Owner Heart (Chap.02)

owner heart

Cast        : Kim Jung Woon / Yesung Super Junior

                 Mala Lovely Kiraina / You as. Park Yoon Mi

                 Kim Ryewook Super Junior

Support Cast :      Kwon Yuri SNSD

                             Eunhyuk Super Junior

                             Kim Hyoyeon SNSD

Author   : Shin Eun Hwa

Genre     : Romance, Sad, Friendship, Family

Rating   : =

Disclaimer : Karya ini murni punyaku dan dari hasil imajinasiku. please hargai kerja keras Author dengan tidak meng -COPAS karya ini. dan juga harap meninggalkan jejak ketika selesai membaca! trimakasih…^^

*****

Jungwoon membuka matanya perlahan.  Masih menahan perih yang menyerang seluruh tubuhnya. Ia mulai menerawang dan memasuki alam sadarnya. Jungwoon mengangkat tubuhnya setengah duduk namun sakit kembali menyerangnya lagi

“aw..” pekik Jungwoon sambil memegang perutnya.

“Oo.. kau sudah bangun?” sapa Ny. Kim sambil meletakkan nampan didepan Jungwoon. “eomma buatkan kau sarapan kau makan ya?” kata Ny. Kim ramah

“eomma.. apa yang terjadi? kenapa aku bisa ada disini?” Tanya Jungwoon sambil memegang kedua wajahnya yang lebam dan masih terasa sakit.

“kau ini bagaimana? Ini rumahmu jadi wajar saja jika kau ada disini” jawab Ny. Kim lagi

“tapi.. kenapa..” Jungwon memperhatikan wajahnya dicermin yang sudah berwarna keunguan karena lebam. Matanya yang sudah sipit makin tak kelihatan lagi karena wajahnya sudah mulai membengkak. Ia kemudian terdiam mengingat kejadian yang ia alami semalam saat ia dipukuli oleh 5 namja yang tak ia kenal itu..

“eomma… kau tau siapa yang membawaku pulang semalam?” Tanya Jungwoon sambil menatap dalam mata ibunya

“molla.. seorang namja. dia hanya mengantarmu setelah itu pergi tanpa bilang apapun” jelas Ny. Kim

“jongmalyo (benarkah?)” Tanya Jungwoon. “ne (iya)” jawab Ny. Kim lagi. “ah, sudahlah kau makan saja sarapanmu setelah itu ibu baru akan mengobati lukamu, ara?” Ny. Kim kembali kedapur.

****

“Aish, ada apa denganmu? Lihat wajahmu lebam begini.. kenapa ada orang yang tega melakukan ini padamu?” kata Hyukjae begitu ia menjenguk Jungwoon dirumahnya

“aish, jangan sentuh. Sakit..!!” balas Jungwoon sambil menepis tangan Hyukjae yang sedari tadi menjelajah wajah lebamnya.

“ah, aku tidak menyangka saja orang selugu dan se-polos dirimu punya musuh juga?” kata Hyukjae lagi yang langsung dibalas tatapan maut oleh Jungwoon. “apa maksudmu lugu dan polos?” Tanya Jungwoon setengah berteriak karena kesal

“anio. Tidak ada maksud apa-apa. Hehehe” elak Hyukjae.

****

1 minggu berlalu. Jungwoon telah sembuh dari luka dan perih akibat pukulan yang dialaminya seminggu yang lalu saat pulang dari mengantar Yuri. Tanpa pernah tau sebab akibat dan motif dari pemukulan tragis yang dialaminya, Jungwoon tetap menjalin hubungan dengan Yuri. Sejauh ini, masih sebatas teman!

“anyong Jungwoon ah..” sapa Hyukjae sambil merangkul pundak Jungwoon. “Oo.. Hyukjae” jawab Jungwoon. Mereka berdua kini berjalan menuju arah pintu keluar untuk bersiap-siap pulang

“aish, sudah berapa kali kukatakan panggil aku Eunhyuk. E-UN-HYUK” jawab Hyukjae dengan menekan pada kata “EUNHYUK”

“ne. Terserah kau sajalah! Ada apa?” tanya Jungwoon penuh selidik

“mwo? Memangnya salah jika aku menyapamu? Aish, kau ini.. selalu saja begitu padaku” keluh Hyukjae

“bukannya begitu. Biasanya jika kau menyapaku dengan tersenyum semanis itu pasti kau ingin meminta sesuatu” selidik Jungwoon lagi

“aish.. kau selalu berpikir negativ seperti itu padaku. Aku hanya ingin sekedar menyapamu apa itu salah?” tanya Hyukjae kesal

“tidak hanya saja aneh” jawab Jungwoon datar. “ish, lagipula apa yang bisa kuminta darimu? Kau tidak kaya dan tidak punya sesuatu yang menarik. Apa yang bisa ku minta darimu?” cibir Hyukjae sambil memperhatikan Jungwoon dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“hey, walaupun tidak kaya tapi aku cerdas. Bukankah setiap hari kau meminta tugasku untuk kau salin?” gerutu Jungwoon

“oh, itu. Hehehe itu lain lagi ceritanya” sanggah Hyukjae. “Mm.. bagaimana hubunganmu dengan Yuri.. sejauh ini kulihat kalian makin dekat saja” goda Hyukjae.

“ah, anio. Kami hanya teman biasa seperti yang lainnya”

“jinja? Aish, aku tidak percaya. Kenapa kau belum menyatakan perasaanmu padanya?”

“ah, aku sudah dekat dengannya aku rasa itu cukup. Aku tidak mau membuatnya menjauh dariku hanya karena aku mengatakan “aku menyukaimu Yuri ah, aku ingin kau menjadi kekasihku”.. aku tidak mau” jawab Jungwoon sambil memperagakan gaya seorang namja yang sedang menyatakan cintanya pada yeoja

“ish, kau ini pabo. Kau mencintainya sudah lebih dari dua tahun ini apa itu belum cukup? Kau pikir apa yang diinginkan seorang wanita dari pria?”

“mwo?”

“cinta yang tulus. Dan aku rasa perasaanmu pada Yuri itu bukan hanya sekedar tulus tapi juga ikhlas”

“kau pikir perasaan itu sumbangan jadi harus ikhlas?”

“bisa saja kau seperti itu kan?” kata Hyukjae sambil mengangkat kedua tangannya.

“entahlah! Aku pulang ya” kata Jungwoon sambil menaiki sepedanya.

*****

“ish, kau ini pabo. Kau mencintainya sudah lebih dari dua tahun ini apa itu belum cukup? Kau pikir apa yang diinginkan seorang wanita dari pria?”

“cinta yang tulus. Dan aku rasa perasaanmu pada Yuri itu bukan hanya sekedar tulus tapi juga ikhlas”

Jungwoon duduk dengan setengah bersandar dikamarnya. Ia memikirkan kata-kata Hyukjae siang tadi yang membuatnya sedikit terusik.

untuk apa menyukai seseorang jika pada akhirnya kita tidak bisa memilikinya? Orang mencintai seseorang karena dia berharap orang tersebut akan menjadi miliknya suatu saat nanti”

Kembali kata-kata Eunhyuk mengusik telinga dan pikiran Jungwoon. Cukup lama Jungwoon tertegun memikirkan semua itu hingga ia memutuskan untuk menelepon seseorang.

“Hyuk ah.. menurutmu apa yang harus kulakukan?” tanya Jungwoon pada orang yang ia telepon

“maksudmu?” tanya Eunhyuk

“aku sudah memikirkannya. Aku akan melakukannya. Aku akan menyatakan perasaanku pada Yuri”

*****

Jungwoon bertemu dengan Hyukjae disebuah kafe.

“apa yang akan kau lakukan?” Tanya Jungwoon penasaran.

“sudahlah! Kau tinggal terima beres saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Ingat! Saat Mc memberikan kode kau langsung naik saja kepanggung dan nyanyikan lagu itu, ara?”

“mwo? Lagu? Jadi maksudmu…” Jungwoon terdiam

“aku sudah baca lyric lagu mu itu. Isinya bagus jadi, daripada kau panjang lebar berbicara padanya, lebih baik ungkapkan saja dengan lagu itu. Sebentar lagi Yuri sampai kau siap-siap ya?” ucap Hyukjae seraya menepuk punggung Jungwoon. Ia kemudian menghilang dibalik dinding kafe tersebut.

10 menit kemudian, sang gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Yuri telah sampai dikafe tersebut. Ia kemudian memilih salah satu bangku dan meja kosong lalu melepaskan lelahnya. Ia memperhatikan sekitar tampak sedang mencari seseorang yang membuatnya sampai ke kafe tersebut malam-malam begini pula. Yuri duduk sambil menggunakan kedua tangannya yang bersilang untuk menopang dagunya. Matanya masih sibuk menelusuri sudut-sudut kafe tersebut

“Yuri ya.. ada titipan untukmu” kata seorang namja yang juga 1 sekolahan dengannya

“dari siapa?” Tanya Yuri sambil menerima amplop berwarna biru langit tersebut. “molla! Aku hanya di suruh memberikan ini padamu. Ya sudah, aku pergi ya?” pamit namja tersebut.

“ne, gomawo” jawab Yuri ramah. Sesaat kemudian, Yuri tertegun menatap benda persegi panjang yang kini ada ditangannya. Ia lalu membolak-balikkan amplop tersebut berharap sang pengirim akan memberikan petunjuk akan dirinya namun nihil. Tak ada nama pengirim.

To Yuri

Jika kau tak sibuk, temui aku di Ht.Own café jam 7 malam nanti. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Aku akan menunggumu

^_______^

Yuri mengeryutkan keningnya setelah membaca amplop tersebut. “aneh” gumam Yuri kemudian pergi.

Ht.Own sudah mulai ramai, pengunjung mulai berdatangan dan mengisi setiap bangku-bangku kosong yang ada. Yuri masih sibuk mencari sosok yang telah membuatnya datang ketempat itu. Tidak lama kemudian, sang Mc mulai membuka acara “dan terakhir, penampilan special dari seseorang. Dia akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kita.. aku harap kalian menikmatinya” kata sang Mc sambil memberikan tepuk tangan pada Jungwoon yang juga diikuti oleh semua pengunjung kafe.

Jungwoon masih terdiam ditempat. Ia rasa-rasa tak mampu tampil disitu, di hadapan banyak orang seperti itu terlebih lagi dihadapan yeoja yang ia sukai. Ia meremas tangannya dan masih belum bergerak dari backstage.

“yak.. kenapa masih disini? Ayo cepat” ucap Hyukjae begitu melihat Jungwoon masih berdiam diri ditempat.

“Hyuk ah.. aku rasa… aku.. aku tidak bisa melakukannya. Kita batalkan saja ne?” jawab Jungwoon

“aish, kau ini bagaimana? Jika tidak mengatakannya sekarang lalu kapan? Kita tidak punya waktu lagi.. sebulan lagi ujian akhir akan diadakan dan kau tidak akan punya waktu untuk terus menyimpan persaanmu itu. Ayo kajja” jelas Hyukjae sambil mendorong tubuh Jungwoon hingga berada ditengah panggung.

Jungwoon menatap kedepan keseluruh penonton yang kini ada didepannya. Jujur saja ia benar-benar gugup setengah mati karena ini pertama kali baginya. Akhirnya, Jungwoon memantapkan hati dan mulai mengangkat mike hingga tepat didepan bibirnya.

 “anyong hassimnika.. Kim Jungwoon imnida,,” sapa Jungwoon ragu. Semua penonton kini menoleh kearahnya termasuk Yuri.

Yuri tertegun menatap sosok Jungwoon yang agak berbeda malam ini. Memakai kaos blues dengan jeans dan sepatu kets yang membuatnya nampak berbeda dari Jungwoon yang biasa ia lihat disekolah. Walaupun kacamata bundarnya masih menghias kedua bola matanya namun, mala mini Yuri serasa melihat sosok Jungwoon yang lain daripada yang lain.

“maaf menganggu waktu kalian.. aku punya sebuah lagu yang ingin sekali ku nyanyikan. Lagu ini aku ciptakan sendiri untuk seseorang yang sangat kusukai. Aku tidak tau bagaimana cara mengungkapkan rasaku padanya maka dari itu, aku menciptakan lagu ini untuknya dan aku harap ia tau apa yang kurasakan padanya” lanjut Jungwoon lagi

Cinta pada pandangan pertama
Ku pikir kata-kata itu hanya lelucon bagi para punjangga saja
Ku pikir kata-kata itu tak bermakna sama sekali
Dan Kupikir itu hanyalah sebuah kalimat cinta
Yang mana setiap orang bisa dengan mudah mengatakannya

Cinta pada pandangan pertama
Awalnya aku tak percaya, awalnya kupikir itu aneh
Namun saat bertemu denganmu, aku baru merasakannya
Merasakan getarannya dan aku menyadari bahwa
Aku telah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama

Aku tau aku tak pantas untukmu
Tak ada hal istimewa yang bisa kujanjikan untukmu
Namun, hanya cinta saja yang bisa kupersembahkan padamu
Hati dan jiwaku akan kuserahkan seutuhnya padamu
Jika benar rasaku ini kan terbalas

Maaf aku tidak mengatakannya padamu secara langsung
Karena aku tidak punya keberanian yang cukup untuk itu
Maaf juga karena aku telah mengatakan ini padamu
Namun, aku sudah tidak kuat menahannya lebih lama lagi
Dan kuharap kau mengerti

Jungwoon menyanyikan sebuah lagu sebagai bentuk ungakapan perasaannya pada Yuri. *lagunya isinya kek gitu. Mian author ngarang sendiri biar nyatu gitu.

Setelah menyanyi, Jungwoon kemudian turun dan menghampiri Yuri yang masih duduk diam terpaku ditempat duduknya.

“Yuri ya.. gwenchanayo (kau baik-baik saja?)” Tanya Jungwoon membuyarkan lamunan Yuri. “ah, ne. naneun gwenchana. Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yuri lagi.

“aku.. hanya.. kebetulan aku dan Hyukjae sedang makan disini” jelas Jungwoon mencari alasan takut jika gadis didepannya ini akan menyimpan curiga padanya. “kau.. Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Jungwoon basa basi

“aku menunggu seseorang tapi sepertinya ia tidak datang” jelas Yuri.

“siapa?”

“molla. Tadi siang ada yang memberiku surat kecil dan orang yang mengirimnya memintaku untuk datang kesini. Katanya ada yang ingin ia sampaikan… hufft tapi sepertinya dia tidak muncul. Syukurlah aku bertemu kau disini” Yuri tersenyum menatap Jungwoon.

“surat?” Tanya Jungwoon terkejut. Yuri hanya mengangguk. Jungwoon tampak berpikir. Ia mulai mengerti sekarang. “Lee Hyukjae…” gumam Jungwoon dalam hati.

“Mm.. suaramu bagus. Kau bisa menyanyi rupanya?”

“ah, tadi itu.. hanya untuk yang pertama dan terakhir kalinya”

“waeyo?”

 “Lagu itu.. sebenarnya… lagu itu untukmu” kata Jungwoon yang sukses membuat Yuri terkejut untukyang kedua kalinya

“ne?”

“mianhe. Aku tidak mengatakannya padamu secara langsung. sebenarnya aku yang mengirimkan surat itu padamu. Aku yang memintamu untuk datang kesini mala mini. Mianhe jika kau tidak suka tapi.. aku hanya ingin kau tau apa yang kurasakan padamu selama ini” ucap Jungwoon jujur.

“aku tidak akan meminta jawabannya sekarang. Kau bisa memikirkannya lagi” kata Jungwoon lagi.

“ah, ne. akan ku pikirkan.. aku pulang sekarang ya? Ini sudah malam takut nanti eomma mencariku” kata Yuri seraya pergi

“mau kuantar?” tawar Jungwoon lagi. “ah, tidak perlu. Aku sudah menelpon supirku” jawab Yuri lalu kembali meninggalkan Jungwoon.

Yuri berjalan menyusuri trotoar kota Seoul yang nampak ramai itu. Pikirannya melayang pada Jungwoon. Sosok yang membuat dirinya juga bingung akan perasaannya sendiri. “Jungwoon ah.. kenapa kau lakukan ini?” gumam Yuri

****

Jungwoon mengendarai sepedanya menuju rumah Yuri. Mereka ada janji akan belajar bersama sore ini. Meskipun Yuri belum menjawab tentang pertanyaan Jungwoon malam itu, namun mereka masih menjalin hubungan yang baik hingga hari itu tiba. Hari dimana Yuri akan menjawab perasaan Jungwoon. Dengan semangat 45, Jungwoon mengayuh sepedanya hingga berhenti dengan baik didepan rumah Yuri.

Yuri turun dari tangga kamarnya sambil menggandeng tasnya dengan ceria. “mau kemana?” Tanya Ny. Kwon menghentikan langkah anaknya.

“aku ada janji dengan teman eomma.. wae?”

“teman siapa?” Tanya Ny. Kwon. Matanya memandang tajam kearah putrinya itu setajam silet yang siap memisahkan benda apa saja yang menghalangnya menjadi dua bagian yang terpisah

“ya teman eomma.. memangnya sejak kapan eomma peduli dengan teman yang akan kutemui?” Tanya Yuri lagi.

“sejak kau bertemu dengan anak rendahan itu. Yuri ya harus berapa kali kubilang jangan temui dia lagi.. kau tidak dengar perkataan eomma?” ucap Ny. Kwon dengan suara setengah berteriak.

“eomma… sudah kubilang dia orang yang baik. Apa alasannya aku tidak bisa bertemu atau berteman dengannya? Dia juga satu sekolah denganku apa itu salah?” bantah Yuri dengan suara yang tidak kalah keras dengan eomma-nya.

“karena dia tidak pantas untukmu! Sadarilah itu kwon Yuri” ny. Kwon meninggalkan putrinya

“eomma…” teriak Yuri kesal.

“pokoknya kau tidak boleh menemuinya hari ini dan seterusnya. Titik!” ancam Ny. Kwon sambil mengangkat jari telunjuknya.

“eomma…” teriak Yuri lagi. Namun ny. Kwon sudah bertitah dan tak bisa dibantah bagaikan sang raja yang akan membunuh siapa saja yang akan melawannya. Yuri terduduk disofa ruang tengah rumahnya sambil menahan kesalnya

Jungwoon tertegun mendengar kata-kata barusan yang keluar dari dalam rumah berlantai dua itu. Kata-kata yang harusnya tidak pantas dan tidak ingin ia dengar.

“Jungwoon ah” sapa suara dari dalam telepon genggam Jungwoon

“ne Yuri ah.. waeyo?”

“Mianhe aku tidak bisa menemuimu hari ini. Aku tiba-tiba ada urusan mendadak. Kita bisa bertemu lain kali. Tidak apa-apa kan?” ucap Yuri dari seberang

“ne gwenchana.. aku juga kebetulan sedang ada pekerjaan membantu ibuku. Ne ara” bohong Jungwoon lalu menutup teleponnya

KREK…

Jungwoon membuka pintu kamarnya dan merebahkan diri diranjang kecilnya.

“sejak kau bertemu dengan anak rendahan itu. Yuri ya harus berapa kali kubilang jangan temui dia lagi.. kau tidak dengar perkataan eomma?”

“eomma… sudah kubilang dia orang yang baik. Apa alasannya aku tidak bisa bertemu atau berteman dengannya? Dia juga satu sekolah denganku apa itu salah?”

“karena dia tidak pantas untukmu! Sadarilah itu kwon Yuri”

“eomma…” teriak Yuri kesal.

“pokoknya kau tidak boleh menemuinya hari ini dan seterusnya. Titik!” Jungwoon mengingat perdebatan Yuri dan eommanya beberapa jam yang lalu. Cukup lama Jungwoon tertegun memikirkannya. “Hm.. aku bukan orang rendahan hanya materi yang membuatku terlihat rendahan” gumam Jungwoon mantap.

*****

Semenjak kejadian tersebut, Yuri menghindar drastis dari Jungwoon karena ancaman-ancaman yang diberikan oleh ibunya. Sebenarnya awalnya Yuri tetap bersikeras akan tetap mempertahankan Jungwoon disampingnya namun setelah mengetahui orang-orang memukuli Jungwoon hingga babak belur beberapa minggu yang lalu adalah suruhan eomma-nya, ia menyerah. Bukan karena takut pada eomma-nya tapi karena tak mau Jungwoon menjadi sasaran empuk kecaman ibunya lagi.

Jungwoon terduduk diam ditaman depan kelasnya. Kedua tangannya memegang buku namun pikirannya tak fokus ketulisan-tulisan yang ada dalam buku tersebut. Pikirannya menerawang entah kemana.

“kau membaca atau melamun?” sapa Hyukjae sambil merangkul pundak Jungwoon. “kau ini.. apa tidak bisa muncul tanpa mengagetkanku?” gerutu Jungwoon kesal karena Hyukjae sudah sukses merusak lamunannya

“kau saja yang melamun terus makanya kau terkejut” jawab Hyukjae santai. Jungwoon melanjutkan membaca bukunya. “bagaimana hubunganmu dengan Yuri? Apa dia sudah memberikan jawaban?” tanya Hyukjae begitu selesai mengunyah makanannya

“molla! Sudah 2 minggu ini aku belum pernah bertemu dengannya. Sepertinya ia menghindar dariku” curhat Jungwoon

“waeyo? Apa dia tidak menyukaimu? Ah, ara! Dia menyadari kau tak pantas untuknya. Kau terlalu miskin untuk jadi pacarnya. Penampilanmu juga tidak bagus” ejek Hyukjae sambil memperhatikan Jungwoon

“yak.. kau ini temanku atau musuhku? Kenapa malah menjatuhkanku?” gerutu Jungwoon.

“hehehe.. mianhata! Jadi kalau bukan karena itu lalu apa? Aku sebenarnya tidak yakin dengan tebakanku itu tapi.. semua kemungkinan bisa saja terjadi kan? Bahkan yang tidak kita duga sekalipun. Orang mana mungkin berubah dengan drastis begitu tanpa sebab yang jelas.. iya tidak?”

“Hyuk ah.. apa menjadi orang tidak mampu itu berarti rendahan?” tanya Jungwoon dalam.

“maksudmu?”

“…”

“maksudmu ada orang yang menganggapmu rendahan hanya karena kau tidak mampu? Aish.. katakan padaku siapa orangnya? Akan kuhajar dia. Berani sekali mengataimu seperti itu. Aku rasa dia hanya iri padamu.. Jungwoon ah, siapa dia? Siapa orang yang mengatakan itu padamu?”

“sudahlah, lupakan! Mm.. apa kau tidak lapar? Aku lapar. Bagaimana kalau kita makan?” ajak Jungwoon. Hyukjae menatap terkejut kearah Jungwoon. Bagaimana tidak, orang yang selama ini paling malas jika ia ajak makan sekarang malah balik mengajaknya tapi sebagai teman yang baik, Hyukjae memahami jika sekarang Jungwoon sedang ada masalah dan dia sebagai sahabat hanya bisa mengangguk meng-iya-kan permintaan temannya itu.

****

Waktu berlalu! Jungwoon dan Hyukjae, Yuri, Hyoyeon dan Yoon Mi juga siswa kelas III lainnya sudah menyelesaikan ujian akhir tahun mereka dan sebentar lagi mereka akan meninggalkan sekolah mereka kini. Tinggal menunggu hari pengumuman yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya. Seperti pada kebanyakan orang lainnya, semua yang mengikuti ujian tahap akhir kini sudah mulai merencanakan langkah mereka kedepan ada yang ingin kuliah, kerja atau sebaliknya malah ingin berdiam diri dirumah.

Jungwoon, walaupun dengan prestasi yang ia bawa dari bangku SMA, tapi itu bukanlah suatu dorongan yang bisa membuatnya melanjutkan pendidikan di jenjang universitas. Keinginan terkuatnya sekarang adalah bekerja dan mencari uang. Ia tidak ingin dipandang rendah lagi oleh orang lain hanya karena materi.. baginya, ketidak mampuan bukan berarti murahan tetapi itulah yang membuat ia tetap menjadi orang yang rendah hati. Ia bekerja keras demi mendapatkan tempat itu.. status sosial! Dan akhirnya…

2 tahun kemudian…

Yesung… Yesung… Yesung…

Yesung… Yesung… Yesung…

Yesung… Yesung… Yesung…

Ratusan ribu orang meneriakkan nama itu. Mereka terus berseru seperti sesosok anak kecil yang memanggil nama ibunya. Tidak lupa, sejumlah aksesoris yang berhubungan tentang YESUNG mereka perlihatkan sebagai pertanda bahwa mereka adalah fans setianya. Diseluruh panggung juga sekitar tempat pelaksanaan acara tersebut tertempel baliho-baliho dan pamphlet dengan gambar dan nama YESUNG.

Yesung… Yesung… Yesung…

Yesung… Yesung… Yesung…

Ratusan orang yang biasa disebut sebagai “penggemar” itu masih terus sibuk meneriakkan nama idol mereka. Berharap sang idola akan segera datang menampakkan diri dan melantunkan sebuah tembang yang membuat hati mereka menjadi teduh. Dan benar saja 15 menit kemudian harapan mereka terkabul dengan munculnya sesosok namja diatas panggung sambil memegang mike. Kini arah lampu sorot mulai menghujani seluruh tubuh dan wajah namja bernama YESUNG itu agar duplikat dirinya juga dapat terpampang di layar besar yang sudah disediakan disamping panggung. Yesung tersenyum kearah lautan manusia yang kini ada didepannya …

Oneuldo nae gieogeul ttarahemaeda
I gil kkeuteseo seoseongineun na

Wooo….. teriak para fansnya begitu Yesung mulai melantunkan sebuah tembang yang menjadi Hits andalannya itu.

Dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba
Naneun tto I gireul mutneunda
Neol bogo sipdago … Tto ango sipdago
Jeo haneulbomyeo gidohaneun nal
 
Niga animyeon andwae  Neo eobsin nan andwae
Na ireoke haru handareul tto illyeoneul
Na apado joha  Nae mam dachyeodo joha nan
Geurae nan neo hanaman saranghanikka
 
Neo hanaman saranghanikka ………
Oooh oooh~

Wooo…… teriakan para fans menggema keseluruh tempat berlangsungnya acara. Yesung tersenyum puas melihat aksinya sangat disukai oleh seluruh orang. Sungguh manusia tersebut telah menjadi setengah dewa sekarang. Bagaimana tidak, semua orang memujanya dan meneriakkan namanya. Seantero Seoul sudah mengenalnya bahkan bukan hanya di SEOUL tapi juga negara-negara tetangga sudah mulai mengenal dirinya lewat tembang hitsnya tersebut.

Yesung, seorang namja yang awalnya hanya bermimpi kini telah mencapai mimpinya.. menjadi orang yang sukses dan tak akan pernah dipandang rendahan lagi oleh orang lain. Yesung yang tak lain dan tak bukan adalah KIM JUNGWOON…!!

To Be Continued……………………………………

****

Gimana part ini readers?

please leave a comment………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s