinya sendiri. Dia pasti sangat kedinginan, hujn belum sepenuhnya berhenti… masih lumayan deras

“Hah, seharusnya aku meminta mobil sendiri agar tidak perlu menunggu selama ini” balas Mi Young memasang Seatbelt nya

“Sampaikan saja keinginanmu di meeting family akhir pekan nanti” balas Donghae sambil menyelimuti Mi Young. Dia sepertinya sudah menebak nasib adiknya jadi dia sengaja membawa selimut hangat untuk adiknya, oppa yang baik!

“Aku tidak yakin ide ku akan diterima oleh DEWAN DIREKSI”

Donghae tersenyum, “Siapkan saja proposalmu, mungkin saja bisa dipertimbangkan. Aku akan membantu menyusunnya asal kau siap presentasi”

“Heol,,, kau lupa kalau Presdir itu orang yang sangat teliti & perhitungan?”

“Hahaha, kau terlihat terintimidasi”

“Sudah sejak awal Donghae ah…” dan pria disampingnya tertawa lagi. Hubungan adik kakak yang sangat baik

-$$$$-

Sebuah majalah terjatuh diatas meja tepat dihadapan Ryewook ketika ia sedang memperbaiki Lukisan ‘senja’nya beberapa waktu lalu yang ia lihat dipinggir laut. Warnanya yang luntur akibat tetesan hujan ia poles kembali agar lebih menarik. Ryewook menatap ujung majalah itu tapi ia enggan berkomentar; melanjutkan kegiatannya

“Ada pameran lukisan akhir minggu ini di kampus, kau tidak ikut…?” Tanya Eunhyuk. Menyeruput jus jeruk yang baru ia ambil dari lemari pendingin dan duduk dihadapan Ryewook

“Aku tidak tertarik” balas Ryewook tanpa beralih

“Ada hadiahnya… kau tidak tertarik juga?” Eunhyuk agak memajukan wajahnya

“Berapa besar?”

Eunhyuk tertawa garing “Hahaha, sudah kuduga. Kau pura-pura polos tapi ternyata tergiur juga jika soal uang. Belum tau tapi yang kudengar, cukup untuk membayar SPP-mu selama 1 semester”

Ryewook berdehem “Lumayan”

“Jadi bagaimana, kau mau ikut…??”

“TIDAK…!!!” kata Ryewook tegas

“Yaks, kenapa tidak..???” Eunhyuk setengah berteriak. Wah, Ryewook benar-benar sangat susah dibujuk jika ia sudah menetapkan sesuatu dalam pikirannya

“Sudah kubilang aku tidak tertarik” Ryewook menutup buku gambarnya dan berjalan menuju kekamar dengan diikuti Eunhyuk dibelakang. Sibuk menceramahi dan kesal sendiri “Coba kau pikirkan lagi, ini adalah pekerjaan yang mudah. Kau hanya melukis dan setelah itu, selesai. Jika kau menang, uangnya buat kau juga…”

“Aku sudah punya pekerjaan”

“Tapi kau juga punya bakat yang hebat dalam melukis. Makanya ku saran kan kau untuk ikut lomba itu karena aku yakin kau pasti bisa menang. Bayangkan jika kau menang, kau akan mendapat tambahan uang, lukisanmu akan dipajang dipameran-pameran besar & kau akan terkenal jadi tidak perlu susah-susah lagi mencari uang. Bisa ku bayangkan jika suatu saat nanti kau sudah jadi pelukis terkenal, maka…”

BUK,

Eunhyuk berhenti bicara dan menarik handuk putih yang menempel dimukanya. Di ambilnya handuk itu dan menatap Ryewook – sedikit geram

“Bereskan, dan kita berangkat” Eunhyuk berdecak kesal, Kim Ryewook… bisa perlakukan aku seperti bukan pesuruhmu?

Terlambat untuk mengeluh sekarang, Ryewook sudah menunggunya dimobil!

-$$$$-

Bunyi tuts-tuts piano terdengar menggema keseluruh kafe yang tampak tenang. Suasana romantis sangat terasa karena ruangan yang hanya terlihat samar-samar akibat lampu yang dimatikan. Hanya beberapa balon kecil warna-warni yang terlihat menyala dan saling bertukar Antara satu dengan yang lain. Semua pengunjung kafe tampak duduk dengan tenang dan sibuk berbicara dengan orang-orang di depan mereka…

~Hm… Hoo~~~

Semua mata pengunjung beralih kearah panggung kecil kafe dimana seorang pria sedang menaikkan oktav vokalnya yang nyaring tanpa false sedikitpun dengan kedua tangan menyentuh tuts-tuts piano yang ada didepannya.

Pria itu melanjutkan lagunya, mengeluarkan kata demi kata dengan nada yang indah yang membuat orang menjadi nyaman mendengarnya, menjadi nyaman untuk duduk lebih lama lagi disana dan mendengar suaranya; Lagu bergenre slow happy menjadi pilihannya untuk menghibur pengunjung malam ini. Tidak lebih dari 10 menit dia menyanyi dan kemudian berhenti.

Tepuk tangan dari para pengunjung menjadi penutup penampilannya. Ryewook membungkuk sebentar kemudian turun dan langsung menghampiri Eunhyuk yang juga duduk disalah satu meja pengunjung

“Suaramu benar-benar hebat wookie-ah…”

“Aku tau” balasnya menyeruput jus Apple didepannya, Eunhyuk mencibir. “Mm… lomba lukisan bagaimana?” Dia belum juga menyerah

“Sudah kubilang aku tidak tertarik jadi jangan memaksaku…”

“Baiklah,,,”Eunhyuk tersenyum kecut. “Seandainya aku bisa melukis lebih bagus darimu aku pasti tidak akan memintamu untuk lombat itu,,, karena aku yang akan memenangkannya” Eunhyuk berbicara sendiri dengan suara yang sangat pelan,

“Kalau begitu, kau ikut saja sendiri”

Sial, ternyata Ryewook mendengarnya dan dia melempar senyum malu + terpaksa-nya. “Aku hanya bercanda Wookie-ah”

-$$$$-

“Mi Young…” suara nyaring Sunny membuat leher gadis itu berputar kebelakang. Dia baru keluar dari kelasnya dan mendapati gadis itu berlari kecil kearahnya “Mau pulang duluan lagi? Kau selalu meninggalkanku” Sunny terdengar protes.

“Memangnya kenapa? Mau ikut…???” Mi Young melanjutkan melangkah dengan diikuti Sunny

“Mau kemana? Apa ada sesuatu yang menarik lagi?” Mi Young berhenti sebentar lalu mengangkat novel keluaran terbaru-nya “Wow, kapan keluarnya?” Sunny berseru kegirangan

“2 hari yang lalu”

“Dan kau pergi sendiri? Curang…”

“Baiklah, jadi sekarang kau mau ikut??”

“Tentu saja…” Suara Sunny meninggi lagi, terdengar begitu nyaring sampai rasanya menusuk kedalam telinga. “Kajja..” Sunny menari lengan Mi Young dan berjalan beriringan

Suasana Glam (Kafe yang dilengkapi dengan perpustakaan) tampak tenang karena hanya ada beberapa orang saja disana dan dua gadis baru saja memasuki ruangan itu. Sunny yang memang sangat antusias berlari cepat menuju ruang perpustakaan – mencari novel kegemarannya sedangkan Mi Young memilih menuju kearah kasir lebih dulu dan Leeteuk yang notaband-nya adalah pemilik sekaligus kasir disitu langsung tersenyum ramah menyapanya

“Kenapa dia?” ujar Leeteuk memperhatikan Sunny yang telah menghilang dari balik rak buku

Mi Young mengangkat novel klasik yang baru dipinjamnya 2 hari yang lalu “Dia sudah ketinggalan 2 part” jawabnya

Leeteuk mengangguk. Dia tau betul betapa dua gadis ini sangat menggilai cerita-cerita fiksi apalagi klasik terbukti mereka tak pernah ketinggalan jika ada novel yang baru saja ia pajang dilemari perpustakaannya, Mi Young dan Sunny selalu menjadi gadis pertama yang meminjam atau langsung membacanya di tempat.

“Oh, pantas saja dia berlari secepat itu” Mi Young mengangguk “Ku pastikan dia akan menghabiskannya dalam waktu semalam” Leeteuk melanjutkan

“Kau tau, dia tidak pernah mau tertinggal dariku” Leeteuk tersenyum. “Oh, ya bagaimana kabar Donghae?” Leeteuk menanyakan kabar kakak Mi Young yang memang sahabatnya sejak SMA dan sampai sekarang pun mereka masih sering berhubungan

“Aku belum menghubunginya seharian ini”

“Eh, kenapa?”

“Tadi pagi dia membiarkan aku ke kampus naik Bus,,” Mi Young tampak cemberut

“Dan kau tidak menghubunginya hanya karena itu?”

“Aku akan menelfonnya jika aku membutuhkannya. Kau tau, mungkin beberapa jam lagi ketika aku pulang dari sini” Leeteuk tertawa ringan. “Kau benar-benar memperlakukan dia seperti supirmu Mi Young?”

“Hanya jabatan itu yang kosong dirumahku dan pantas ditempati olehnya” Leeteuk berseru “Wah, kau benar-benar… Beruntung kau mempunyai oppa seperti Donghae, dia sabar dan sangat menyayangimu jika itu aku, kupastikan akan membuatmu menunggu semalaman di tengah hujan deras”

“Dan aku akan mencari supir yang baru lagi,” Leeteuk makin tertawa. Dia tidak menyangka hubungan kakak-beradik yang ia kenal itu sampai seperti itu layaknya Bos dan Supir tapi ia tau betapa mereka berdua saling menyayangi dan melindungi satu sama lain

“Oppa, aku kesana dulu” Mi Young pamit dan menemui Sunny sedangkan Leeteuk kembali melayani para pengunjung yang baru berdatangan dengan ramah.

Sunny berjalan beriringan dengan Mi Young di trotoar jalan. Mereka baru keluar dari cafe glam – tempat dimana mereka biasa nongkrong untuk menghabiskan waktu dan dunia fantasi mereka itu – dan Sunny tiba-tiba saja berhenti,

“Mi Young, dengar ini” Sunny berhenti sebentar kemudian berdehem kecil dan melanjutkan kalimatnya “Keistimewaan Langit : Langit, sesuatu yang hanya bisa dilihat tapi tak bisa digapai, tak bisa disentuh. Kita hanya bisa melihat keindahannya dari sini. Langit dapat berubah warna, tanpa kita tau; dia bisa berubah menjadi sangat terang ketika siang hari, berubah menjadi jingga saat senja datang, dan menjadi sangat gelap ketika malam datang, saat pagi hari dia terlihat putih berkabut dan kadang buram ketika hujan akan turun. Intinya, langit selalu berubah-ubah diwaktu yang tidak kita tau entah karena pengaruh cuaca atau karena pengaruh alam…” Sunny berhenti kemudian memandang langit diatasnya

“Benar, sekarang pun sudah mulai gelap karena sebentar lagi malam datang. Dia benar-benar berubah sesuai hukum alam”

Mi Young tersenyum kecil “Memangnya kenapa?”

“Anio, aku hanya… sedikit tidak mengerti. Warna langit yang tadinya cerah ketika siang hari bisa saja berubah menjadi gelap seketika saat hujan akan turun. Semuanya terlihat kabur, langit tidak konsisten” Wajah Sunny masih cemberut

“Sunny ah, meskipun langit selalu berubah-ubah setiap saat dan tanpa kita tau aku harap kau tak pernah berubah sedikitpun. Kau tetap menjadi Sunny yang kukenal yang baik, ceria dan selalu cantik” Mi Young menggenggam tangan sahabatnya

“Anio, aku tidak akan berubah. Aku tidak akan menjadi seperti langit, aku ingin menjadi seperti bulan saja”

“Mengapa?”

“Karena meskipun tidak hadir setiap malam tapi dia selalu hadir di waktu dan tempat yang sama. Dia selalu tepat dan konsisten” Mi Young merangkul Sunny

“Jinja…???”

“Hm, kau hitung saja sendiri…” Mereka tertawa

-$$$$-

Tok.. Tok.. Tok..

Suara ketukan didepan pintu kamar Mi Young tak terelakkan, berkali-kali terdengar dan tidak berhenti. Terus menggedor pintu kayu berwarna putih itu

“Mi Young… Lee Mi Young…” Donghae ikut berteriak diiringi ayunan tangannya didepan pintu kamar Mi Young, mengetuk lagi

“Ya, tunggu sebentar…” Mi Young berlari secepat yang dia bisa kearah pintu dan membukanya

“Kenapa lama sek..” Donghae spontan  membalikkan tubuhnya membelakangi Mi Young yang menatapnya bingung. Maklum, sekarang Mi Young hanya memakai handuk putih sebatas dada dengan rambutnya yang masih berantakan dan basah. Bagaimanapun, Donghae adalah lelaki normal dan dia tidak seharusnya melihat ini

“Aish, kau pakai baju sana…” decaknya “Aku tunggu dibawah” dan dia turun kebawah meninggalkan Mi Young yang hampir tertawa melihat ekspresinya. Sungguh, benarkah oppanya punya pikiran seperti itu? ah, tidak mungkin

“Siapa suruh tidak sabaran” desis Mi Young menutup kembali pintu itu.

Tidak kurang dari 15 menit Mi Young sudah turun kebawah dengan dress biru pastel berpita dipinggangnya. Dia memakai tas selempang dengan rambut ia gerai lurus

“Aku sudah siap” serunya dan Donghae yang tadi nonton TV berdiri sembari meraih jacket kulitnya dan juga kunci mobil

Hari sabtu sore adalah hari less piano Mi Young. Belum lama, baru akan menjelang 3 bulan dia mengikuti less piano itu. Dia memang sangat menyukai musik tapi tak tau mengapa harus piano, ketika ditanya akan mengambil mata kuliah ekstra apa yang ada dibenaknya hanyalah piano; Dia sendiri tak tau mengapa memilih piano padahal dia tak bisa sama sekali memainkan alat musik itu tapi sekarang sudah mulai bisa bahkan Mi Young sering mengikuti lombat memainkan alat music dikampusnya dan prestasinya yang diraihnya tidaklah buruk.

Donghae sudah menghafal kegiatan rutin adiknya itu maka ia sudah bersiap sejak sejam yang lalu untuk menghantarkannya. Mi Young melepas seatbeltnya saat mobil itu berhenti tepat didepan gedung tempat ia less.

“Jam berapa pulang?” tanya Donghae

“Seperti biasa, jangan telat jemput aku ya?” jawab Mi Young mengambil tasnya di dasbor belakang

“Sh, kau benar-benar memperlakukan ku seperti supirmu Mi Young?”

“Mau apalagi, hanya itu yang belum kupunyai dan tepat buatmu”

Donghae tertawa ringan. Benarkah adiknya itu menganggapnya seperti itu? hanya supir? Dan tidak ada yang lain lagi? Tidak taukah dia betapa dia benar-benar sangat menyayangi Mi Young sampai rela dijadikan supir seperti sekarang

“Kalau begitu, anggap kau beruntung karena aku benar-benar menyayangimu sebagai adikku” Donghae menaikkan alisnya sebelah saat Mi Young menatapnya serius dan tajam. Dia tersenyum

Mi Young hampir saja menelan ludahnya karena baru menyadari betapa tampannya wajah Donghae jika dilihat dari dekat tapi berhubung mereka adalah saudara kandung, perasaan seperti itu tidak ada dan tidak akan pernah ada. Mi Young menatap serius tapi kemudian dia menjawab “Tapi, bagiku kau tetap saja supirr..” Mi Young terkekeh dan Donghae menjitak jidat Mi Young

“Ah, Oppa.. sakit” rengek Mi Young “Jangan mengeluh jika sebentar aku telat menjemputmu” Donghae menyalakan mesin mobilnya

“Yah, oppa.. aku hanya bercanda. Jangan begitu” Mi Young merayu.

“Kita lihat nanti…” Donghae menginjak gas mobilnya dan berlalu

Mi Young melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan less ketika beberapa temannya sudah lebih dulu sampai. Dia menyapa sebentar kemudian duduk di kursinya. Lebih dari 10 menit sudah tapi guru Kang belum datang. Mereka memilih menunggu untuk beberapa menit lagi mungkin saja guru Kang sedang ada kegiatan jadi terlambat walaupun biasanya ia tak pernah telat.

Belum beberapa detik dari arah pintu muncul sesosok yang mereka tunggu-tunggu. Bukan, dia bukan guru Kang yang biasanya mengajar mereka less piano melainkan seorang pemuda yang baru kali ini muncul, seorang pemuda dengan kemeja putih dan topi di kepalanya, memperlihatkan poninya yang rapi. Wajahnya tampan, kulitnya seputih susu, berbeda jauh sekali dengan guru Kang yang biasa mereka kenal. Apa dia anak guru Kang? atau siapa? semua bertanya-tanya tentang sosoknya kecuali Mi Young

Mi Young sudah mengenalinya sejak pertama kali ia masuk, dia~ pria yang Mi Young temui beberapa hari yang lalu, ditengah hujan deras dan menunggu. Benarkah dia? lalu apa yang dia lakukan disini? Mi Young memilih diam dan duduk saja

“Maaf, aku terlambat aku baru mendapat pemberitahuan beberapa menit yang lalu” dia membuka suara. Suaranya nyaring, seperti tak ada kesalahan dinadanya yang datar. Gadis-gadis disekitar Mi Young tampak sangat antusias memperhatikan pemuda itu, dia memang menarik. Sayangnya Mi Young baru menyadarinya tapi dia tidak tertarik

“Guru Kang hari ini tidak bisa mengajar karena ada kegiatan diluar kota jadi aku diminta menggantikannya, tidak apa-apakah?”

“Tentu saja…” serentak suara gadis-gadis berteriak. Mi Young tidak ikut, dia hanya diam dan memperhatikan saja di tempat duduknya “Oh, ya perkenalkan namaku Ryewook, Kim Ryewook” dia tersenyum dan gadis-gadis diruangannya saling berbisik lagi

Ah, sia-sia saja mengganti guru bahkan suasanya menjadi jauh berbeda sekali mereka memang tampak konsen daripada biasanya tapi lebih konsen kepada pembawa materinya bukan pada pelajarannya terbukti dari teman-temannya yang masih saja terus membicarakan guru barunya itu hingga keluar ruangan

Mi Young berjalan di koridor gedung yang cukup besar, dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat “Oppa, bisa jemput aku sekarang? Less-nya berakhir lebih cepat dari biasanya. Cepat datang, aku menunggumu” Lalu mencari nomor Donghae dan mengirimnya. Mi Young berdiri di tepi gedung dan menunggu

Langit berubah warna lagi, Mi Young menengadah keatas memperhatikan dan benar wajah langit terlihat cemberut jika saja di ibaratkan seperti manusia dia mungkin sedang sedih “Apa akan hujan lagi?” belum selesai dia berkata hujan benar-benar turun, menghempas dan berlomba jatuh tepat didepannya

Mi Young mundur beberapa langkah agar tidak basah. Donghae pasti akan telat menjemputnya jika begini
Ujung kaki Mi Young memukul-mukul tanah, dia juga menunduk melihat ujung butiran hujan yang menghempaskan percikan-percikan kecil. Ini sudah hampir 1 Jam dan hujan masih turun dengan derasnya

“Aish, jinja… Kenapa harus hujan sekarang?” dia mendesis dengan suara yang lebih keras

“Seseorang yang sangat menyukai hujan ternyata bisa juga sangat membencinya ketika dia telah menunggu terlalu lama” Mi Young sepertinya sangat kesal sampai tidak menyadari seseorang berdiri tidak jauh dari tempatnya dan ketika ia melirik, pria itu berdiri disana, sang guru baru

“Aku memang meyukai hujan tapi tidak dengan melihatnya dari sini” Mi Young maju beberapa langkah dan menadah tangannya, menunggu butiran-butiran hujan segera menyentuh telapak tangannya

“Dilihat darimanapun bukankah hujan selalu terlihat sama?”

“Bukannya begitu” dia menjawab lemah dan merasakan bulir-bulir hujan menyentuh tangannya

“Lalu?”

Mi Young diam sebentar “Ada yang tidak kau mengerti” masih dengan nada lemah tapi Ryewook masih bisa mendengarnya

“Mana yang tidak kumengerti?”

“Semuanya” Ucap Mi Young singkat. Begitu banyak orang yang tau betapa ia sangat menyukai hujan tapi tidak ada yang tau ia hanya akan paling menyukai hujan jika ia melihatnya dari jendela kamarnya. Entah mengapa, rasanya berbeda bagi Mi Young

Ryewook kemudian diam, orang yang sudah lama kau kenal pun ada bagian dimana kau tidak memahaminya apalagi gadis itu, baru dua kali dia temui itupun karena hujan. Ryewook kadang tidak mengerti, mereka selalu bertemu disaat hujan dan menunggu bersama. Apa artinya ini?

-$$$$-

Mi Young segera berlari kearah jendela kamarnya dan menyibak horden pink disana “Ah, sudah terlihat” desahnya tapi dia tetap berdiri, menatap dari balik jendela kaca. Hujan belum berhenti sepenuhnya masih turun meskipun tidak sederas tadi.

Donghae menghampiri adiknya dengan segelas teh hangat ditangannya “Mian, aku telat menjemputmu bukan karena benar-benar ingin membuktikan kata-kataku siang tadi” Donghae tampak menyesal

“Tidak apa-apa, aku hanya sering ketinggalan belakangan ini”

“Mi Young ah, sebenarnya apa yang begitu istimewa dari hujan? Mengapa kau begitu menyukainya?” Donghae akhirnya melontarkan pertanyaan itu, pertanyaan yang sudah lama ingin sekali ia tanyakan tapi tak pernah mendapat respon yang tepat. selalu kalimat ‘Kau tidak akan tau rasanya jika kau tidak pernah menyukai sesuatu’
Mungkin sekarang kalimat itupun yang akan ia dengar,

“Entahlah, setiap kali hujan bagiku selalu ada sesuatu yang istimewa yang ingin ia sampaikan”

“Benarkah? seperti apa hujan bagimu?”

“Peneduh, aku selalu merasa nyaman ketika hujan turun” Mi Young duduk ditepi ranjangnya tanpa melepas pandangan dari arah jendela

“Aku tidak pernah tau sedalam itu makna hujan bagimu” Donghae mencoba mengerti kesukaan adiknya meskipun ia sendiri belum paham. Segala sesuatu, kau akan memahaminya jika kau mencoba

“Musim hujan tidak lama lagi dan aku terlalu banyak melewatkannya…” Mi Young menggumam lemah dan menyandarkan kepalanya dibahu Donghae yang duduk disampingnya

“Meskipun hujan tidak turun lagi, aku akan berusah menjadi peneduhmu”

“Gomawo Oppa…”

-$$$$-

Sunny menarik lengan Mi Young dan membawanya; melewati koridor gedung kampusnya yang tampak luas dan panjang. Mi Young sejak tadi bertanya ingin kemana tapi gadis itu tak menjawabnya melainkan terus menarik lengan Mi Young dan membawanya, entah kemana; Mi Young hanya mengikuti saja

“Sampai,” Seru Sunny melepaskan tangan Mi Young saat mereka tepat berada didepan gedung aula. Mi Young memperhatikan sekeliling kemudian mengerutkan keningnya

“Untuk apa kita kesini?” Mi Young belum mengerti

“Kau belum tau?” Mi Young menggeleng. Tentu saja, sejak tadi Sunny terus menarik lengannya untuk ikut kemana gadis itu akan membawanya; hanya itu yang Mi Young tau

“Kau pernah dengar bahwa kampus kita mengadakan lomba melukis?” Mi Young mengangguk. Ia pernah dengar berita ini sekitar seminggu yang lalu

“Kemarin sudah diumumkan pemenangnya dan hari ini lukisan-lukisan mereka dipajang”

“Jadi maksudmu, kau mengajakku kesini untuk melihat lukisan-lukisan itu?” Sunny mengangguk

“Kenapa? tidak mau?” tanya Sunny begitu melihat ekspresi Mi Young yang hanya diam. “Tidak, aku suka”

“Kalau begitu ayo masuk…” Sunny menarik lengannya lagi

Sunny dan Mi Young memperhatikan beberapa lukisan yang terpajang di dinding. Ruangan aula kini tampak berbeda, jika biasanya ada beberapa buah kursi ditengah-tengah yang disusun rapi sekarang semua kursi-kursi itu menghilang entah kemana yang ada hanya ruangan kosong dengan dinding yang dipenuhi oleh beberapa buah lukisan

Sunny sesekali menggumam ‘wow’ melihat beberapa buah lukisan yang menurutnya bagus; salah – Semua lukisan disitu bagus-bagus karena yang dipajang adalah lukisan-lukisan yang sudah melalui penilaian oleh beberapa seniman dikampus mereka

“Yang dipajang disini semua adalah lukisan yang dianggap bagus kan?”

“Mm… 10 besar dan benar, semua sangat indah Mi Young ah” Sunny berdecak kagum.

Mereka bergeser lagi, kelukisan berikutnya 1 per 1 mereka perhatikan hingga sampai pada sebuah lukisan tangan dengan coretan pensil dan warna seadanya, tidak berlebihan tapi lumayan indah. Pemandangan sunset di tepi laut yang sangat indah disertai beberapa rintik hujan; Mi Young menaikkan keningnya

Dia melirik kekanan – Lukisan berikutnya; Seorang gadis yang berteduh dibawah atap rumah kecil di tengah hujan deras dan tangannya menengadah, membiarkan bulir-bulir hujan menyentuhnya; Gadis itu tersenyum senang

Mi Young berpikir sebentar, Tunggu.. dia seperti mengenal kejadian ini. Dia merasa seperti pernah berada dalam kejadian ini tapi dimana? Mi Young masih mencoba mengingat dan melihat lukisan disebelahnya lagi dimana seorang gadis yang sedang menunggu hujan dengan murung. Dia tertunduk lesu dan jauh sekali dengan gambar sebelumnya yang sangat ceria

“Lukisan-lukisan ini seperti sebuah cerita, saling terhubung satu sama lain” seru Sunny memperhatikan ke-3 lukisan tersebut. Mi Young hanya diam

“Sepertinya gadis yang ada didalam adalah gadis yang sama” lanjut Sunny lagi dan Mi Young masih diam, dia kini ingat kejadiannya. Semuanya, sang guru baru, dirinya dan hujan.

“Sudah kubilang aku tidak tertarik ikut perlombaan itu, mengapa kau mengirimkan karyaku tanpa seizin dariku?” Ryewook setengah berteriak, dia kesal dan marah mengetahui semua lukisan yang adalah koleksi pribadinya dikirimkan secara diam-diam oleh Eunhyuk kepada panitia lomba.

Mi Young dan Sunny pun ikut menoleh mendengar suara Ryewook yang begitu nyaring dan menggema diseluruh ruangan aula. Ryewook terdiam begitu melihat Mi Young, berdiri dengan diam tepat didepan semua lukisannya. Dia antara malu dan ingin segera menghilang karena ketahuan menjadikan gadis itu objek untuk memenuhi kanvas putihnya.

“Mi Young…” Eunhyuk menyapa, mengalihkan pembicaraan antara dirinya dengan Ryewook

“Ne,” gadis itu bersuara sebisanya

“Kau kuliah disini?” Eunhyuk menghampiri dan gadis itu mengangguk. “Yah, kenapa aku tidak tau? Donghae.. bagaimana kabarnya?”

“Baik-baik saja…” Mi Young menjawab pelan “Mm.. Oppa aku duluan, anyong”  kemudian menarik lengan Sunny dan segera pergi dari ruangan aula. Dia terkejut, sungguh! ini semua diluar dugaannya.

-$$$$-

“Kau mengenalnya?”

“Siapa?”

“Gadis itu!”

“Gadis? yang mana?” Eunhyuk memutar matanya

“Di aula”

“Oh, ya.. dia adik temanku” balas Eunhyuk

“Oh,” Ryewook terdiam. Dia kembali duduk dengan tenang dan menatap jalan yang mereka lewati membiarkan Eunhyuk mengemudikan benda bernama mobil itu

“Tentang lukisan itu… aku minta maaf” nada suara Eunhyuk terdengar menyesal

“Sudahlah, lupakan…” Ryewook memangku kepalanya dengan tangan kanan bersandar di tepi kaca mobil

-$$$$-

2 Bulan Kemudian…

Ryewook menatap bayangan dirinya didepan, sambil merapikan kemeja putih yang baru ia pakai

“Mr. Kim sudah menunggu” Eunhyuk menghampiri. Ryewook hanya mengangguk dan tidak lama kemudian ia keluar

“Terimakasih Mr. Kim” Ryewook tersenyum dan saling berjabat tangan. Pertemuannya dengan salah satu kolektor lukisan terkenal di Korea berjalan sukses. Ia segera mengganti pakaiannya dengan kaos casual dan celana jeans

“Dia benar-benar menyukai semua lukisanmu” Eunhyuk memuji dan Ryewook membalasnya dengan tersenyum

“Aku tidak menyangka kau akan seperti sekarang Wookie-ah, sekarang kau menjadi seniman termuda di Korea. Pelukis hebat…” Eunhyuk tersenyum senang sambil memuji. Ryewook bergegas kekamarnya dan mengganti baju

Kau tau, kadang menjadi terkenal itu tidak selalu hebat. Orang lain menganggap itu hebat tapi terkdang tidak bagi dirimu sendiri begitupula Ryewook. Dia orang yang dulunya biasa, apa adanya dan tak pernah melakukan hal-hal yang istimewa; ia hanya melakukan hal apapun yang ia sukai tapi sekarang semua terbalik. Bertemu klayen, berpakaian formal – Kemeja dengan setelan jas rapi, sepatu fantovel dan dasi yang hampir menggerogoti lehernya – itu membuatnya lelah dan dia akan sesegera mungkin melepaskan diri dari semua itu begitu urusannya selesai. Hanya kerjaan dan kepribadiannya, jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan

“Tapi, sampai sekarang aku masih tidak tau dimana lukisan-lukisanmu yang dulu dipajang di aula. Apa dibeli orang lain? Tapi siapa..?? mengapa sang pembeli tidak memberitahu jika memang menyukai lukisanmu? Dia mengambilnya begitu saja tanpa kita tahu. Itu namanya pencurian, sekalipun dia mengirimkan uang ke rekeningmu tetap saja, belum ada persetujuan darimu bahwa kau akan menjual lukisan-lukisan itu” Eunhyuk mencoba mengingat-ingat. Dia berdiri didepan pintu kamar Ryewook

“Apa… kita perlu lapor polisi untuk mencarinya?”

“Tidak perlu” Ryewook menjawab spontan. Ide Eunhyuk ini memang sangat berlebihan, melaporkan kepolisi hanya karena tidak tau siapa yang telah membeli lukisannya. Wajar sebenarnya tapi mengingat bahwa yang membeli semua lukisan itu adalah dirinya sendiri dengan menggunakan nama orang lain, itulah yang disebut berlebihan. Memenjarakan sang pelukis yang membeli lukisannya sendiri. Hukum macam apa itu?

“Kenapa?”

“Tidak, hanya saja… aku terlalu sibuk untuk berurusan dengan para polisi” Eunhyuk hanya mengangguk. Ryewook hanya ingin menyimpan semua lukisan itu sebagai kenangan yang ingin dia ulangi sekali lagi dalam hidupnya walau itu tidak mungkin.

Setelah selesai, Ryewook mengambil tasnya dan buku gambar juga topi yang langsung ia letakkan diatas kepalanya, menyisakkan poni yang menyemburat keluar. Dia terlihat tampan

“Mau kemana?” Eunhyuk mengikuti arah langkah Ryewook

“Keluar sebentar…” teriaknya yang sudah samar-samar

-$$$-

Segelas ice mocca terletak tepat disamping kanan Ryewook, begitu dingin dan sangat menggugah selera jika diminum saat matahari masih bersinar terik seperti sekarang; gelas itu sudah mulai berembun dan menunggu sedotan selanjutnya.

Angin berhembus, menerpa wajah tampan Ryewook yang masih duduk ditepi laut sambil menikmati ice mocca-nya yang sekarang tinggal setengah. Sebentar lagi senja datang dan dia sangat bersemangat. Ah, sudah berapa lama ia tidak melukis senja…??? Sekarang saatnya, dia ingin melukisnya lagi. Pemandangan senja,,, pemandangan pertama yang membuat ia menjadi pelukis terkenal seperti sekarang, pemandangan pertama yang membuat ia bertemu dengan seseorang yang sangat menyukai hujan.

Tunggu, sudah berapa lama dia tidak bertemu dengan gadis itu? Sang gadis ‘Hujan’. Tersenyum dan murung karena hujan. Seperti sebuah takdir yang selalu membuat mereka menunggu oleh hujan tapi sekarang musim hujan sudah usai dan dia sudah lebih dari 2 bulan tidak bertemu dengannya. Apa mereka memang benar hanya bias bertemu saat hujan,,,???

Ryewook menarik nafasnya. Dia tiba-tiba ingin bertemu gadis itu setidaknya untuk mengatakan beberapa kata seperti ‘terimakasih’ dan juga ‘maaf’ mungkin

“Oh, senjanya sudah mulai” Seru Ryewook tersadar dan segera mengambil pensil serta buku gambarnya. Saatnya menggambar lagi…

-$$$-

“Cih, kau pikir aku anak kecil? Aku bisa pulang sendiri” gadis itu tertawa sendiri mendengar orang dari balik telpon genggam yang sekarang sedang menempel ditelinganya mengejek dirinya

“Sekarang sudah bukan musim hujan lagi jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku..”

“Yah, aku mengerti. Aku mungkin agak terlambat, tolong sampaikan pada eomma” Dia tersenyum lagi

“Yaks, Oppa…” Kali ini merengek “Arasseo, aku masih mampir ketoko buku. Sudah ya?” dia mematikan ponselnya kemudian keluar dengan 2 buah novel kecil ditangannya.

Tapi baru beberapa langkah Mi Young berhenti begitu melihat layar TV dari balik kaca. Berita tentang seorang seniman termuda di korea dengan lukisan-lukisan luar biasanya. Mi Young tiba-tiba teringat lagi kejadian 2 bulan yang lalu. Meskipun ia merasa jika dirinya-lah tokoh dalam lukisan itu tetap saja dia berusaha mengingkari itu. Di dunia ini ada begitu banyak sekali kesamaan dan mengakui bahwa itu adalah dirinya bukankah terlalu berlebihan. Lagipula, dia sudah tidak mungkin bisa bertemu dengan orang itu lagi, Mi Young melangkah lagi

Suasana sore hari yang cerah menyapanya – Hangat dan menyejukkan setelah beberapa bulan yang lalu diterpa oleh hujan yang membuat semua orang malas untuk beranjak dari rumah sekarang semua itu sudah usai. Mi Young sempat mengeluh awalnya tapi tetap dia tidak bisa merubah kejadian alam seperti ini. Meskipun dia tidak rela tapi dia tetap menikmatinya

Mi Young menuju kearah taman kecil pinggir laut yang tidak jauh dari toko buku Glam’s. Dia butuh tempat untuk membaca 2 buah novel yang baru ia pinjam itu, dia sudah tertinggal jauh dari Sunny, Mi Young bias menebak sekarang pasti Sunny tengah membaca chapter selanjutnya yang belum Mi Young sentuh sama sekali. Membaca novel tidak bisa langsung pada akhirnya jika tidak tau awalnya maka cerita tidak akan bermakna sama sekali

Mi Young memutuskan untuk duduk di kursi kecil tepi laut dengan sebuah pohon kecil disampingnya. Ada beberapa orang yang juga sedang sibuk bertengger disana, menanti senja; setidaknya dia juga akan pulang sampai senja selesai. Suasana ini begitu mendukung ia untuk mulai menjelajahi dunia fantasy-nya dan dia pun duduk dengan manis dan mulai membaca.

“Apa kau percaya, bahwa ada sebuah takdir yang dibawa setiap kali hujan turun?” Mi Young mengangkat kepalanya dan baru tersadar sekarang senja sudah mulai tenggelam. Orang yang barusan bersuara yang menyadarkannya. Mi Young melihat orang itu

“Entahlah… Aku tidak tau jika takdir dan hujan adalah dua hal yang saling berhubungan tapi,, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bukankah sudah ada jalannya…” Mi Young tidak terlalu peduli dan kembali menatap novelnya. Beberapa lembar lagi dan ini akan usai

“Segala sesuatu yang telah terjadi bahkan tanpa kita sadari seperti itukah ‘takdir’?” orang itu bertanya lagi

“Mungkin…” jawab Mi Young tanpa beralih

“Kalau begitu, Em apa kau percaya takdir?” orang itu bertanya lagi

“Maksudmu?”

“Mm,, 2 orang yang memang sudah ditakdirkan akankah mereka benar-benar bisa bertemu kembali setelah beberapa kejadian konyol dan kenyataan yang bahkan sulit untuk mereka bisa bertemu”

Mi Young menutup bukunya. Dia sudah selesai membaca seluruhnya dan sekarang dia ingin pulang tapi tidak baik mengabaikan orang yang bertanya. Setidaknya dia harus memberikan sedikit pendapatnya pada orang itu

“Aku tidak tau, aku tidak begitu percaya dengan takdir karena aku belum pernah mengalaminya yang jelas yang terjadi padaku tidak jauh berbeda dengan apa yang semestinya terjadi. Aku bertemu dengan orang-orang yang seharusnya kutemui dan aku tidak bertemu dengan orang-orang yang tidak seharusnya kutemui” diakhir kalimatnya Mi Young tersenyum dan mengambil tasnya. Sepertinya dia belum menyadari juga

“Lama tidak bertemu, Lee Mi Young ssie” langkah Mi Young terhenti dan kembali menatap orang yang masih berdiri di tempatnya semula. Dia membuka topi dan kacamata bulatnya kemudian tersenyum

“Kau…”

“Mm… Masih ingat denganku nona ‘Hujan’?” Ryewook tersenyum sedang Mi Young masih berdiri dengan terkejut sambil menatapnya

“Bagaimana mungkin…” desis Mi Young lemah

“Orang yang seharusnya tidak kau temui dan sekarang berada dihadapanmu bisa kukatakan ini sebagai ‘takdir’?” Mi Young tidak menjawab

Dia benar-benar tidak menyangka. Dulu, mereka selalu bertemu saat hujan dan menunggu bersama dan seiring bergantinya musim hujan yang telah pergi dia tidak pernah berpikir sekalipun untuk bisa bertemu lagi dengan pria itu – yang sekarang berdiri didepannya. Sekarang saat senja mereka bertemu bisakah ini disebut ‘takdir’?

“Aku tidak tau” dan Mi Young memutuskan untuk pergi saja. Dia benar-benar tidak menyangka ini. Semua terjadi diluar dugaannya. Berdiri lama-lama disini bisa membuat ia tak bisa menahan diri

“Hey, mana bisa kau pergi begitu saja. Kita baru bertemu setelah 2 bulan lebih berpisah” Ryewook menahan lengan Mi Young. Tidak, ini bukan takdir tapi suatu kesalahan

“Lalu?” Mi Young menatap dengan sedikit angkuh.

“Setidaknya tidak bisakah kita saling menyapa lebih lama?”

APA? Berhentilah berpura-pura. Mi Young tidak suka dipermainkan. Selama ini dia sudah berusaha menahannya tapi kali pria itu benar-benar memancingnya “Sayangnya aku tidak punya waktu untuk itu” Mi Young berjalan lagi

“Mi Young ah, setidaknya beri aku waktu untuk mengucapkan ‘terimakasih’ padamu” suara Ryewook melemah membuat Mi Young tak tega jika menghindar terus. Dia memutuskan untuk berhenti saja dan mendengar

Ryewook mendekat dan menatapnya “Terimakasih dan juga,,, maafkan aku” ucapnya memegang kedua bahu Mi Young. Gadis itu hanya menatap tidak mengerti. Ok, dia memang benar-benar tidak mengerti apapun sekarang jadi bisa beri dia waktu untuk berpikir sedikit agar bisa memahami semua ini?

“Terimakasih karena kau aku bisa menjadi seperti sekarang,,, karena melukis dirimu aku bisa mendapat gelar dan semua ini. Sekarang aku akan mengakui gadis yang ada dilukisanku beberapa waktu yang lalu, itu adalah dirimu…” Ryewook tertunduk “Aku tidak tau mengapa dirimu yang harus ada disana yang pasti setiap melihat hujan dengan dirimu aku seperti merasa kau dan hujan adalah satu tapi tetap mempunyai sisi yang berbeda dan inspirasi itu tiba-tiba saja datang dan memenuhi kertas putihku. Aku tidak sengaja…”

Mi Young masih terdiam, mencoba mencerna semuanya

“Dan Maafkan aku karena semua ini harus terjadi. Kau tidak tau apapun tapi aku melibatkanmu didalam cerita dan imajinasiku. Karya yang dikirim kekampus beberapa waktu lalu itu juga bukan aku tapi Eunhyuk yang mengirimnya. Kau kenal Eunhyuk kan?” Mi Young mengangguk. Yah, dia teman baik kakakku

“Dia yang melakukannya. Dia memaksaku mengikuti lomba itu tapi aku tidak mau dan dia mengirimkan semua lukisanku secara diam-diam tanpa aku tahu. Maaf, tolong maafkan aku” Ryewook menatap tulus

“Tapi., pertama-tama tolong lepaskan dulu ini” Mi Young melepaskan tangan Ryewook dari bahunya. “Jujur, aku tidak mengerti seluruh yang barusan yang kau katakan tapi tentang lukisan itu… aku harus bertanya mengapa harus aku? Mengapa bukan yang lain? Mengapa aku dan hujan-ku yang harus kau jadikan objek imajinasimu… Kau sering melukis senja, mengapa tidak senja saja yang kau bubuhkan dikanvasmu?”

“Karena aku baru bertemu dengan orang sepertimu, gadis penyuka hujan yang selalu tersenyum ketika ribuan air itu datang, menengadahkan tangan dan menatap langit. Kemudian semua inspirasi ku lenyap dan hanya itulah yang bisa kuingat…”

“Kalau begitu… berarti aku adalah model pertama yang kau lukis dan membuatmu sesukses sekarang. Bisa kukatakan demikian?” Mi Young tampak bercanda membuat urat ketegangan diwajah Ryewook perlahan menghilang

“Yah,” Ryewook mengangguk setelah beberapa detik diam. Mi Young tersenyum manis

“Jadi, maukah kau menjadi modelku sekali lagi?”

“Apa? Tidak…”

“Ayolah”

“TIDAK…”

“Ku bayar, bagaimana?”

“Mm… tidak, aku sibuk”

“Yah, Lee Mi Young”

“Ne, Kim Ryewook ssie”

“Tunggu aku…”

“Kejar aku…”

-END-

Yapz, FF gaje oneshoot prtamaku selesai. Ceritanya mungkin gak istimewa. Aku hanya berusaha menyampaikan bahwa setiap orang mempunyai sesuatu yang ia anggap istimewa yang bisa selalu menghiburnya. Meskipun sebagain orang menganggap itu aneh atau brlebihan tetap saja kita tidak bisa menyuruh orang tersebut melepaskan sesuatu yang ia sukai hanya karena takut di bilang ‘aneh’. Seperti halnya aku suka sama SJ dan FF, terserah jika orang mau menganggap ini aneh but aku menikmatinya..

THANKS ALL :d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s