That’s True Love ( Part 12 )

ttl12

Tittle              :  That’s True Love

Sub Tittle          : I’m Sorry

Cast                    : Kim Ryewook Super Junior

                                Tiffany Hwang SNSD

Support Cast    :  EunHyuk, Hyoyeon

                                      Kyuhyun, SeoHyun

                                      Siwon, Yoona

                                     Leeteuk, Taeyon

                                    DongHae, Jessica, Others

Author            :  Shin Eun Hwa

Genre             :  Romance, Family, Friendship, Musical

Rating            :  =

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Anyong hassimnika chingu dan readers.

Hah, hari ini panas bgt. dari pagi aja udah gerah hingga disiang ini. kyaknya pengen hujan deh tp ampe skrg ujannya blom turun-trun juga. *truz hubungannya ama ff apa thor? *iya yah… garuk kepala

“That’s True Love” gak terasa udah ampe part 12. di part ini ceritanya agak… Mm,, apa ya? susah ngejelasinnya. baca aja deh. smoga kalian suka^^

mungkin gak lama lagi akan ending. jadi, tetap setia baca ff-ku ya? eits, but don’t worry aku bakal buat ff baru lagi klu ini end.

harap kalian tidak meng-copy paste ff-ku ya? kalau kalian ingin baca, jagn lupa koment biar aku merasa ada yang menghargai dan menyukai karyaku ini.

ok, klu pengen lanjut coment… karena ini udah deket ending.

Happy readings… ^_^ .oOo.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Keadaan canggung kembali menyelimuti dua makhluk yang barusan saling memandang itu. Mereka terlihat salah tingkah dengan apa yang baru saja dialaminya. Tiffany langsung berdiri menuju pintu keluar begitu ia sudah tersadar dari lamunanya yang membawanya melayang-layang dengan dunianya sendiri.

“kau yakin akan menunggu supirmu?” tawar Ryewook ketika menghentikan mobilnya tepat didepan Tiffany berdiri. Ia sedikit menurunkan kaca Ferrari ungu-nya agar suaranya dapat didengar oleh orang yang ia ajak bicara.

“ne. Aku akan menunggunya” jawab Tiffany datar.

“baiklah. Aku sudah berbaik hati menawarkanmu tumpangan dan jika kau tetap bersikeras akan menunggu supirmu, terserah” Ryewook menginjak gas mobilnya sehingga melaju meninggalkan tubuh mungil Tiffany yang masih berdiri menantikan sosok yang ia harapkan segera datang dan membawa pergi dirinya

“selamat menunggu” teriak Ryewook sambil mendongakkan kepalanya kearah belakang yang membuat Tiffany kesal.

Matahari sudah mulai redup kini lampu lampu kecil dan besar sudah mulai menyala menggantikan matahari yang barusan pergi untuk menerangi kota SEOUL. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 sore dan seorang gadis tampak melangkahkan kakinya perlahan menyusuri trotoar kota Seoul masih dengan balutan seragam ditubuhnya.

“aish.. kemana dia? Awas saja jika sampai rumah akan kupecat dia” gumam Tiffany kesal. Sesekali kakinya menendang batu-batu kecil yang manghadang jalannya sebagai tempat pelampiasan emosi

“nona… jangan menendang batu-batu itu nanti kakimu sakit” terdengar suara dari dalam sebuah mobil yang membuat Tiffany terkejut.

“Oo.. kau belum pulang?” tanya Tiffany pada pemuda tersebut yang ternyata adalah Ryewook

“sudah tapi aku kembali lagi”

“waeyo?” tanya Tiffany penasaran

“hanya ingin memastikan kau sudah pulang atau belum dan dugaanku benar kau masih belum pulang bahkan berjalan ditrotoar dengan wajah lesu seperti anak ayam yang kehilangan induknya” ejek Ryewook

“yak! Kau masih mau mengejekku?” gerutu Fany kesal sembari mengeryutkan bibirnya. “anio. Apa kau merasa aku mengejekmu?” tanya Ryewook lagi. Tiffany langsung membuka sebuah pintu disamping Ryewook dan memasukkan badannya kedalam benda mati tersebut.

“cepatlah jalan. Aku sudah lelah seharian di IRINE. Antarkan aku pulang” kata Tiffany sambil menyandarkan kepalanya dikursi mobil tempat ia duduk

“baiklah nona. Untuk hari ini saja aku akan menjadi sopirmu. Apa kau yakin ingin langsung pulang?” Ryewook menatap Tiffany sambil tetap fokus dengan kemudinya.

“lalu, mau kemana lagi? Aku tidak punya tempat yang kutuju selain rumah” katanya lesu.  ia menggedong tangannya didada sambil memperlihatkan wajah lesunya

“ah, arasseo. Mm,,, aku punya sebuah tempat yang bagus untuk melepas penat apalagi seperti kau yang sedang patah hati siapa tau kau bisa menghilangkan rasa GALAU mu disana” tawar Ryewook

“yak.. sudah kubilang aku tidak sedang patah hati” kata Tiffany dengan suara yang agak tinggi bercampur kesal. Namja yang disampingnya kini benar-benar membuatnya kesal setengah mati

“yah, terserah padamu saja. Kau tidak sedang patah hati tapi raut wajahmu menunjukkan kalau kau sedang patah hati..” Ryewook tersenyum kecil melihat ekspressi kesal Tiffany. Tiffany hanya memberikan tatapan mautnya saja yang sukses membungkam mulut Ryewook diam seribu bahasa.

“ne baiklah” kata Ryewook kemudian fokus pada kemudinya.

Air mancur menjulang tinggi keangkasa membasahi sekitar taman yang masih terlihat ramai itu. Seketika kemudian air tersebut menghilang bagaikan disedot sesuatu dari dalam tanah dan sesaat kemudian, ia kembali muncul kembali dan membasahi anak-anak atau apa saja yang berada disekitarnya. Pemandangan yang sangat indah ditambah lagi disekitar tempat keluarnya air-air tersebut dihiasi dengan lampu warna warni yang membuatnya terlihat makin menawan terlebih ketika malam hari

“wow!” seru Tiffany begitu menyaksikan air mancur tersebut. Ia tersenyum senang karena ini pertama kalinya ia menyaksikan yang demikian. “ottoehke? Kau suka?” tanya Ryewook membuat gadis itu mengalihkan pandangan kearahnya

“ne. Sangat menghibur setidaknya usulmu kali ini bisa membuatku lebih baik. Awas saja tadi kalau tempatnya tidak sebagus yang kau bicarakan” kata Tiffany dengan nada sedikit mengancam

“sh.. tenang saja noona aku tau tempat yang sangat bagus untuk menyenangkan hati wanita” balas Ryewook dengan bangganya.

“mwo? Sepertinya kau sudah ahli dalam hal ini. Apa kau sering melakukannya untuk memikat para wanita mendekatimu?” Tiffany memandang Ryewook penuh selidik

“tentu saja tidak. Aku adalah orang yang sangat tidak pandai dalam hal wanita”

“lalu?”

“tadi itu… hanya untuk menghiburmu” kata Ryewook sambil tertawa kecil.

“ah, ne. Gomawo” kata Tiffany setelah beberapa saat tadi terdiam.

“untuk apa?” tanya Ryewook. “semuanya..” Tiffany tersenyum. Ryewookpun membalasnya

******

Donghae menunggu Tiffany di taman tempat ia dan Fany biasa bertemu. Cukup lama ia menanti hingga sosok yang itu menampakkan diri.

“Fany ah, boleh aku bicara sebentar?” tanya Donghae ketika Tiffany tepat berada didepannya

“tentu saja Oppa. Mau bicara apa?” kata Fany tanpa menoleh kearah Donghae

“jawabanmu padaku.. apa kau yakin itu tulus dari dalam hatimu?”

“ah, itu…” Tiffany terdiam

“Fany ah, semua yang kau dengar dari Seohyun itu tidak benar. Aku hanya bertemu dengan Jessica diparkiran dan kami mengobrol sebentar. Ah, lebih tepatnya berdebat kau tau bagaimana aku dengan dia kan kalau sudah bertemu?” jelas Donghae. Tiffany terdiam

“entahlah oppa… aku tidak tau harus mempercayai siapa!”

“maksudmu?”

“aku tidak menyuruhmu untuk menjelaskan ada apa antara kau dengan Jessica eonni. Itu adalah urusan kalian berdua. Entah benar kalian berkencan atau tidak, tapi yang pasti aku rasa kita tetap tidak bisa kita menjalin hubungan yang lebih dari teman denganmu Oppa..” Tiffany tertunduk

“aku menyukaimu bahkan jauh sebelum kau menyukaiku, aku sudah merasakan hal itu. Aku menyukaimu oppa sangat menyukaimu. Kau adalah orang pertama yang menyambutku dengan hangat disini, menjadi temanku, dan banyak membantuku. Aku tau mungkin rasaku padamu hanya sebatas rasa terimakasih namun aku tidak puas dengan itu maka aku membuatmu menyukaiku dan sekarang aku menolakmu. Mianhe oppa… aku tidak bermaksud untuk melukaimu hanya saja… aku rasa aku tidak pantas untukmu” lanjut Tiffany lagi. Ia kemudian pergi meninggalkan namja yang selalu menemaninya itu dengan perasaan perih.

“aku sudah sering melihatmu dengannya oppa… kau bahkan mengakui Jessica eonni sebagai pacarmu didepan mantan kekasihnya” Gumam Tiffany pelan sambil terus berjalan.

*****

Taeyon berjalan dengan tergesa-gesa menuju kekelasnya tampaknya hari ini ia agak telat datang sekolah. Dan ketika ia menaiki tangga hendak kekelasnya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Leeteuk yang barusan hendak turun kelantai bawah.

“kenapa buru-buru?” tegur Leeteuk

“bukan urusanmu!” kata Taeyon jutek. “kau ingat audisi kedua tinggal beberapa hari lagi? Kita akan lihat nanti siapa yang akan naik diatas panggung pada perayaan ulang tahun IRINE…” Leeteuk memasukkan kedua tangannya didalam kantung celananya.

“ne aku tau. Dan aku sudah siap untuk mengalahkanmu nanti..” kata Taeyon tegas

“kau begitu yakin nona Kim. Kau benar-benar tidak pernah berubah.. berpendirian tegas dan tidak mudah menyerah… sifatmu yang paling aku sukai dari dulu” kata Leeteuk lembut

“mwo?” Taeyon terkejut mendengar pernyataan dari Leeteuk. Ada rasa rindu pada sosok yang selalu melindunginya saat kecil dulu. Rasa yang sudah lama tak pernah ia rasakan setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Kini rasa itu mulai menyelimuti dirinya dan membuat Taeyon sedikit berubah menjadi gadis yang lembut didepan namja yang sangat ia benci itu.

“ah? Mm.. aku tidak seperti yang kau pikirkan. Kau terlalu berlebihan” balas Taeyon pelan. “Mianhe aku harus kekelas aku sudah telat pelajaran Kang songsaenim” kata Taeyon sembari berlalu meninggalkan Leeteuk

“dia tidak masuk. Jadi, kau tidak perlu khawatir” kata Leeteuk lagi yang membuat Taeyon kembali menoleh

“mwo?”

“ne. Aku tadi lewat didepan kelasmu dan kata Seohyun guru Kang tidak masuk jadi, tidak perlu terburu-buru. Jangan menaiki tangga sambil berlari nanti kau terpeleset” kata Leeteuk kemudian pergi. Tidak lupa ia berikan sebuah senyuman khasnya yang membuat Taeyon diam ditempat.

Taeyon memegang dadanya yang berdegup kencang kembali ketika bertemu Leeteuk. Kejadian 6 tahun yang lalu kini terulang kembali. Nampaknya ia harus mulai bisa mengendalikan diri jika bertemu kembali dengan namja tersebut takut-takut ia akan bertingkah konyol dan aneh didepan Leeteuk.

*****

“ottoehke? Jadi kan sebentar sore kita belajar kelompok? Jessica jangan lupa siapkan makanan yang banyak ya?” kata Taeyon begitu ia selesai merapikan buku-bukunya.

“ne eonni… beres!” kata Jessica sambil meletekkan tangannya diatas dahi sehingga membentuk seperti orang yang sedang hormat.

“ne. Sampai ketemu nanti sore. Aku duluan..” kata Taeyon sembari menggandeng tasnya.

Sore harinya…

“Mis. Ryu kunci mobilku dimana?” kata Tiffany sambil menuruni tangga rumahnya.

“nona mau kemana? Biar supir yang antar yah?” kata Mis. Ryu

“tidak usah. Dia sudah membuatku menunggu kemarin sampai akhirnya aku pulang malam” curhat Fany. “ah, itu.. aku minta maaf nona tiba-tiba saja mobil yang biasa dipakainya masuk kebengkel” jelas Mis. Ryu

“lalu, kenapa nomor nya tidak aktif? Setidaknya dia kan harus memberitahu aku agar tidak menunggunya. Kau tau? Selama ini aku tidak pernah menunggu seseorang apalagi itu menunggu supir. Harusnya mereka yang menungguku” gerutu Fany lagi

“ah, soal kemarin aku sungguh minta maaf nona aku tidak bermaksud untuk membuat nona menunggu. Tolong maafkan aku nona. Kau boleh menghukumku tapi tolong jangan pecat aku” kata sang sopir yang baru saja masuk dan mendengar pembicaraan antara Tiffany dengan miss. Ryu

“sudahlah! Lupakan saja. Untung saja kemarin suasana hatiku yang kesal sudah dibuat dingin oleh seseorang kalau tidak, kupastikan hari ini kau tidak bekerja lagi disini” Tiffany mengambil kunci mobilnya lalu pergi. “em.. 1 lagi jangan pernah membuatku menunggu lagi dan jangan pernah matikan ponselmu saat masih jam kerja. Untung saja semalam aku tidak diculik hm?”

“ne nona. Jongmal khamsahamida” sang supir menundukkan kepalanya.

Fany menjalankan mobilnya mengitari kota SEOUL sore itu. Tidak lupa penutup atas mobil ia buka agar angin bebas masuk dan bermain bebas bersama dirinya.

“heuh,, coba saja di L.A. aku sebebas ini pasti akan sangat menyenangkan” gumam Tiffany pelan

Taeyon duduk dihalte menunggu sebuah bus yang akan mengantarkannya kerumah Jessica untuk belajar kelompok.

“Oo.. itu bukannya Taeyon eonni?” kata Tiffany begitu ia melewati halte tempat Taeyon menunggu bus

“eonni… apa yang kau lakukan disini? Kau mau kemana?” Tiffany menurunkan kaca mobilnya.

“ah, Fany ah aku kira siapa. Aku mau kerumah Jessica kami ada janji belajar bersama sore ini dan aku sedang menunggu bus untuk kesana”

“oh..” Fany mengangguk “Em.. eonni.. ayo naik biar aku antar kerumah Jessica eonni”

“ah, tidak usah Fany ah aku akan menunggu busnya saja kau tidak perlu repot ayo, lanjutkan saja aktivitasmu”

“aish, eonni… aku tidak punya aktivitas apapun untuk dilakukan. Aku hanya jalan-jalan sore. Kajja eonni cepat naik aku antar kau kerumah Jessica. Yah, hitung-hitung aku juga sekalian jalan-jalan” Taeyon masih tak bergeming masih berdiri ditempat.

“ah, eonni.. kau lama sekali” Kata Tiffany. Ia langsung turun dan menarik tangan Taeyon hingga masuk kedalam sedan putihnya. “kajja eonni.. Em.. tapi aku tidak tau jalannya eonni.. kau bisa beritahu aku jalurnya kan?” tanya Fany menoleh kearah Taeyon.

“ah, ne. Baiklah…” Taeyon mengangguk. “kita berangkat..” teriak Fany sambil menginjak gas mobilnya.

Ponsel Taeyon tiba-tiba bergetar.

“ne?” sapa Taeyon. “mianhe eonni… aku harus menemani ayahku bertemu klient sore ini jadi tidak bisa ikut belajar” kata orang diseberang yang ternyata adalah Jessica.

“jinja? Jam berapa kau pergi? Apa tidak bisa selesai belajar dulu? Lalu.. kita harus belajar dirumah siapa?”

“molla eonni. Hari ini aku tidak bisa. Bagaimana kalau besok saja?” tawar Jessica. “baiklah, aku akan memberitahu yang lain” Taeyon mematikan ponselnya.

“wae eon? Ada masalah?” tanya Fany sambil tetap fokus dengan kemudinya.

“kami janji akan belajar dirumah Jessica hari ini tapi Jessica sedang ada acara dengan perusahaan ayahnya” jelas Taeyon lesu. “oh… jadi?”

“aku rasa hari ini kami tidak jadi belajar. Kami tunda besok saja”

“ah, kalau begitu kita jalan-jalan saja eonni. Ottoehke?” tanya Fany. “memangnya kau tidak ada kegiatan sore ini?”

“anio. Kegiatanku hanya mengitari kota SEOUL yang sangat indah ini apalagi disore hari seperti ini” Tiffany tersenyum.

“ah, baiklah…!!!” Taeyon menyetujui permintaan Tiffany. “gomawo eonni…kau sudah mau menemaniku,,, kata Tiffany sambil memeluk kecil kepala Taeyon yang ada disampingnya.

“yak.. perhatikan jalannya. Aku tidak mau kau sampai menabrak karena terlalu sibuk memelukku” Kata Taeyon yang membuat Tiffany kembali fokus pada jalan yang kini ada didepannya. “ne eonni. Arasseo! Hehehe” Tiffany terkekeh. Taeyon lalu mengetik pesan kepada para dongsaengnya yang lain bahwa mereka tidak jadi belajar bersama hari ini.

*****

-Taeyon Pov-

 Hari sudah berganti malam tak terasa waktu sudah berputar dengan cepatnya. Bumi mulai berotasi pada porosnya dan membuat waktu berpindah dari siang ke malam hari.

“ah… senangnya..” gumam Tiffany ketika kami jalan-jalan ditaman. Taman yang ditengahnya terdapat beberapa lubang mata air mancur yang bisa menyembur kapan saja dan siap membasahi setiap benda ataupun makhluk yang ada didekatnya. Kami berjalan agak jauh dari arah air mancur takut jika ia memancar keluar akan membasahi kami ditambah lagi sekarang sedang musim dingin, tanpa mandi saja kami sudah kedinginan apalagi jika harus dimandikan oleh air mancur itu. Kulihat ia meregangkan tangannya seolah ingin membiarkan angin berhamburan kepelukannya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyolnya yang seperti anak kecil.

“kau senang?” tanyaku padanya. Ia langsung menganggukan kepalanya sambil terus memperlihatkan –eye smile- nya itu.

“ne eonni… aku merasakan hal seperti ini hanya ketika sudah sampai di SEOUL. Ah.. aku merasa seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya” katanya malu

“waeyo? Memangnya di L.A. kau tidak pernah keluar?” tanyaku lagi dan kembali ia menganggukkan kepalanya.

“kenapa bisa?” aku menatapnya antusias menunggu setiap kata yang akan ia ucapkan nanti.

“entahlah eonni.. ibuku selalu melarangku keluar katanya ia khawatir akan terjadi sesuatu padaku” ceritanya yang membuat aku tersenyum kecil. “berarti kau diperlakukan seperti anak kecil, iya tidak?” aku kembali menatapnya. Kini kami duduk disebuah bangku kecil sambil memandang air mancur yang mulai keluar dari persembunyiannya dan mulai menyerang orang-orang yang berada disekitarnya

“entahlah.. aku mengerti kenapa ia melarangku begitu. Ini semua demi keselamatanku”

“maksudmu?” aku masih belum mengerti arah pembicaraanya dan berulang melontarkan pertanyaan agar membuat aku mengerti

“ibuku adalah seorang Menteri di L.A. jadi, banyak sekali saingan politiknya yang ingin menjatuhkannya dan salah satu caranya adalah dengan menggunakan aku. Jadi, ibuku tidak pernah membiarkanku keluar rumah kecuali kesekolah itupun jika kesekolah aku harus dikawal. Menyebalkan bukan eonni…?” ia menatapku dengan perasaan sedih.

“aku mengerti. Dan itu yang membuat kau sampai kesini kan? Gurom jigeum ottoehke? (jadi sekarang bagaimana?) kau sudah merasa bebas belum?” aku menatapnya. Ia mengangguk dan menyandarkan kepalanya dibahuku. Hm.. kasian sekali dia, ternyata hidupnya jauh menyedihkan daripada aku. Aku hanya membiarkannya menghilangkan stress-nya dan mengelus rambut halusnya.

“aku harus bekerja… tidak apa-apa kan kalau aku hanya bisa menemanimu sampai disini?” tanyaku begitu aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 09.00 malam.

“ne eonni. Kau bekerja dimana? Biar aku antar…” tawarnya. Aku ingin menolak tapi rasanya aku tidak ingin menolak niat tulusnya

“aku kerja dikafe. Mm.. baiklah, kau juga bisa mampir sebentar” tawarku. “ne eonni”

-Taeyon Pov end-

******

“eonni… ini tempat kerjamu? eonni bekerja sebagai apa disini?” tanya Fany begitu ia masuk kedalam kafe tempat Taeyon bekerja

“hanya menyanyi saja. Setelah itu,, pekerjaanku selesai”

“wah,, pekerjaan yang sesuai dengan bakat eonni. Jam berapa eonni akan tampil? Aku ingin melihat” seru Tiffany senang

“beberapa menit lagi. Kau tidak pulang? Kau tidak takut akan dicari oleh para pelayanmu?” tanya Taeyon khawatir

“tenang saja eonni. Ini Korea bukan L.A. Tidak ada yang tau aku anak Menteri disini jadi, mereka tidak perlu terlalu khawatir” Tiffany tersenyum. Taeyon merapikan pakaiannya dan bersiap-siap naik kepanggung. Tidak lama kemudian, datang salah seorang pengurus kafe dan telihat berbisik ditelinga Taeyon.

“jadi..??? bagaimana?” tanya Taeyon pada panitia tersebut. “molla.. sepertinya kau harus tampil sendiri malam ini”

“aish, tapi tetap saja” gerutu Taeyon kesal. “lagunya lagu slow mana mungkin aku harus tampil tanpa pengiring? Aku hanya bisa main gitar tapi lagunya tidak akan terdengar lebih menyentuh tanpa piano” lanjut Taeyon lagi dengan wajah khawatir.

“wae eonni..?? apa ada masalah?” Tanya Tiffany

“ah, anio saeng. Hanya saja pemain piano yang akan mengiringiku bernyanyi tidak bisa hadir malam ini” curhat Taeyon.

“jinja? Bagaimana bisa?”

“molla saeng. Sudahlah,, eonni tampil sendiri saja” kata Taeyon akhirnya kemudian naik keatas panggung. Tiffany langsung menghampiri sang panitia dan terlihat berbincang sebentar.

“ini dia penyanyi terbaik kita. Kim Taeyon…” kata suara sang MC yang menyambut Taeyon naik diatas panggung. Terdengar riuh suara tepuk tangan penonton kemana-mana. Taeyon menundukkan kepalanya memberi hormat.

Kemudian Taeyon mulai memetik senar gitarnya pelan dan mulai melantunkan tembang andalannya yang paling banyak digemari oleh pengunjung kafe tersebut.

Gibeun johun baramul ttara Nuni bushin jo haneurare
Areumdaun norreh hwa joun hyang giro gadeukkan nowa geud neung gil

Taeyon mulai melantunkan tembang andalannya itu walau hanya ditemani dengan sebuah gitar yang ada ditangannya.

Giokhani choum mannat deon oessekhago natson singgan deul
Soltougo oryot donan geujjumal obshi jikyeju nege gomawo…

Teng teng…. tiba-tiba terdengar suara piano mengiringi suara indah taeyon. Taeyon menoleh dan disana tampak ada Tiffany sedang menekan tuts-tuts piano. Tiffany menoleh dan melempar senyum kearah Taeyon seolah memberitahu Taeyon untuk terus melanjutkan lagunya.

Prak…prak…prak…

Semua tamu bertepuk tangan mengakhiri pertunjukkan Taeyon malam ini apalagi ditambah dengan kehadiran sang pianis dadakannya. Tiffany!

“kau bisa main piano?” tanya Taeyon pada Fany ketika mereka telah berada diluar panggung.

“sedikit. Hehehe” balas Tiffany. “gomawo…” kata Taeyon lagi. “ah, eonni… kau terlalu berlebihan. Aku hanya sekedar membantu mu. Eonni… suaramu indah, lagunya juga sangat bagus. Lihat saja semua penonton bertepuk tangan tadi begitu eonni selesai menyanyi” puji Tiffany

“ah, kau juga terlalu berlebihan” balas Taeyon.

“Mm.. lalu sekarang kita kemana?” tanya Tiffany. “aku mau pulang saja, aku tidak mau membiarkan eomma terlalu lama menunggu” jelas Taeyon

“Oo… jadi eonni tinggal dengan eomma eonni?” Taeyon mengangguk.

“hm,, baiklah kita pulang tapi sebelumnya kita ke supermarket dulu ne? Aku ingin membeli sesuatu” kata Fany. Taeyon hanya mengangguk menuruti perkataan Taeyon.

*****

“ne, hyung.. aku sudah dijalan” kata Donghae sambil terus menyetir mobilnya. Ia memasang alat pendengar agar memudahkannya berbicara dengan orang yang menghubunginya tanpa harus memegang ponsel yang akan membuatnya semakin kerepotan.

“jangan lupa beli snack ya…” teriak Eunhyuk di telepon Leeteuk

“aish, tidak mau! Kenapa tidak beli saja sendiri… aku bukan pembantumu” balas Donghae

“hey, hyung… jika kau tidak membelikanku snack, aku akan menangis seperti anak kecil dan berteriak bahwa Donghae hyung tidak memberikanku makan…” Eunhyuk berteriak yang membuat telinga Donghae kesakitan. “Aku juga akan memutuskanmu hyung… hiks hiks kau tidak mengerti diriku,, mana janjimu padaku yang katanya akan selalu ada untukku… kau sudah membuatku sakit hyung… aku rasa hubungan kita…” Eunhyuk berkata dengan mimik sedih yang sengaja ia buat-buat.

“ah, baiklah! Akan kubelikan. Sekarang, berhentilah berbicara kau membuat telingaku hampir pecah dengan semua ocehanmu itu..” kata Donghae kesal

“hehehe ok. Gomawo hyung, saranghae… mmuach,,”

“yak,, aku masih normal. Nan saranghae aniya (aku tidak mencintaimu)” balas Donghae

“hyung…” rengek Eunhyuk. Donghae langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Donghae sampai disupermarket. Ia berjalan-jalan mengelilingi supermarket tersebut sambil melihat-lihat tapi belum membeli satupun. Ia kemudian berkeliling sekali lagi namun keranjangnya masih kosong. Maklum saja ia belum pernah ke supermarket membeli sesuatu seperti ini sendiri biasanya juga pembantunya yang membeli semua kebutuhannya.

“aish, mau beli yang mana ya?” Donghae tampak berpikir. Akhirnya ia memasukkan semua jenis snack yang ia lihat kedalam keranjangnya hingga penuh. “apa ini cukup? Ah, bukankah terlalu banyak? Ah, lebih baik lebih daripada kurang” Donghae berbicara sendiri sambil terus memperhatikan keranjangnya.

“ah, snack ini belum ada” ia memasukkan lagi 1 jenis snack yang belum ada dalam keranjangnya walaupun keranjang tersebut sudah penuh.

“kau mau menyumbang kepanti asuhan?” tegur seorang yeoja pada Donghae. Donghae menoleh dan menemuka Jessica di belakangnya yang juga sedang berbelanja

“ah, tentu saja tidak” elak Donghae. “lalu… untuk apa kau membeli snack sebanyak ini?” tanya Jessica sambil memperhatikan keranjang Donghae yang sudah penuh dengan snack itu.

“ah, ini… Mm,,,” Donghae terdiam. Jessica terus memperhatikan Donghae menantikannya melanjutkan kalimatnya agar tak menggantung

“begini. Aku hendak kerumah Leeteuk hyung tapi mereka menyuruhku membeli snack untuk dimakan disana. Aku belum pernah kesupermarket dan belanja seperti ini jadi, aku tidak tau mana yang harus kubeli dan mana yang tidak makanya aku mengambil semuanya” jelas Donghae yang sukses membuat Jessica tertawa terbahak-bahak

“yak.. kenapa tertawa? Kau pikir ini lucu?”

“tentu saja lucu. Anak kecil saja tau mana yang harus ia beli untuk ia makan dan mana yang tidak tapi kau tidak tau sama sekali? Hahahaha” Jessica melanjutkan tawanya

“yak.. berhentilah tertawa. Kau membuatku malu didepan semua orang” kata Donghae sambil memperhatikan beberapa mata menuju kerahnya dan Jessica seolah ingin mengetahui apa yang membuat Jessica sampai tertawa sebegitunya.

“Mm.. aku juga ingin belanja beberapa kebutuhan. Mau ku temani kau untuk memilih snack-mu itu?” tawar Jessica yang akhirnya membuat Donghae setuju.

Taeyon dan Tiffany membuka pintu supermarket. “kau mau beli apa?” tanya Taeyon sambil mengikuti Tiffany dari belakang.

“snack kesukaanku eonni” kata Tiffany sambil memperlihatkan benda yang ia maksud. Taeyon dan Tiffany hendak pergi dan mereka berpapasan dengan Donghae dan Jessica yang terlihat tertawa bersama

“eonni…? Fany-ah…” kata Jessica dan Donghae bersamaan begitu melihat dua sosok yeoja yang kini berdiri di depan mereka.

“apa ini? Kemarin kau menolak mati-matian saat kita membicarakan ini tapi ini apa?” tanya Taeyon

“eonni… kau salah paham. Ini tidak seperti yang kau kira, aku dan dia hanya kebetulan bertemu dan belanja bersama” Jelas Jessica.

“terserahlah! Aku tidak tau harus percaya yang mana sekarang. Penglihatanku atau penjelasan dari dongsaengku yang selama ini tidak pernah membohongiku… fany, kita pulang” kata Taeyon sambil menarik tangan gadis itu.

*****

Donghae sampai di rumah Leeteuk dan langsung melemparkan bingkisan yang berisi snack yang tadi ia beli di wajah Eunhyuk. Ia lalu merebahkan dirinya di sofa.

“hyung, wae gureoyo? (ada apa?)” tanya Kyuhyun begitu melihat raut wajah hyungnya ini berubah.

“Hyung..” Donghae memandang wajah Leeteuk. “boleh aku tau ada masalah apa antara kau dan Taeyon eonni..?” pertanyaan Donghae membuat Leeteuk terkejut. Semua mata kini memandang kearahnya dan menghentikan aktivitas mereka

“apa maksudmu?” tanya Leeteuk. “kenapa Taeyon eonni sangat membenciku? Dia bahkan merasa sangat tidak suka padaku. Entahlah! Apa itu juga berlaku pada member FB lainnya tapi aku selalu merasakan perubahan sikapnya setiap kali bertemu denganku” jelas Donghae

“ne. Dia juga seperti itu padaku” tambah Eunhyuk. Kini ruang tamu Leeteuk mulai sunyi senyap dan keadaan mulai cukup serius

“Hyung, mianhe aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu dengannya hanya saja aku merasa tertekan dengan semua ini. Aku juga namja yang normal yang ingin bisa dekat dan berteman dengan yeoja-yeoja di IRINE termasuk dengan dongsaeng-dongsaeng Taeyon eonni (Yoona, Jessica, Hyoyeon, Seohyun, dan sekarang Tiffany udah masuk). Tapi sepertinya itu tidak bisa terlaksana jika kau dan Taeyon eonni masih menyimpan dendam satu sama lain. Bisakah urusan kalian tidak disangkut pautkan dengan kami? Kami akan membantumu mengikuti audisi dan memenangkannya tapi kami tidak bisa terus mengikutimu untuk membenci mereka juga…” kata Donghae lagi

“ne hyung, kau tau kapan saat yang paling bahagia dalam hidupku?” tanya Eunhyuk yang membuat Leeteuk menggelengkan kepalanya.

“saat aku bertemu lagi dengan orang yang ku impikan selama ini. Aku baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Anio! Sebenarnya sudah lama aku mengenalnya tapi aku baru tau kalau dia adalah orang yang paling ingin kutemui beberapa hari yang lalu. Aku sangat bahagia begitu mengetahui dirinya begitu juga sebaliknya. Kami saling melepas rindu tapi sekarang sifatnya sudah berubah kembali padaku seperti semula. Dingin!e Aku tau ini pasti karena ia tak ingin dicap sebagai penghianat oleh Taeyon eonni” curhat Eunhyuk

“maksudmu… Hyoyeon eonni?” tebak Kyuhyun yang membuat Eunhyuk mengangguk.

“mianhata. Maaf jika aku melibatkan kalian dalam masalahku aku tidak bermaksud untuk menyeret kalian hanya saja aku rasa semuanya sudah terlanjur. Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kalian dengan para yeoja-yeoja itu” kata Leeteuk dengan wajah menyesal

“hyung… yang perlu diperbaiki itu hubunganmu dengan Taeyon eonni. Bukan hubungan kami dengan yeoja-yeoja yang kami maksud. Kami juga akan sangat senang jika melihat hubungan kalian bisa lebih baik daripada beberapa tahun terakhir ini. Kami tau kau juga sangat terluka karena ini kan?” tanya Ryewook. Semua member FB mengangguk menyetujui perkataannya

“ne, mianhata. Karena aku kalian jadi seperti ini” kata Leeteuk masih dengan nada penyesalan.

“sudahlah, ini bukan salahmu hyung. Kita semua juga akan membantumu memperbaikinya” kata Siwon. Semua member FB tersenyum termasuk Leeteuk.

*****

-Taeyon Pov-

“seohyun mana?” tanyaku pada Yoona begitu sampai ke kelas. Biasanya Dongsaengku yang satu ini tidak pernah telat kekelas kecuali ada urusan. Tapi sudah hampir menjelang siang ini aku belum melihatnya sama sekali

“ah, dia diperpustakaan eonni. Katanya ia mencari bahan pelajarannya” jelas Yoona. Aku mengangguk mengerti. Ku lihat Jessica sangat ingin berbicara denganku tapi aku hanya cuek padanya. Jujur saja aku masih agak kecewa dengan apa yang kulihat semalam

“ah, baiklah! Beritahu padanya kita akan latihan sebentar lagi. Aku tunggu di studio” kataku lalu mengambil tasku

“eonni… jadi, kita latihan apa hari ini? Vocal, dance, atau apa?” Tanya Yoona padaku. Aku juga sebenarnya bingung tapi yang penting latihan

“kita tunggu Seohyun dulu. Kau sudah memberitahunya?” tanyaku pada Yoona dan ia mengangguk

“eonni… mianhe aku terlambat? Kata Seohyun begitu ia sampai di depanku

“kau dari mana? Aneh kau bersikap  seperti ini. Kau tidak pernah terlambat sebelumnya” tanyaku padanya

“hehe mian eon. Tadi aku keasikan diperpustakaan akhirnya terlambat kesini” ia memberikan senyum terbaiknya yang membuat tak tega untuk marah. Ah, kemarin aku sudah marah pada Jessica jadi, hari ini aku tak ingin marah lagi pada Seohyun

“ne, kita latihan saja” kataku sambil mulai mengatur posisi. “eonni… apa aku boleh ikut latihan?” tanya Jessica dengan wajah ragu. Sebenarnya aku masih kesal padanya tapi aku tidak mungkin kan melarangnya latihan takutnya nanti kolaborasi kami akan hancur.

“ne. Tentu saja! Oh, ya hari ini kita latihan vocal saja. Fany ah.. bisakah kau jadi pengiring kami?” tawarku padanya ketika ia baru memasuki pintu

“dia? Pengiring? Maksud eonni..? eonni akan memasukkannya kedalam group kita?” Tanya Jessica dengan 1000 pertanyaan.

“aku tidak bilang begitu. Aku hanya memintanya menjadi pengiring kita. Apa itu salah?” aku menatap Jessica dan ia langsung diam

“memangnya mau diiringi dengan apa eonni? Dia pintar main musik?” tanya Yoona lagi.

“piano!” jawabku singkat.

Kami pun mulai latihan dengan diiringi piano oleh Tiffany. Ah, dia benar-benar mahir memainkan tuts demi tuts dari alat musik yang satu itu. Sepertinya aku akan sering-sering mengajaknya untuk menjadi pengiring kami. Aku tersenyum kecil!

-Taeyon Pov end-

****

Taeyon CS sudah selesai latihan dan kembali ke kelas mereka untuk melanjutkan pelajaran hingga jam sekolah mereka berakhir

“seohyun,,, dia tidak pulang denganmu?” tanya Taeyon pada Yoona. “ani eonni. Dia masih ke perpustakaan” jawab Yoona

“mwo? Bukannya tadi dia sudah keperpustakaan?”

“ne. Tapi ia bilang ada bahan pelajaran yang belum sempat ia pinjam tadi makanya ia kembali lagi untuk meminjamnya. Ah, belakangan ini ia sering sekali ke perpus sepertinya niatnya belajar meningkat 1800 eonni…” kata Yoona “ne kau benar. Akhir-akhir ini mood belajar meningkat dengan pesat hehehe” Taeyon dan Yoona tersenyum.

“Mm… Yoona ya kau duluan saja. Aku melupakan sesuatu dikelas” kata Taeyon menghentikan langkahnya begitu ia mengingat sesuatu

“mwoya? (apa?)” tanya Yoona. “sesuatu. Kau duluan saja.. aku akan menyusul” kata Taeyon. “mm.. ne eonni…” Yoona mengangguk

Ketika selesai mengambil bukunya yang tertinggal, Taeyon bergegas turun dan hendak pulang. Sampai di persimpangan gedung IRINE, ia berpapasan dengan Seohyun yang baru keluar dari perpustakaan yang lebih mengejutkan lagi, ia sedang berjalan bersama Kyuhyun sambil sesekali bercanda bersama.

“eonni…? kau belum pulang?” tanya Seohyun sambil terkejut begitu mendapat sosok yang ia panggil eonni itu.

“kau dari perpus?” tanya Taeyon mencoba tersenyum ramah walau kini amarahnya sudah hampir ingin meledak. Bagaimana tidak, kemarin ia mendapati Jessica dengan Donghae dan sekarang Seohyun bersama dengan Kyuhyun. Sungguh sulit dipercaya para dongsaengnya itu seolah sudah menghianatinya..

“ne eonni..” jawab Seohyun dengan sedikit gugup. Berbeda dengan Seohyun, Kyuhyun malah bersikap lebih santai dan masih sesekali melempar senyum.

“hm… aku sulit percaya ini. Kemarin aku mendapati Jessica dan Sekarang kau. Apa yang harus aku lakukan? Menurutmu apa aku harus marah?” tanya Taeyon pada Seo

“ne?” tanya Seo tidak mengerti. “entahlah! Aku bingung sekarang. Aku sebenarnya tidak berhak marah padamu atau yang lainnya. Kalian berhak ingin jalan dengan siapa saja termasuk dengan Flower Boys tapi entah mengapa aku merasa tidak rela jika kalian dekat dengan mereka. Siapapun itu, asalkan Flower Boys aku tetap membencinya” curhat Taeyon

“eonni…” kata Seo lirih.

“aku tau aku terlalu egois untuk itu tapi entahlah, aku tidak bisa merelakan kalian juga jika harus berhubungan dengan mereka” lanjut Taeyon lagi.

Yoona masih menunggu Taeyon diparkiran karena mereka telah berjanji akan pulang bersama. Karena terlalu lama menunggu, akhirnya ia kembali kedalam IRINE untuk mencari eonni-nya itu. Suasana di IRINE sudah sunyi karena siswa siswinya sudah sebagian besar pulang tinggal ada beberapa orang lagi yang masih disana termasuk Taeyon cs dan Flower Boys.

“sebenarnya kau tidak egois. Kau hanya berusaha melindungi mereka agar tidak dibohongi atau dihianati oleh orang yang sudah sangat mereka percayai seperti apa yang pernah terjadi padamu dulu” kata Leeteuk yang muncul tiba-tiba dibelakang Taeyon. Mereka semua menoleh kearah Leeteuk yang diikuti oleh 4 pemuda tampan dibelakangnya itu. Ya, Siwon, Donghae, Eunhyuk dan Ryewook

Taeyon terdiam. “Taeng, bisakah masalah kita tidak dicampur adukkan dengan mereka? Mereka punya hak untuk berteman dengan siapapun kan termasuk dengan Flower Boys sekalipun. Dongsaeng-dongsaeng ku tidak seburuk yang kau bayangkan. Mereka sangat baik, penyayang dan juga setia bahkan mereka lebih baik daripada aku. Jadi, percayalah mereka tidak akan membuat dongsaeng-dongsaengmu terluka. Aku tau, kau sangat menyayangi mereka.. begitu juga denganku. Tapi tidakkah kita terlalu egois jika harus memaksakan kehendak kita pada mereka?” kata-kata Leeteuk benar-benar membuat Taeyon makin tertunduk.

Jessica, Hyoyeon, dan Tiffany yang baru hendak pulang pun ikut menyaksikan kejadian ini.

“ada apa?” tanya Hyo pada Jessica dan Tiffany. Kedua orang tersebut langsung mengangkat bahunya seolah menjawab “tidak tau” lalu melanjutkan menyaksikan tontonan yang bagaikan drama tersebut.

“Taeng ah, mianhata! Jongmal mianheyo, aku sudah membuatmu seperti ini. Menjadi seorang yang sangat takut dengan luka dan kekecewaan. Sangat takut terhadap penghianatan yang membuat kau menjadi seorang yang sangat protektif. Bisakah kau memaafkanku?” kata Leeteuk mendekat kearah Taeyon.

Taeyon menatap Leeteuk dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ia ingin menangis dan berteriak dengan keras sekali. Tangannya mengepal dengan keras seolah ingin memukul sesuatu untuk melampiaskan rasa kekesalannya. Kekesalannya pada Dongsaeng-dongsaengnya yang tidak pernah jujur padanya jika mereka kini dekat dengan seorang namja, sekalipun itu member FB juga kekesalan yang paling membuatnya tidak tahan adalah kekesalannya pada Leeteuk. Orang yang membuatnya seperti orang yang sangat kejam terhadap para dongsaengnya karena rasa sakit yang pernah ia terima dulu. Leeteuk benar, Taeyon tak ingin kejadian yang dialaminya dulu dengan Leeteuk akan dialami pula oleh para dongsaengnya.

“mwo? Apa ini? Apa ini drama terbarumu? Hm, aktingmu sangat bagus aku terkesan. Kau puas sekarang?” tanya Taeyon dengan nada tinggi. Member FB dan yang lainnya hanya menonton saja

“drama? Kau pikir aku bercanda? Aku serius Taeng-ah.. kau tidak boleh egois mereka juga punya hak untuk berteman” Leeteuk menatap Taeyon penuh arti

“apa kalian semua sedang mempermainkan aku? Kalian sengaja kan mengaturnya? Hm, aku tidak percaya ini” kata Taeyon masih dengan nada tinggi. “kalian bahkan sudah memberikan kejutan seperti ini. Gureojo! Aku terkejut. Puas?” kata Taeyon akhirnya hendak pergi namun dengan sigap Leeteuk langsung menarik tangannya dan membawa Taeyon kedalam dekapannya.

“lepaskan…! lepaskan aku brengsek!” kata Taeyon menggeliat namun, bukannya melepaskan Leeteuk malah makin mempererat pelukannya yang membuat tubuh mungil Taeyon tak dapat bergerak lagi. Taeyon terdiam hingga akhirnya terdengar suara isakannya. Makin lama, suara tangisnya makin keras

“wae… kenapa kau tidak melakukannya dari dulu? Kau tau.. kau sudah membuatku hidup dalam dunia yang penuh dengan kebencian. 6 tahun yang kulalui belakangan ini, tidak pernah luput sekalipun dari rasa benciku padamu… aku membencimu sangat membencimu” kata Taeyon sambil berlinangan air mata. Salah satu tangannya memukul bahu leeteuk dengan kesal

“arrasseo… aku sudah minta maaf padamu tapi kau tidak pernah mau memaafkanku dan sekarang kau menyalahkanku?” kata Leeteuk sambil bercanda. Ia melepas pelukannya dan menatap mata Taeyon

“kau tidak pernah serius meminta maaf. Bahkan saat aku mengacuhkanmu, kau hanya pergi harusnya kau mengejarku dan memohon agar aku memaafkanku. Kau mudah menyerah dan tidak konsisten” kini kembali Taeyon yang bercanda mengejek Leeteuk

“arrasseo. Jadi, sekarang bagaimana?” tanya Leeteuk sambil tersenyum

“aku membencimu dulu, sekarang dan besok pun aku tetap akan membencimu” kata Taeyon. Leeteuk hanya tersenyum dan menarik kembali badan mungil Taeyon kedalam pelukannya

“Taeng-ah, nega bogoshipeosseo… jongmal bogoshipeo…” bisik Leeteuk ditelinga Taeyon. Taeyon hanya mengangguk

“nado oppa…” Leeteuk, Taeyon, Jessica, Donghae, Kyuhyun, Seohyun, Eunhyuk, Hyoyeon, Ryewook dan Tiffany tersenyum bersam-sama.

To Be Continued………………………………………………….

ottoehke this part? dont forget leave a coment ne chingu? ini ada part-part trakhir lho… gomawo ^^

2 pemikiran pada “That’s True Love ( Part 12 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s