That’s True Love ( Part 9 )

ttl9

Tittle              :  That’s True Love

Cast                    : Kim Ryewook Super Junior

                                Tiffany Hwang SNSD

Support Cast    :  EunHyuk, Hyoyeon

                                      Kyuhyun, SeoHyun

                                      Siwon, Yoona

                                     Leeteuk, Taeyon

                                    DongHae, Jessica, Others

Author            :  Shin Eun Hwa

Genre             :  Romance, Family, Friendship, Musical

Rating            :  =

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hai hai hai chingudeul dan para readers…

Aku bawa lanjutan dari “That’s True Love” nih… udah part 9. Gak kerasa ya? Wah.. part ini masih banyakan Wookie ama Fany. Q harap kalian suka dan dapet feelnya.

Minta komentnya lagi ya? Krna mungkin gak lama lg ff ini bakalan end. So, koment klian sangat brarty buatku apalagi di moment2 mendekati ending cerita.

Ok! Happy readings ^___^ .oOo.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ryewook terduduk didepan peti jenazah kakeknya. “haerabojhi….” Ryewook tertunduk lemas. Leeteuk dengan sabar merangkulnya dan membiarkan Ryewook menangis dipelukannya. Semua member FB juga ada disana

“mwo?” Tiffany terkejut begitu melihat ada sebuah peti jenazah disana terlebih lagi foto diatas peti tersebut adalah foto tn. Kim (kakek Ryewook). Perasaan Fany kini sudah mulai campur aduk Ia menatap semua orang yang kini sedang menunjukkan wajah berduka. Fany berjalan pelan menuju peti jenazah tersebut. Ia mulai mengingat kejadian ia bertemu dengan tn. Kim mulai dari saat ia ditawarkan minum teh hangat, saat itu Fany belum bisa bahasa korea. Ia mengantar tuan Kim ketoko, saat tn. Kim mengajarkannya merangkai bunga, saat tn. Kim memberikannya bunga dan semalam saat ia mengeluarkan kata-kata terakhirnya untuk Fany. Sakit… terkejut… kesal… dan perasaan paling dalam yaitu sedih. Tiffany masih terus memperhatikan peti jenazah tn Kim Makin lama, ia sudah tidak mampu lagi mengendalikan perasaannya..

“andweeee………. andweeee………….” teriak Tiffany yang spontan membuat semua orang menoleh kearahnya

Tiffany langsung terduduk dilantai sambil menangis tersedu-sedu. Semua orang memperhatikannya begitu juga dengan member FB lainnya. Melihat hal tersebut, Donghae langsung menghampiri Tiffany dan mulai memeluknya

“igi bwoya? (ini apa?)” tanya Fany pada Donghae. Donghae tidak menjawab dan hanya menatap Fany. diam

“katakan padaku… ini tidak benar kan? Ini bohong kan? Atau ini hanya mimpi kan?” kata Fany sambil berlinangan air mata

“Fany-ah… ini… ini adalah kenyataan” kata Donghae pelan. Tiffany makin terkejut. Rasa sakit yang ia rasakan kini dua kali lebih sakit dibanding sebelumnya. Kini apa yang dilihatnya benar-benar nyata

“andwe… andwe… dia tidak mungkin pergi secepat ini. Semalam dia masih sehat. Dia bahkan masih tertawa bersamaku” kata Tiffany lagi. Air mata masih membanjiri wajahnya

“Fany-ah.. kami juga tidak percaya dengan semua ini. Dia bahkan tidak pamit pada kami terutama Ryewook kalau dia akan pergi secepat ini” jelas Donghae lagi. Tiffany hanya terus menangis mendengar penjelasan Donghae. Baru kali ini ia rasakan kehilangan, kehilangan orang yang sangat ia sayangi.

“ada apa dengannya? Dia tampak sedih sekali” bisik Kyu ditelinga Eunhyuk

“wajarlah.. tn. Kim sudah meninggal kita semua juga sedih kan?” jawab Eunhyuk juga berbisik

“yak… tapi tidak perlu sesedih itu. Harusnya yang paling bersedih itu kan Ryewook hyung. Dia yang paling merasa kehilangan”

“hey.. kau lupa kalau dia adalah orang yang paling sering menjenguk tn. Kim ketika dirumah sakit??

“ah, iya” kata Kyu seraya mengangguk

Donghae langsung menarik badang mungil Fany untuk menjauh dari kerumunan orang tersebut. Ia membawa Fany di luar IRINE sambil mencoba menenangkan Tiffany.

Setelah disemayamkan di sekolah, peti jenazah tn. Kim kini diantar menuju kepemakaman. Semua siswa IRINE turut berduka atas kepergian tn. Kim karena dia juga merupakan salah satu orang berpengaruh di IRINE. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah IRINE beberapa tahun yang lalu hingga akhirnya pensiun dengan alasan tidak sanggup lagi memimpin sekolan sebesar IRINE selain itu, ia juga telah menyadari kondisi kesehatannya yang sudah semakin menurun baik karena faktor usia maupun karena penyakit yang sudah mulai dideritanya.

-Ryewook Pov-

Sejak pulang dari pemakaman tadi, aku mengunci diriku dikamar. Aku enggan keluar rumah walau hanya sekadar menghirup udara. Rasa kehilangan kini benar-benar kurasakan. Entahlah, sejak orang tuaku meninggal 3 tahun lalu, hanya kakek yang aku miliki walaupun aku tidak tinggal bersamanya, tapi kami sangat dekat. Itulah mengapa kepergiannya benar-benar menyisakkan luka yang sangat dalam buatku.

Ditambah lagi 1 hari sebelum ia meninggal, aku tak sempat melihatnya karena ia sedang bersama Tiffany. Ah, gadis itu lagi… harusnya malam itu aku yang bersama kakek bukan dia, keluhku. Jika mengingatnya, aku jadi merasa kesal dan juga tersenyum… dia selalu hadir dihidupku dengan cara yang tak terduga masuk kedalam kehidupanku dan aku sangat membenci orang seperti itu tapi ia bahkan bersikap seolah-olah tidak tau dan menunjukkan tampang aegyonya itu. Huh, menyebalkan…!!! Tapi tak bisa kupungkiri sejak bertemu dengannya aku melihat ada sesuatu yang beda dari diri kakek. Dia sering tersenyum sendiri… entahlah,,, aku sendiri tidak tau karena apa. Yang bisa kupastikan hanya… dia tidak mungkin menyukai Tiffany sebagai wanita kan??

Saat itu Pukul 04.00 subuh KST @ Hospital

“Wookie-ah… Maafkan kakek selama ini tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga untukmu”

“mwo? Sudahlah kek! Kau sudah cukup berharga bagiku. Aku tidak meminta yang lain yang penting kakek cepat sembuh, itu lebih dari cukup” jawabku.

“tapi.. kau kan tau kakek tidak mungkin selamanya menemanimu. Kau harus mencari teman yang bisa menemanimu kelak. Seorang yeoja yang cantik dan juga baik, ara?” kakek memegang pundakku

“sh… kakek ini bicara apa? Aku tidak butuh yeoja. Aku hanya butuh kakek” jawabku ringan

“hahaha….” Kulihat kakek teratawa terbahak-bahak. “waeyo? Kenapa kakek tertawa? Apa ada yang lucu?” tanyaku polos

“apa kau tidak normal Wookie-ah?”

“ne? maksud kakek apa bertanya seperti itu?”

“kau bilang kau tidak menyukai yeoja berarti kau tidak normal kan?” kakek kembali tertawa. Tepatnya tertawa mengejekku. “ah, kakek” rengekku

“carilah yeoja yang baik dan menyayangimu. Tidak perlu terlalu cantik yang penting dia bisa mengerti dan memahamimu. Kau mengerti?” kakek menatap serius kearahku

“sh.. belum kupikirkan. Nanti saja kek, lagipula aku belum selesai sekolah”

“ne, ara. Tapi tidak ada salahnya kan mulai mencari dari sekarang hingga kau punya waktu yang panjang untuk meyakinkan hatimu padanya”

“ne ara. Aku akan mencari makanan. Kakek tunggu ya?” Ketika aku hendak pergi, tiba-tiba kakek menahan tanganku

“jangan terlalu lama. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu selama itu” katanya dan aku hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil dan setelah itu pergi untuk mencari makanan. Maklumlah, sejak malam aku belum makan dan menungguinya semenjak Tiffany.

Aku menangis sesenggukan mengingat kejadian itu tak kusangka dini hari tersebut adalah percakapan terakhirku dengannya. Haerabojhi… bogoshipeosseo…. Gumamku

-Ryewook Pov end-

*****

Ternyata bukan hanya Ryewook yang bersedih atas kepergian tn. Kim. Tiffany juga merasakan hal yang sama. Sejak pulang dari pemakaman tadi, ia juga mengurung diri dikamarnya. Mis. Ryu yang melihat perubahan sikap Tiffany mencoba menghiburnya namun hasilnya nihil. Fany tetap duduk dikamarnya sambil terus memandangi bunga pemberian tn. Kim. Ia juga mengingat semua kata-kata tuan kim semalam sebelum kepergiannya.

*****

2 hari kemudian…

Kegiatan di IRINE high school sudah mulai normal kembali setelah habis dilanda duka akibat kepergian tn. Kim yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah disana. Selain itu, dia juga banyak mempunyai andil yang besar dan membuat IRINE High School hingga seterkenal dan semegah sekarang ini.

Siswa (i) IRINE sudah mulai ramai kembali masuk kesekolah. Mereka pun sibuk dengan kegiatan pembelajaran yang akan mereka ikuti telebih lagi untuk mengikuti audisi dalam rangka perayaan ulang tahun IRINE. Semua siswa berlatih keras untuk itu begitu juga bagi Flower Boys dan Taeyon CS.

 Flower Boys sampai di markas mereka

“Wookie… apa dia tidak datang?” tanya Leeteuk

“Ne. Sejak kepergian kakeknya dia belum menampakkan dirinya” balas Eunhyuk.

“aish,,, kenapa anak itu? Audisi tinggal beberapa hari lagi. Apa dia tidak ingin ikut?” gumam Leeteuk

“aku rasa dia masih berduka atas kepergian kakeknya. Kita semua tau kalau dia sangat menyayangi kakeknya” balas Siwon.

“ara! Tapi tidak harus mengorbankan sekolah juga kan? Ya sudahlah..!! sebentar kita jenguk dia kerumahnya. Aku yakin dia pasti sedang mengunci dirinya dikamar saat ini” balas Leeteuk lagi

“ne, Hyung!” jawab FB serempak

*****

Fany berjalan pelan di lorong-lorong gedung IRINE. Ia tampak lesu.

“ah, Oppa…” gumam Fany begitu sosok Donghae menghampirinya.

“kau dari mana?” tanya Donghae begitu ia mendekat kearah Fany. “aku ingin kekelas… kata Fany” Donghae tersenyum menanggapi jawaban Tiffany

“bukankah kelasmu ada dilantai dua? Ini sudah lantai 3” kata Donghae

“benarkah? Ah… sepertinya aku berjalan terlalu jauh sampai melewati kelasku” kata Fany masih dengan suara yang lesu

“kau berjalan sambil melamun nona. Dan itu yang membuatmu melupakan kelasmu” kata Donghae. Ia kemudian tersenyum.

“kau tampak lesu.. apa kau sakit?” tanya Donghae lagi perhatian

“anio oppa.. hanya,, kurang semangat”

“kau masih memikirkan tuan Kim?” Donghae menatap Fany

“sepertinya begitu”

“Mm… aku mengerti. Kita juga sangat merasa kehilangan sosoknya. Apalagi Ryewook dia bahkan tidak pernah muncul lagi setelah kepergian kakekknya” kata Donghae sambil menatap jauh kebawah

“mwo? Jadi dia belum masuk sekolah? Kudengar sebentar lagi audisi. Apa dia tidak ingin ikut?” Fany menatap Donghae

“Molla. Aku juga bingung. Kami mempersiapkan konsep group tapi jika tanpa dia, kami tidak akan bisa tampil” keluh Donghae

 “kenapa tidak tampil solo saja? Aku rasa kalian semua punya bakat”

“benarkah?” Donghae manatap Fany. “ne. bukan hanya berbakat tapi sangat berbakat”

“Hem.. gomawo atas pujianmu. Tapi Taeyon eonni tidak mengakui itu… dia berpikir kami hanyalah segerombolan pecundang yang akan menang dengan mengandalkan tampang dan materi yang kami miliki. Dia selalu merasa kami hanya berdiri diatas kesuksesan yang sudah leluhur kami bangun dan bukan atas jerih payah kami sendiri”

“sepertinya Taeyon eonni menyimpan dendam pada kalian” Tanya Fany lagi. Donghae mengangguk.

“waeyo (kenapa bisa)?? Masalahnya apa?”

“Molla. Sepertinya itu masalah pribadi antara dia dan Leeteuk Hyung”

“jongmal? Jadi Taeyon eonni dan Leeteuk hyung sudah saling mengenal sebelumnya? Kupikir belum. Tapi… kenapa mereka saling membenci?”

“aku juga tidak tau. Ya sudahlah!! Kita bicara lagi nanti. Aku dan FB mau ke rumah Ryewook. Kau mau ikut?”

“ne? ah, aniya… kalian saja. Aku titip salam saja padanya”

“baiklah, aku pergi ya?” Kata Donghae sambil menepuk pelan pundak Tiffany. Tiffany hanya mengangguk

*****

Flower Boys sampai dirumah Ryewook. Mereka langsung masuk kedalam kamar menerobos rumah mewah itu.

“yak… bangun!” kata Leeteuk menarik selimut Ryewook

“ayo cepat bangun….” Lanjut Leeteuk lagi masih menarik selimut Ryewook

“Hyung…” kata Ryewook pelan begitu mengeluarkan kepalanya dari balik selimut yang sedari tadi menutupi badannya.

“Ne. ayo bangun…” kata Leeteuk lagi

“ada apa kalian kesini?” Tanya Ryewook sambil meneguk air putih yang ada digelasnya. Member FB lainnya duduk santai di ruang tengah rumah Ryewook

“apa lagi? Ya menjengukmulah..” tukas Kyuhyun

“mwo? Menjengukku? Memangnya aku sakit?” kata Ryewook lanjut meneguk minumannya lagi

“badanmu tidak sakit tapi jiwamu yang sakit” balas Donghae.

“yak… Hyung…” teriak Ryewook. Semua member FB langsung tertawa melihat tampang kesal Ryewook

“kenapa kau tidak masuk sekolah?” Tanya Leeteuk

“aku malas” jawab Ryewook santai

“bukan karena tuan Kim?” Tanya Leeteuk lagi. Ryewook tidak menjawab.

“baiklah, aku mengerti. Tenangkanlah pikiranmu dulu baru kesekolah… audisi tinggal beberapa hari lagi. Kau ingat kan?” Tanya Leeteuk. Ryewook mengangguk

“aku masih ada urusan. Aku tinggal sekarang ya?” kata Leeteuk. “aku juga ada urusan. Mianhe hyung, tidak bisa menemanimu” terobos Kyu sambil memamerkan evil laugh-nya.

“hey, sejak kapan kau punya urusan anak kecil?” Tanya Eunhyuk

“ya, hyung… aku sudah besar. Aku punya urusan. Waeyo? Kau kaget?” Tanya kYu

“ne tentu saja. Urusan dengan siapa?” Tanya Eunhyuk lagi

“RA-HA-SIA” jawab Kyu sambil menjulurkan lidahnya. Eunhyuk hanya menatapnya kesal.

“kalian pergilah.. aku juga mau pergi” kata Ryewook

“kemana?” Tanya Donghae

“mencari udara segar” jawab Ryewook.

“baiklah…” kata Leeteuk. Mereka semua keluar dari rumah Ryewook dan menuju ketempat tujuan masing-masing.

*****

Tiffany kembali kekelasnya dengan lesu. Dipersimpangan gedung, ia bertemu dengan Taeyon cs. Mereka hampir saling bertabrakan tapi untung saja Tiffany cepat menyadarinya

“mmianhe…” kata Tiffany sambil menudukkan kepalanya.

“gwenchana.. kau kenapa?” Tanya Taeyon begitu melihat mimic Tiffany yang tampak lesu

“ah, chalcineyo eonni.. bolehkah aku memanggilmu eonni?” Tanya Tiffany balik. Taeyon memandang kearah saeng-saengnya

“ne. apa kau sakit?” Tanya Taeyon perhatian. Tiffany menggeleng.

“apa karena tuan Kim?” tebak Jessica. Tiffany masih menunduk.

“entahlah.. tapi aku benar-benar merasa kehilangan sosoknya sekarang” curhat Fany.

“kami mengerti. Kami juga merasakan hal yang sama” balas Taeyon

“eonni… kalian mau latihan ya?”

“ne. waeyo? Kau mau lihat?”

“anio. Aku mau kekelas saja. Selamat latihan…” Tiffany menudukkan kepalanya sambil berlalu meninggalkan Taeyon cs yang menatapnya bingung.

*****

Sudah 4 hari semenjak kepergian tuan Kim namun, rasa duka belum juga hilang dari diri Ryewook. Ia belum menampakkan diri di IRINE padahal, audisi tinggal 3 hari lagi. Selama beberapa hari ini Taeyon cs latihan keras melatih koreo dan juga kemampuan vocal mereka untuk mengikuti audisi tersebut. Begitu juga dengan Flower Boys mereka pun melakukan hal yang sama latihan dance dan vocal. Hanya saja latihan mereka selalu saja terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Ryewook. Leeteuk dan lainnya juga sering menghubunginya namun ponselnya tidak pernah aktif. Tampaknya Ryewook benar-benar ingin sendiri dan tidak mau diganggu.

Ketika selesai latihan, Taeyon cs menyebar. Mereka hendak pulang menuju rumah masing-masing. Hyoyeon menggandeng tas sampingnya dan keluar dari studio tempat ia biasa latihan. Ia berjalan dilorong-lorong IRINE. Jika biasanya ia langsung menuju halte bus (maklum, di Taeyon cs yg kaya hanya Jessi, ama Seo. Harusnya Taeyon jg sich. Yg laennya sederhana aja) namun kali ini ia berjalan kearah lain. Ia berjalan pelan melewati gang-gang yang akan membawanya menuju kesuatu tempat.

-Eunhyuk Pov-

Aku bernyanyi ria sambil sesekali memukul stir Ferrary kuning-q. maklum, aku sekarang sedang mem-play lagu-lagu rap kesukaanku. Sesekali bibirku mengikuti lyric lagu-lagu tersebut. Aku sedang berada dipemberhentian Traffic Light yang berada tidak jauh dari jarak IRINE (sekolahku). Hari ini aku bawa mobil sendiri jadi, aku tidak ikut Kyu. Mereka sudah lebih dulu pulang tadi aku masih ada urusan sedikit jadi agak telat. Tidak lama, kulihat seorang yeoja menyebrangi jalan tepat dihadapan mobilku. Dia… bukankah dia Hyoyeon? Dancer terhebat di group Taeyon eonni? Tapi mau kemana dia? Bukankah kalau pulang harusnya dia kearah halte bus? Tanpa pikir panjang, aku langsung mengikutinya menuju ketempat tujuannya.

Karena tempatnya masuk kedalam gang, aku melanjutkan mengikutinya dengan berjalan kaki. Arrgh.. panasnya? Gumamku sambil meletakkan tanganku diatas kepala berharap matahari tidak sepeunuhnya menyinari tubuhku. Maklum saja aku tidak pernah berjalan kaki seperti ini, kalau bukan karena gadis itu, aku mana mau melakukan ini. Dia benar-benar membuatku penasaran. Dingin, cuek dan cool. Itulah penilaianku sejak pertama kali bertemu dengannya.

Lama mengikutinya, hingga ia sampai disebuah rumah yang terbilang cukup sederhana. Ia langsung masuk kedalam. Aku hanya memperhatikannya dari luar. Sedang apa dia disini? Apa ini rumahnya? Tidak mungkin. Hah? Sepertinya agak ramai suara orang-orang banyak terdengar dari dalam rumah + ada suara music juga. Apa sedang ada acara? Aku berkutat dengan pikiranku sejak tadi hingga seorang namja paruh baya keluar dari rumah tersebut

“ah, anyong hasseo ahjussi” sapa ku ramah sambil menundukkan kepalanya. Yang disapa hanya memandang bingung kearah ku

“nuguseyo?” Tanya pria tersebut

“ah,,, naneun Eunhyuk imnida…” balas Eunhyuk sambil tersenyum

“mau apa kau kemari? Aku tidak membutuhkan asuransimu” balas pria itu lagi

“Mwo? Asuransi? Aku bukan petugas asuransi” jawabku kesal. Yang benar saja wajah setampan ini dikira petugas asuransi “lalu untuk apa kau kemari?” Tanya pria itu lagi

“aku… aku hanya… ee” aku gugup tak tau harus menjawab.

“aku hanya lewat tapi sepertinya aku tersesat” alasanku. “mwo? Tersesat? Kau ini bodoh sekali bagaimana mungkin kau tersesat digang kecil seperti ini?” cibir pria yang lebih pantas kupanggil orang tua tersebut. Argh.. aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal tak tau harus menjawab apalagi. Hyoyeon… kau benar-benar sengaja ingin menjebakku ya? Gumamku dalam hati

“ah, kau? Bagaimana kau sampai disini? Kau mengikutiku ya?” tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara Hyoyeon. Aku tersenyum kearahnya

“sh.. nyalimu besar juga” cibir Hyoyeon padaku. Kulihat ia berbisik sebentar dengan pria dihadapanku.

“jadi kau yang bernama Eunhyuk?” Tanya pria tersebut yang spontan membuatku terkejut.

“ne? bagaimana kau bisa tau?” tanyaku

“aku yang harusnya Tanya. Untuk apa kau kembali kesini hah? Kau sudah meninggalkannya jadi, kau tidak punya hak untuk kembali lagi” pria tersebut tiba-tiba saja langsung menyerangku dengan beberapa pukulan. Aku hanya mengerang kesakitan.

“aish, ada apa ini? Kenapa aku dipukuli? Memangnya apa salahku?” pekik_q sambil Manahan rasa sakit

“mwo? Kau Tanya apa salahmu? Ternyata benar kau sudah berubah. Benar kata Hyoyeon sekarang kau menjadi pemuda yang sangat sombong” kata pria itu sambil memukul kepalaku lagi.

“aw….” Rengekku. “Kenapa hari ini sial begini?” gumamku pelan

“pemuda yang sombong? Hey ahjussi… kuperingatkan kau. Kau tidak mengenalku jadi kau tidak punya hak mengataiku sombong. Lagipula mana bisa kau mempercayai perkataannya? Jelas saja dia menjelek-jelekkan aku didepanmu karena disekolah kita ini musuh” jelas Eunhyuk

“mwo? Tidak mengenalmu? Hyoyeon menjelek-jelekkanmu? Kalian berdua bermusuhan? Dasar kau… bagaimana bisa kau berbuat seperti ini” ia hendak memukulku lagi namun Hyoyeon menahan tangannya

“sudahlah songsaenim. Tidak ada gunanya melampiaskan amarahmu padanya dia juga sudah lupa. Ayo masuk” ajak Hyoyeon pada pria yang ia panggil guru itu.

“mwo? Guru? Lupa? Apa maksudnya. Aish,,, aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

-Eunhyuk Pov end-

*****

Tiffany duduk santai didalam mobilnya sang sopir dengan asik mengendarai mobil tersebut seakan siap mengantar Tiffany kemanapun ia mau.

“Fany ah… aku tau hidupku tidak akan lama lagi. Penyakitku sudah stadium akhir cepat atau lambat aku pasti akan pergi meninggalkan dunia ini dan semua yang kukasihi. Tapi dari semua itu, hanya ada 1 yang paling tidak ingin kulepaskan didunia ini…”

“Ne?” Fany memandang tajam tn. Kim

“Ryewook. Aku rela melepaskan semuanya kecuali dia. Maafkan semua kesalahannya padamu selama ini. Fany ah… aku harap kau mau memaafkannya dan menjaganya untukku”

“ne? ah, tuan… kenapa berkata seperti itu? Aku sudah memaafkannya jadi, kau tidak perlu khawatir”

“jongmalyo? Baguslah. Kau mau kan menjaganya jika aku pergi nanti?”

“tuan… sudah ku bilang jangan ucapkan kata-kata itu lagi. Ryewook bukan anak kecil lagi yang harus dijaga. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri”

“ne. tapi dia sangat membutuhkan orang untuk menemaninya. Kau mau kan menjadi temannya dan menemaninya untukku?”

“ne?”

Tiffany mengingat kata-kata tuan kim dimalam terakhir pertemuan mereka. Songsaenim… waeyo? Kau pergi secepat ini. Aku senang bisa mengenalmu. Kau benar-benar sudah menjadi temanku selama ini. Gomawo… jongmal gomawo…

Tiffany menyuruh sopirnya mengantarkannya di tempat pemakaman. Hari sudah agak sore jadi, matahari tidak terlalu panas.

“aku ingin mengunjungi teman. Kau pulanglah aku bisa pulang sendiri” sang sopir mengangguk mengerti. Ia menundukkan kepalanya dan meninggalkan Tiffany.

Fany berjalan pelan diantara berates-ratus makam hingga ia tiba pada makam tuan Kim. Ia meletakkan sebuket bunga putih yang dibawanya. Ia kemudian berdo’a sambil menatap nisan yang betuliskan nama tuan Kim. Ia tersenyum kecil

“semoga kau tenang disana” kata Fany pelan

“sedang apa kau disini” Tiffany menoleh kearah sumber suara dan tampaklah Ryewook. Ia juga membawa sebuket bunga berwarna putih

“ah, aku.. hanya berkunjung saja” kata Fany. Ryewook lalu mengambil posisi didepan Fany. Ia berdoa beberapa saat lalu pergi. Tiffany mengikutinya dari belakang.

“hey… tunggu aku” teriak Tiffany sambil menyamakan langkah dengan Ryewook. “ada apa?” kata Ryewook tanpa menoleh sambil terus berjalan

“kau kemana saja? Kenapa beberapa hari ini kau tidak masuk sekolah?” tanya Fany padanya

“bukan urusanmu” jawab Wookie dingin.

“Sebentar lagi akan ada audisi untuk perayaan ulang tahun IRINE..”

“lalu…?” Ryewook berhenti kemudian menatap Tiffany dingin

“Mm… memangnya kau tidak mau ikut? Sepertinya Donghae oppa dan yang lainnya akan ikut…”

“aku ikut dan tidak, tidak ada urusannya denganmu. Kau pulanglah” jawabnya dingin lalu meninggalkan Tiffany. Fany hanya berdecak kesal melihatnya. Pria berhati dingin… kata Fany kesal.

******

Audisi H-1

Donghae kembali bertemu dengan Tiffany setelah latihan dengan member Flower Boys lainnya. Mereka kini duduk ditaman tempat mereka biasa duduk.

“bagaimana latihanmu?” Tanya Tiffany

“baik. Kau.. kau tidak ikut audisi?” Tanya Donghae

“ah,,, aku tidak pandai bernyanyi” jawab Fany merendah.

“benarkah?”

“Mm…” Tiffany menggeleng.

“bagaimana dengan Ryewook? Apa dia sudah masuk sekolah?”

“anio. Sampai hari ini dia belum menampakkan diri. Kurasa dia benar-benar berduka” jawab Donghae

“sh.. aku tau dia sedang berduka tapi tidak harus mengorbankan sekolah juga kan? Dia benar-benar kekanakan sekali” kata Tiffany kesal

“mwo? Ne kau benar tapi kenapa kau jadi kesal?” Donghae menatap Tiffany

“anio.. aku tidak kesal” elak Tiffany sambil berusaha tersenyum kecil. Donghae memperhatikan Tiffany, sepertinya dia sangat peduli terhadap Ryewook bathin Donghae

“Mm…” Donghae tersenyum kearah Tiffany. Tiba-tiba ponsel Donghae bergetar.

“ne Hyung?” Donghae manjawab teleponnya. “ne. aku akan kesana” Donghae menutup teleponnya.

“oppa… ada apa?” Tanya Tiffany

“Ryewook… dia tidak ada dirumahnya”

“mwo? Dia kemana?” Tanya Tiffany lagi

“molla. Ponselnya juga tidak aktif”

“mungkin dia keluar untuk mencari udara segar.. atau mungkin ketempat lain?” usul Fany lagi kini raut wajahnya sudah mulai menampakkan kekhawatiran

“aku akan pergi menumi member FB lainnya untuk mencarinya”

“ne. jika sudah ketemu tolong kabari aku ya oppa…” kata Tiffany. “ne. nanti kukabari” balas Donghae lalu pergi meninggalkan Fany.

*****

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam KST. Tiffany tampak gelisah dikamarnya. Ia berjalan bolak balik sambil terus memandangi jam dinding dan juga ponselnya

“ne oppa…” kata Tiffany begitu ia melihat ponselnya bergetar

“ne? belum ketemu? Ah, gomawo sudah mengabariku” Tiffany mematikan ponselnya. Aish… dia benar-benar bodoh. Tiffany merebahkan dirinya diranjang

Tidak lama kemudian, Tiffany bangun dari tidurnya dan menyambar sweaternya. “Mis. Ryu… aku keluar sebentar” teriak Tiffany dari arah atas kamarnya

“ne nona? Nona mau kemana? Aku panggilkan sopir ya untuk mengantar nona”

“tidak usah. Aku akan bawa mobil sendiri” kata Fany lalu bergegas mengambil kunci mobilnya. “aku agak malam, jadi tidak perlu menungguku. Aku juga bawa kunci” lanjut Tiffany lagi sambil menujukkan kunci duplikat rumahnya

“halkke… (aku pergi).. anyoonng…” teriak Tiffany. Mis Ryu tidak sempat mengucapkan kata yang ingin ia keluarkan.

Tiffany mengendarai mobilnya ditengah jalan Seoul yang masih tampak ramai itu

“sedang apa dia diatas sana?” Tanya Tiffany pada tn. Kim

“begitulah dia. Sangat menyukai menatap lautan dari atas sana”

“benarkah?”

“ne. dia selalu kesini jika ingin sendiri”

“ah, arraseo”

Tidak lama kemudian, ia sampai di toko bunga tuan Kim. Dengan tergesa-gesa Tiffany turun dan membuka pintu toko tersebut namun sayang terkunci. Tiffany berusaha keras membuka pintu tersebut namun usahanya sia-sia. Ia lalu berjalan menuju kearah samping dan benar saja disana ada jalan menuju keatas atap toko tersebut. Tiffany sampai didalam dan ia mulai disapa dengan cahaya gemerlap. Maklum saja lampu tokonya dimatikan. Tiffany menyalakan senter ponselnya agar bisa menerangi jalannya. Ia mulai menelusuri semua ruangan tersebut dengan manic matanya berharap orang yang dicarinya dapat ia jumpai disini.

Setelah kurang lebih 10 menit menjelajah Tiffany merasa putus asa karena disana ia tidak menemukan Ryewook. “dia kemana jika bukan kesini?” gumam Fany pelan. Ia berjalan pelan hendak keluar tiba-tiba saja ia menendang sebuah botol dan menimbulkan bunyi yang keras. Tiffany terkejut.

“igi bwoya?” Tiffany menyenter benda yang ia tabrak tadi dan ternyata botol soju. Ia lalu melihat sekelilingnya tampak ada beberapa botol soju lagi yang telah kosong. Ketika menyenter kebagia sudut ruangan, tampaklah seorang sedang terbaring disana. Sepertinya mabuk! Siapa lagi kalau bukan Ryewook.

“yak… Ryewook ssie ireona” kata Fany mengguncang tubuh Ryewook. Ryewook masih belum sadar. Lama ia membangunkan Ryewook namun hasilnya sama saja. Ia sepertinya pingsan.

Tiffany langsung membopong badang Ryewook. Ia sandarkan kepala Ryewook dibahunya. “dasar namja pabo.. masalah seperti ini saja sudah frustasi.. semua orang pasti akan mati pabo! Termasuk kau” kata Fany sambil terus membopong tubuh Ryewook.

Ketika sampai diteras, tiffany menyandarkan badan Ryewook didinding. Kini ia sudah mulai bisa melihat wajah kusam Ryewook karena disinari bulan yang langsung menerpa mereka. “kau… benar-benar menyusahkanku” kata Tiffany sambil menujuk kearah muka Ryewook. Tanpa ia sadari, ternyata Ryewook mendengar semua perkataannya dengan sigap ia lalu menarik tangan Tiffany hingga terduduk tepat dihadapan Ryewook.

“siapa… siapa yang menyuruhmu datang kesini?” Tanya Ryewook masih dalam keadaan mabuk

“tidak ada. Aku hanya ingin datang untuk mencarimu” jawab Tiffany kesal

“untuk apa kau mencariku? Biarkan aku sendiri… sekarang pergilah. Pergi…” Ryewook mendorong tubuh Tiffany kasar hingga ia terjatuh dilantai.

“hey… aku tidak ingin mencarimu… aku hanya ingin membantu Flower Boys yang sudah mencarimu seharian. Leeteuk Oppa.. Donghae Oppa… Siwon Oppa.. Eunhyuk Oppa dan Juga Kyuhyun Oppa sangat mengkhawatirkanmu. Kau tau mereka seharian mencarimu? mereka bahkan tidak pulang kerumah demi mencarimu dan kau malah duduk disini sambil mabuk huh?” Tiffany berkata dengan suara yang sangat keras.

“kau… kau tidak tau rasanya kehilangan jadi kau tidak akan mengerti” jawab Ryewook. Kini ia sudah mulai sadar perlahan

“kehilangan? Kau pikir aku tidak sedih ditinggal tuan Kim? Aku juga sedih. Kita semua sedih bahkan satu IRINE pun ikut berduka”

“tidak… kalian hanya kasihan padaku. Kalian tidak merasakan kehilangan yang aku rasakan” Ryewook menangis

“mwo? Kasihan? Kau pikir aku kasihan padamu? Mengenalmu saja tidak untuk apa aku kasihan padamu? Aku benar-benar sedih ditinggal tuan Kim. Kau tau kenapa? Karena dia adalah orang pertama yang menjadi temanku” Tiffany terduduk disamping Ryewook.

“dia… orang yang pertama menjadi temanku. Kau pasti tidak tau kan? di L.A. aku tidak pernah punya teman. Ibuku seorang Menteri dan itu membuat orang-orang disana tidak ingin berteman denganku. Mereka bilang malu berteman dengan anak menteri. Ada juga yang bilang takut akan dijadikan sasaran amukan massa. Kau pikir hidupku tidak berat? Aku juga merasakan kesendirian bahkan ditengah gelimangan harta yang begitu banyak, aku sendiri. Kau harusnya bersyukur masih ada teman-teman yang mengkhawatirkanmu tidak seperti diriku…” kali ini suara Tiffany sudah lebih pelan

Ryewook masih terdiam. “ayo, bangunlah.. kita pulang. Akan ku telepon Donghae oppa dan lainnya agar mereka tau keadaanmu” Tiffany mengambil ponselnya hendak menelepon Donghae tapi dengan sigap Ryewook langsung mengambilnya.

“jangan telepon siapapun. Kalau kau ingin pulang, pulanglah. Biarkan aku disini” Ryewook kembali bersikap dingin. (ceritanya dia udah sadar disini)

“Sh.. mau sampai kapan kau seperti ini? Menangisi kepergian kakekmu?”

“bukan urusanmu. Sekarang ku minta kau pergi”

“baiklah. Aku akan pergi. Ternyata benar kata tuan Kim. Cucu kesayangannya tidak ubahnya seperti anak kecil” cibir Tiffany

“mwo?” Ryewook menatap Tiffany

“ne. kau tau apa pesan terakhir kakekmu padaku? Dia memintaku untuk menjagamu bukankah itu berarti dia masih menganggapmu seperti anak kecil. Benar begitu kan? dia sangat mengkhawatirkanmu sampai-sampai dia tidak ingin pergi meninggalkanmu seperti ini. Dia bahkan rela melepaskan semua yang ia miliki kecuali kau… kau tau betapa berartinya kau baginya? Sangat berarti… aku yakin dia pasti akan sangat sedih melihatmu seperti ini. Kau bahkan sampai meninggalkan sekolahmu demi larut dalam kesedihan yang kau buat sendiri… aku yakin tuan kim pasti sudah bahagia disana” kata Fany bijak

Ryewook menangis mendengar penuturan Tiffany. Ia benar-benar baru sadar bahwa telah banyak waktu terbuang hanya untuk menangisi kakeknya. Bahkan sekolahnya, audisi yang selama ini ingin sekali ia ikuti ia lalaikan begitu saja

“jika kau ingin menunjukkan betapa sayangmu pada tuan Kim, bangkitlah dan berjuang. Berikan hasil terbaik dari kerja kerasmu untuk kau persembahkan padanya. Aku rasa, itu akan lebih baik daripada terus menangisinya. Menangisinya tidak akan membuatnya kembali. Kau… hanya membuang-buang waktumu. Aku pergi” kata Tiffany hendak pergi.

“jangan pergi. Jangan tinggalkan aku lagi” Ryewook menahan tangan Tiffany. Tiffany sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.

“ne?” ia menoleh. “bisakah kau tetap disini? Temani aku hingga melepas semua rasa sedihku” pinta Ryewook dengan mata berkaca-kaca. Tiffany hanya mengangguk namun masih dalam keadaan terkejut

“gomawo… jongmal gomawo….” Ryewook langsung menarik Tiffany dalam dekapannya dan mulai menangis sekencang-kencangnya. Airmata Ryewook jatuh membasahi bahu Fany. Fany masih dalam posisinya ia akhirnya mengangkat tangannya dan menaruhnya dipundak Ryewook.

Ryewook dan Tiffany berpelukan dibawah sinar bulan yang menerangi mereka . suara ombak yang bergemuruh menemani kedua insan tersebut hanyut dalam indahnya suasana…

To Be Continued……………………………………………………

ottoehke this part readers? ah, Mian, mngkin part ini agak panjang abis biar dapet feel diendingnya.

minta koment nya lagi readers semua..

gomawo ^_^

3 pemikiran pada “That’s True Love ( Part 9 )

  1. Bgus thor .,r0mantis. .klo q yg pnting cast nya fany eon pasti dpt feel nya,
    Ap next part M0ment ryefany mulai saling jatuh cinta,?
    Sbnernya ntar fany eon ikut audisi gx sih. . Q brhrap iya,hehe
    lanjut thor,

  2. wah,,, gomawo^^
    syukur deh klu km dapat feelnya,,,
    Ne, cinta mrk udah mulai tumbuh dsini..
    Fany ikut audisi gak sih? Mm… liat aja entar
    Pkoknya ada kjutan di Hri Prtunjukannya nnti.. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s