Owner Heart (Chap.01)

owner heart

Cast        : Kim Jung Woon / Yesung Super Junior

                 Mala Lovely Kiraina / You as. Park Yoon Mi

                 Kim Ryewook Super Junior

Support Cast :      Kwon Yuri SNSD

                             Eunhyuk Super Junior

                             Kim Hyoyeon SNSD

Author   : Shin Eun Hwa

Genre     : Romance, Sad, Friendship, Family

Rating   : =

Disclaimer : Karya ini murni punyaku dan dari hasil imajinasiku. please hargai kerja keras Author dengan tidak meng -COPAS karya ini. dan juga harap meninggalkan jejak ketika selesai membaca! trimakasih…^^

*****

Cinta pada pandangan pertama… kata yang membuat sebagian orang mungkin akan tertawa jika mendengarnya. Jika dipikir secara rasional memang itu agak aneh, bagaimana tidak.. bisa jatuh cinta pada seseorang hanya dalam waktu beberapa detik pada pertemuan pertama yang kebanyakan tidak disengaja. Tentu saja Cinta seperti ini tidak terjadi pada semua orang yang mengalaminya hanya ada beberapa orang saja yang mengalaminya dan biasanya itu juga tidak akan bertahan lama jika orang yang mereka anggap First Love-nya itu tidak membalas perasaannya.

Tetapi, beda orang maka beda pula pandangan. Beda prinsip dan beda pula cara berpikirnya. Jika orang-orang menganggap bahwa “Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama” itu adalah hal yang TAK MUNGKIN, maka hal itu akan menjadi MUNGKIN bagi namja yang satu ini.

Kim Jungwoon! Begitulah ia biasa disapa setiap harinya. Seorang siswa di salah satu SMA terkenal juga di Korea. Memiliki wajah yang jika diperhatikan baik-baik sangat manis dan face baby namun, ketampanannya itu telah tertutupi dengan kaca mata bulat yang setiap hari melingkar dikedua matanya juga penampilannya yang sangat sederhana (kalau bahasa kita gak tau fashion lah) dan kepribadiannya yang sangat tertutup dan pendiam.

Ia sehari-harinya berangkat kesekolah dengan Bycycle (Sepeda) sport kesayangannya. Maklum saja, ia bukan berasal dari keluarga kaya yang mampu membelikannya sebuah Lamborghini  atau Porsche. Ibunya hanya mampu membelikannya sebuah sepeda sport itu yang kini menjadi satu-satunya kendaraan yang ia miliki. Menurutnya, naik sepeda akan lebih cepat daripada naik bus yang membuatnya harus menunggu sedangkan dia adalah salah satu tipikal orang yang paling benci MENUNGGU.

Jungwoon memarkirkan sepedanya di parkiran yang khusus untuk sepeda begitu ia sampai di sekolahnya.

“Jung woon ah…” teriak seseorang yang membuat namja itu menoleh. “Oo.. Hyuk Jae” ia kemudian menghampiri orang yang memanggilnya tadi.

Lee Hyuk Jae adalah sahabat baiknya di SMA itu. Ia adalah satu-satunya orang yang selalu menjadi pendengar terbaik juga salah satu orang yang tau banyak tentang diri Jungwoon. Jungwoon  dan HyukJae sudah bersahabat sejak SD dan sampai sekarang karena mereka selalu bersekolah di tempat yang sama terlebih lagi mereka juga selalu 1 kelas yang membuat persahabatan kedua manusia tersebut sangat dekat.

“hey.. sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu. Panggil aku Eunhyuk.. ara?” jelas Hyukjae yang sepertinya sengaja menyembunyikan nama aslinya. Jung Woon yang mendengarnya hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

“waeyo? Kau malu dengan namamu sendiri? Sh.. tidak kusangka.. seorang yang sangat percaya diri sepertimu bisa malu juga hanya karena nama” ejek Jung Woon

“yak.. bukan begitu hanya saja namaku terlalu pasaran jadi, aku menggantinya dengan Eunhyuk. Aku rasa itu akan terdengar lebih baik.. iya tidak?” Hyuk Jae menatap Jung Woon antusias menanti jawaban akan pertanyaannya

“tidak. Terdengar lebih jelak” elak Jung Woon dengan tampang serius.

“yak.. kau ini! Selalu saja menjatuhkanku” gerutu Eunhyuk. “kau Tanya pendapatku kan? kau mau aku jawab berbohong atau jujur?”

“jujur” jawab Eunhyuk singkat

“nah, itu tadi adalah jawabanku yang paling jujur” Jung Woon langsung meninggalkan HyukJae yang masih tampak berpikir

“yak.. Kim Jungwoon setidaknya tidak bisakah kau berbohong padaku untuk kali ini saja? Apa susahnya mengatakan IYA walaupun itu berbohong” seru HyukJae sambil mengejar JungWoon

“tidak bisa. Aku terlahir sebagai orang yang jujur dan tak bisa berbohong walau sedikitpun termasuk tentang namamu itu” jawab JungWoon lagi yang membuat HyukJae makin kesal.

“terserah kau sajalah! Mm.. apa aku sudah mengerjakan tugas science-mu? boleh aku meminjamnya?” pinta Hyukjae sambil tersenyum manis seperti anak kecil yang sedang meminta permen

“aku belum mengerjakannya” jawab Jungwoon lagi dengan datar

“mwo? Kau ini bagaimana? Science adalah pelajaran pertama kita akan dihukum jika tidak mengerjakannya. Aish,,, ottoehke?” jawab Hyukjae dengan wajah khawatir

“kau saja yang dihukum aku tidak” jawab Jungwoon lagi. Untuk sesaat Hyukjae terdiam dan mengentikkan langkahnya. Ia nampak berpikir mencoba mencerna kata-kata Jungwoon barusan.

“Yak.. Jungwoon ah, kau sengaja mau mengerjaiku ya?” teriak Hyukjae sambil mengejar sahabatnya itu. Sementara Jungwoon hanya tersenyum kecil melihat wajah kesal Hyukjae.

“sh.. kau ini benar.. benar…” kata kata Hyukjae terpotong begitu mendengar suara mobil memasuki pekarangan sekolah. Kedua namja itupun menoleh kesosok orang yang baru turun dari mobil tersebut.

Seorang gadis yang sudah bisa ditebak, ia juga merupakan salah satu siswi di SMA ini. Ia Nampak rapi dengan seragam yang membalut tubuhnya. Gadis itu kemudian tersenyum kepada sang sopir sambil membungkukkan badan

Kwon Yuri. Gadis dengan sejuta pesona. Cantik, kaya, lembut, sopan, dan ramah. Apa yang kurang darinya? Hanya saja tidak cerdas seperti Jungwoon yang selalu menjadi jawara di sekolahnya tapi dengan semua yang ia miliki, semua pemuda sangat mengidolakannya. Mereka berharap agar Yuri bisa untuk sekali saja menjadi pacar mereka walaupun hanya untuk semenit.

“itu Yuri…” kata Hyukjae pelan. “ara” balas Jungwoon sambil terus memperhatikan gadis itu hingga melewati mereka.

“kenapa kau tidak menyapanya” tanya Hyukjae setengah berbisik.

“ah, anio… aku tidak berani. Sudahlah! Kita kekelas saja” kata Jungwoon sambil mendahului Hyukjae menuju kekelasnya.

*****

Yuri memasuki kelasnya yang terletak di lantai 2. “ah, silahkan noona..” kata seorang pemuda begitu Yuri hendak duduk di kursinya

“gomawo” jawab Yuri sambil tersenyum. Tanpa Yuri sadari, ternyata Jungwoon mengikutinya hingga ke kelas namun Jungwoon tak masuk ia hanya bisa memandangi Yuri dari arah pintu saja.

Seorang yeoja berjalan sambil menggendong buku-bukunya di dada menuju kelasnya. Begitu ia sampai, ia melihat ada seorang namja terus memandang kearah kelasnya. Gadis itu memperhatikan namja yang masih asik menikmati seisi kelasnya tersebut.

“Yoon Mi ah..” teriak suara seseorang yang membuat yeoja itu menoleh. “Oo… Hyoyeon,,” jawab Yoon Mi. Jungwoon langsung pergi begitu melihat Yoon Mi dan Hyoyeon datang.

“hah?” Yoon Mi terkejut begitu ia melihat kearah depan kelasnya lagi namja yang tadi telah hilang. “mwoya?” tanya Hyoyeon. “ah, anio… kajja!” elak Yoon Mi dan merekapun masuk kedalam.

Jungwoon kembali kekelasnya. “oedieonenggoya? (kau darimana?)” tanya Hyukjae. Jungwoon tidak menjawab pertanyaan Hyukjae ia hanya mengambil sebuah buku dari tasnya kemudian membacanya

“dari kelas Yuri lagi?”

“….”

“ah, kenapa kau tidak sekalian saja menyapanya? Kau hanya menjadi pengagum tanpa pernah berani mendekatinya walaupun hanya sekedar say hello”

“……”

“hey, aku sedang berbicara padamu Jungwoon ah, apa kau tidak lelah setiap hari hanya memandanginya saja dari jauh? Apa susahnya mendekati dan menyapanya? Aku saja yang melihatmu sudah cukup lelah..”

“kau sudah selesai bicara? Aku pergi” balas Jungwoon sembari menggandeng tasnya.

“yak…” teriak Hyukjae namun tak digubris oleh sahabatnya itu. Begitulah Jungwoon! Sehari-harinya hanya bisa memandangi Yuri dari jauh tanpa pernah berani menyapa gadis pujaan hatinya itu. Sang “First Love”! Jungwoon jatuh cinta pada pandangan pertama pada Yuri saat mereka bertemu secara tidak sengaja untuk pertama kalinya

Flashback…

Jungwoon terkejut melihat ban sepedanya sudah kempes. “aish, ini kenapa? Sepertinya tadi pagi tidak kempes..” gumam Jungwoon sambil memperhatikan ban sepedanya

“sudah kubilang kau jangan pernah menentangku” kata seorang namja dari arah belakang Jungwoon. Dibelakang namja tersebut Nampak ada 4 siswa lainnya yang seperti pengikut namja tersebut

“mwo? Aku tidak pernah menentangmu…” jawab Jungwoon santai

“sh, kau mau berdalih. Jelas-jelas kau sudah menentangku. Kau berpura-pura lugu dan baik dihadapan Choi songsaenim agar dia mengusulkanmu menjadi kandidat OSIS kan?”

“mwo? Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengajukan diriku sebagai calon Ketua osis. Jika Choi songsaenim merekomendasikan aku, itu berarti karena dia percaya aku bisa lebih baik darimu” jawab Jungwoon tanpa rasa takut sedikitpun

“kau…” Teriak namja tersebut sambil menarik kerah baju Jungwoon. Ia benar-benar kesal dengan perkataan Jungwoon yang seolah merendahkannya. Tangannya mengepal dengan keras seolah ingin mendaratkan kepalan tangannya itu diwajah mulus Jungwoon.

“Yak.. Kim BumSoo” teriak seorang yeoja yang langsung menyingkirkan tangan Bumsoo dari wajah Jungwoon. “apa yang kau lakukan? Kau adalah calon pemimpin disekolah ini dan beginikah caramu menyingkirkan sainganmu? Sh, tidak kusangka kau sekotor itu. Kalau kau ingin menang darinya, harusnya kau bisa bersaing dengan sehat” kata yeoja yang menolong Jungwoon tersebut.

“khasahamnida..” kata Jungwoon sambil berjalan pelan menuju gerbang sekolah bersama yeoja tersebut. “ah, ne… ban sepedamu kempes jadi bagaimana kau akan pulang?” Tanya yeoja itu

“ah, tidak apa-apa. Aku bisa berjalan kaki sampai rumah. Lagipula rumahku tidak terlalu jauh” jelas Jungwoon yang membuat gadis itu mengangguk mengerti.

“Mm.. kenalkan aku Yuri. Kwon Yuri, Murid kelas III ruangan 5” yeoja tersebut mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah. Jungwoon menatap gadis tersebut yang membuatnya terpaku ditempat. Tiba-tiba ia merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Jantungnya berdegup sangat kencang daripada biasanya rona wajahnya ia rasakan juga mulai berubah dan ada gurat bahagia dihati kecilnya kala itu

“hello.. kau dengar aku?” Yuri mengibaskan tangannya didepan wajah Jungwoon. “ah, ne. mianhe.. aku Kim Jungwoon siswa kelas III ruangan 3” jelas Jungwoon

“ara! Mm.. aku duluan ya?” pamit Yuri begitu sebuah sedan hitam berhenti tepat didepan mereka. “ne.” jawab Jungwoon singkat

“Oo.. kau tidak mau ikut? Ban sepedamu kan kempes.. ikut saja denganku biar kusuruh supirku mengantarkanmu sampai rumah” tawar Yuri sambil menurunkan kaca mobilnya

“ah, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.. gomawo atas tawarannya” tolak Jungwoon ramah.

“ne. aku duluan ya?” kata Yuri sebelum akhirnya menutup kaca mobil tersebut dan berlalu meninggalkan Jungwoon yang masih menatapnya.

Sejak saat itulah Jungwoon selalu memikirkan Yuri. Senyumnya, kehangatannya, kelembutannya dan segala sesuatu yang ada dalam Yuri. Sejak senyuman hari itu, Jungwoon merasakan cinta pertamanya pada Yuri. Cinta pada Pandangan Pertama.

Flashback end.

*****

Yoon Mi dan Hyoyeon berjalan keluar sekolah. Hari sudah tampak sore dan pelajaran mereka telah berakhir.

“Hyoyeon ah, Mm.. kau tau namja yang setiap hari datang kekelas kita?” Tanya Yoon Mi

“maksudmu..?”

“Ne. setiap hari aku melihat seorang namja selalu berdiri didepan kelas kita tetapi yang membuatku heran, ia tidak pernah masuk ataupun menemui seseorang. Ia hanya memandang kedalam kelas setelah itu pergi tanpa sepatah katapun” jelas Yoon Mi.

“benarkah ada orang yang seperti itu? Tapi.. Aku tidak pernah melihatnya” jawab Hyoyeon lagi.

“tentu saja. Ia selalu pergi 0,5 menit sebelum pelajaran kita dimulai sedangkan kau selalu datang 0,25 menit setelahnya. Aku selalu melihatnya di 0,5 menit terakhir saja. Jadi, jika ku pikir-pikir ia pasti datang sekitar 3 sampai 5 menit lebih cepat dari kita…”

“ah, molla.. entah apa yang ia lakukan dikelas kita hingga datang setiap hari seperti itu. Apa ia sedang memata-matai kelas kita? Aku ragu ia adalah orang suruhan” jawab Hyoyeon menebak-nebak.

“aish, tidak mungkin. Dari penampilannya saja tidak mencerminkan dia seorang mata-mata. Dari yang ku perhatikan, ia seolah ingin menyapa seseorang tapi ia tak berani. Tatapan matanya seolah mengatakan “aku ingin sekali menyapamu namun tak pernah berani juga aku hanya bisa melihatmu dari sini saja. Semoga kau bahagia” Jelas Yoon Mi panjang lebar

“yak.. kenapa kau tidak jadi peramal saja? Memangnya kau tau apa yang dia pikirkan sampai kau bisa menebak begitu?”

“anio. Itu.. aku hanya menebak. Hehehe” kata Yoon Mi tertawa aegyo.

“sh, kalau begitu kau ganti profesi saja. Tidak usah jadi siswa tapi jadi peramal” gerutu Hyoyeon lalu naik kedalam bus yang berhenti tepat didepan sekolah mereka.

“yak… tunggu aku” teriak Yoon Mi sambil masuk kedalam bus tersebut.

*****

Hari berikutnya, Park Yoon Mi yang memang sekelas dengan Yuri juga kembali melihat Jungwoon menatap kearah kelasnya. Hari itu.. kelas mereka sudah selesai dan yang berada dikelas tinggal Yoon Mi, Yuri dan Hyoyeon. Yoon Mi duduk 1 bangku didepan Yuri. Jungwoon datang di ruangan 5 dan seperti biasa, menatap Yuri dari balik pintu tanpa pernah berani untuk mendekatinya walaupun hanya sekedar menyapa. Yoon Mi memperhatikan arah mata Jungwoon yang berakhir pada Yuri yang kini tengah asik membaca buku dibangkunya tepat dibelakang Yoon Mi.

Sebenarnya, Jungwoon bukannya tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Yuri ia hanya tidak tau saja caranya. Ia tidak tau bagaimana cara mengatakannya dan dengan apa agar Yuri bisa mempercayai perasaannya. Selain itu, ia tidak cukup percaya diri dengan dirinya, penampilannya dan semua yang ia miliki. (kalau istilah kita MINDER lah ya). Jungwoon merasa tidak pantas saja bersahabat dengan Yuri apalagi kalau sampai lebih dari itu. Ia menyadari ia hanyalah sosok orang yang tidak akan pernah bisa menggapai Yuri walaupun ia sangat menginginkan hal itu.

“kau dari mana?” tanya Hyukjae begitu melihat sosok Jungwoon menampakkan diri dikelasnya

“kenapa? Memangnya setiap pergi aku harus meminta izin padamu?” Jungwoon duduk di tempat duduknya

“anio. Tapi kau aneh biasanya setiap pergi kau memberitahuku tapi tadi tidak…Oo.. kau dari kelas Yuri lagi ya?” tebak Hyukjae sambil mengangkat jari telunjuknya

“letakkan jarimu. Jangan menunjukku seperti itu” jawab Jungwoon sambil menurunkan telunjuk Hyukjae

Jam pelajaran mereka berakhir dengan ditandai bel panjang. Seluruh siswa (i) pulang kerumah masing masing tidak ubahnya Jungwoon dan Hyukjae. Jungwoon dan Hyukjae berjalan bersama sambil sesekali bercanda

“Oo… itu Yuri” tunjuk Hyukjae ke arah gadis yang ia maksud. “kau pulang sendiri aku ada urusan” kata Jungwoon sambil menuju parkiran sepedanya. Hyukjae hanya menatap bingung sahabatnya itu.

Jungwoon memperhatikan Yuri yang sedang menunggu jemputannya datang dari balik gerbang. Awalnya ia enggan untuk menyapa gadis itu namun, akhirnya keberanian itu terkumpul dan saat ini adalah saat yang paling tepat untuk menyapanya setelah kurang lebih 2 tahun ini hanya bisa memandanginya saja dari jauh.

“kau belum pulang?” sapa Jungwoon begitu ia lewat didepan Yuri. Sekolah sudah tampak sepi karena siswa siswinya sebagian besar sudah pulang.

“aku menunggu supirku tapi ia belum datang juga” jawab Yuri ramah

“kenapa tidak ditelpon saja?” usul Jungwoon. “hehehe telponku mati. Aku rasa batreinya habis” jawab Yuri sambil memperlihatkan benda yang ia maksud.

“Oh.. Mm,, pakai ponselku saja” tawar Jungwoon. “ah,, gomawo tapi nomornya ada diponselku dan aku tidak mengingatnya” jawab Yuri lagi. Jungwoon mengangguk mengerti.

Akhirnya, Jungwoon memutuskan untuk menemani Yuri menunggu supirnya.

5 menit, 10 menit, 20 menit hingga 1 jam supir yang mereka tunggu belum juga datang. Yuri nampak khawatir sambil sesekali memperhatikan jam tangannya

“ah, mianhe karena aku membuatmu harus menemaniku. Kau pulanglah jika kau lelah. Aku bisa menunggunya sendiri” kata Yuri membuka pembicaraan setelah sekian lama mereka diam

“gwenchana.. apa supirmu pernah membuatmu menunggu seperti ini?” tanya Jungwoon. “anio..” jawab Yuri singkat.

“mungkin sedang ada masalah.. kenapa kau tidak pulang saja? daripada menunggunya. Aku yakin hari ini dia tidak akan datang”

“ah itu… aku belum pernah pulang sendiri sebelumnya”

“oh, arasseo. Biar ku panggilkan taksi” kata Jungwoon sambil mencari taksi yang lewat dihadapan mereka.

“ah, tidak perlu. Aku takut naik taksi..”

“waeyo?”

“aku belum pernah pergi bersama orang yang tidak kukenal sebelumnya. Mm.. bisakah aku…. ikut denganmu?” tanya Yuri yang membuat Jungwoon terkejut. Jungwoon merasakan ada aliran listrik bergemuruh didalam tubuhnya yang membuatnya terdiam untuk beberapa saat.

“kau dan aku bersekolah di tempat yang sama jadi.. bukankah kita adalah teman? Aku akan lebih tenang jika aku pergi bersama orang yang sudah aku kenal”

“tapi… aku… aku hanya…”

“arasseo. Kajja!” Yuri memotong pembicaraan Jungwoon dan duduk dikursi belakang sepeda Jungwoon

“ppali.. kau mau kita kemalaman disini?” kata Yuri membuyarkan lamunan Jungwoon. “ah, ne” kata Jungwoon lalu mulai mengayuh sepedanya hingga kerumah Yuri. Di tengah perjalanan, Jungwoon dengan semangat mengayuh sepedanya namun tak berani berkata apapun pada Yuri. Karena takut jatuh, Yuri akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Jungwoon yang membuat perasaan namja itu makin tak karuan. Terkejut, gugup namun bahagia.

Ting Tong

“Yuri ah..” teriak ibunya begitu ia membuka pintu. “kau dari mana saja? kenapa jam begini baru pulang? Kau membuat ibu khawatir” kata Ibunya dan langsung memeluk tubuh mungil putrinya itu

“ah, eomma… naneun gwenchana. Tadi aku menunggu pak Lee dan dia tidak datang. Untung saja ada dia yang menemaniku” jawab Yuri. Ny. Kwon memperhatikan Jungwoon dari kaki hingga rambut dengan tatapan yang sulit diartikan.

“anyonghasseo ahjumma.. kim Jungwoon imnida. Aku temannya Yuri” sapa Jungwoon ramah

“Oh, ne. Yuri ya.. kau masuklah! Kau pasti lelah.. khasahamnida..” kata ny. Kwon datar sambil menarik badan mungil putrinya masuk kedalam sebuah rumah berlantai 2 itu. Jungwoon hanya menatap kedua sosok manusia itu meninggalkannya diluar gerbang. Sebelum pintu ditutup, Yuri sempat berbalik dan memberikan senyuman terbaiknya kepada Jungwoon seolah menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada namja tersebut.

Jungwoon membolak balikkan dirinya diranjangnya. Ia kemudian mengingat kejadian yang baru saja ia alami tadi. Tidak ia sangka ternyata Yuri benar-benar adalah orang yang hangat. “Kenapa selama ini aku tidak menyapanya saja? kau pabo Kim Jungwoon jika tidak, kau pasti sudah dekat dengannya dari dulu” gumam Jungwoon pelan sambil sesekali tersenyum bahagia mengingat senyuman yang Yuri berikan padanya sore tadi.

****

“Jungwoon ah, tunggu aku” teriak Hyukjae sambil menyamakan langkahnya dengan Jungwoon. “ada apa kau teriak-teriak?” tanya Jungwoon

“kita pulang bersama kan?” tanya Hyukjae sambil menyandarkan tangannya dipundak Jungwoon

“anio. Aku ada urusan kau pulang saja sendiri”

“yak.. ada apa denganmu?”

“tidak ada apa-apa” jawab Jungwoon datar

“lalu, kenapa belakangan ini kau menjauh dariku? Aku merasa kau tidak peduli lagi denganku apa kau tidak suka dengan sikapku padamu?” tanya Hyukjae dengan wajah kusut

“bukannya begitu”

“lalu?”

“lalu apa?”

“lalu apa yang terjadi? Sudah seminggu ini kau tidak pernah mau pulang bersamaku. Bukan hanya itu kau juga jarang bersamaku disekolah.. apa kau menyembunyikan sesuatu?” selidik Hyukjae

“sembunyikan apa? Tidak ada apa-apa” jawab Jungwoon datar. “yak.. jangan berbohong padaku”

“ani. Aku tidak berbohong” jawab Jungwoon santai. “benarkah?” tanya Hyukjae lagi sambil mentap dalam mata Jungwoon.

“ne” jawab Jungwoon lagi memasang wajah seriusnya. “aish, kenapa kau menatapku begitu? Orang akan berpikir kalau kau menyukaiku.. aku masih normal Hyukjae.. aku pergi” kata Jungwoon sambil menyingkirkan wajah sahabatnya itu kemudian berlalu dan makin lama bayangan Jungwoon lenyap dari hadapan Hyukjae.

“aku yakin pasti ada sesuatu dengannya. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya” gumam Hyukjae kemudian pulang kerumahnya.

****

“sekali lagi gomawo sudah mengantarku Jungwoon ah” kata Yuri begitu ia turun dari sepeda Jungwoon

“kau tidak perlu berterimakasih. Aku yang harusnya minta maaf karena telah memaksamu menaiki sepeda butut-ku ini” balas Jungwoon merendah

“itu bukan masalah. Aku sudah sampai dirumah dengan selamat, itu jauh lebih baik” jawab Yuri lagi. “ne, baiklah.. aku masuk ya?” pamit Yuri.

“ne. anyong…” balas Jungwoon sambil tersenyum kecil.

KREK…

Yuri menutup pintu rumahnya lalu mengganti sepatu sekolahnya dengan sandal hangat yang sudah tersedia didepan rumah

“kau pulang dengannya lagi?” Tanya Ny. Kwon sambil menggendong kedua tangannya

“ah, eomma.. kau mengagetkanku” jawab Yuri sambil memegan dadanya. “ibu tanya, kau pulang dengan namja itu lagi?”

“oh, Jungwoon. Ne! dia tadi mengantarku” jawab Yuri sambil menuju kamarnya

“kenapa kau mau diantar olehnya?”

“kenapa? Daripada aku naik taksi, aku tidak mau.. eomma tau kan? aku tidak bisa pergi dengan orang yang belum kukenal..” jawab Yuri. Ia meletakkan tasnya diatas meja belajar

“tapi.. tidak adakah temanmu yang lain? Kenapa harus dia? Apa kau tidak lelah pulang kerumah naik sepeda seperti itu? Kau biasanya naik mobil bukan naik sepeda. Aku rasa.. ia hanya akan membuatmu susah”

“eomma… aku tidak pernah pilih-pilih dalam berteman. Memangnya jika dia orang miskin ia tidak bisa berteman denganku? Lagipula dia orang yang baik dan hangat. Apa yang salah dengannya?”

“tidak ada yang salah. Yang salah itu jika kau terus menerus mau diajak pulang dengan sepeda bututnya itu. Eomma.. tidak mau tau mulai besok, kau tidak boleh pergi dengannya lagi. Arasseo?” Ny. Kwon menutup pintu kamar Yuri.

“eomma….” Teriak Yuri yang tak dihiraukan oleh ibunya. Yuri duduk diranjangnya dengan kesal “kenapa harus seperti itu? Dia juga manusia eomma.. aku nyaman bersamanya” gumam Yuri pelan.

 *****

Tanpa menghiraukan perkataan ibunya, ternyata Yuri masih tetap pergi dengan Jungwoon. Makin hari, mereka makin sering terlihat bersama terutama saat disekolah dan kedekatan mereka tentu saja menimbulkan banyak pemberitaan disekolah. Bukan hanya disekolah tapi berita ini juga sampai ketelinga Ny. Kwon…

DAK..

Ny. Kwon membuka pintu kamar Yuri dengan keras. “eomma.. waeyo?” Tanya Yuri terkejut.

“sudah berapa kali eomma bilang? Jangan pergi lagi dengan anak itu…” kata Ny. Kwon dengan raut wajah kesal

“ne? maksud eomma.. Jungwoon?”

“siapa lagi? Dia tidak pantas denganmu Yuri ah.. kau mengerti?”

“eomma.. kenapa eomma selalu memandang orang dari status sosial saja? Apa yang salah dengannya? Dia juga manusia eomma sama seperti kita hanya saja dia tidak mempunyai materi sebanyak yang aku miliki. Apa yang salah dengan itu? Semua orang tidak ingin terlahir dengan kekurangan tapi jika itu sudah hidupnya apa ada yang bisa merubahnya?” Tanya Yuri kembali dengan nada yang kesal

“tidak ada. Dan sampai kapanpun dia tidak akan bisa merubah takdir yang sudah memilihnya menjadi orang yang rendahan. Jika kau masih terus bersamanya, kau akan tau akibatnya” ancam Ny. Kwon. Ia kemudian menuju pintu ingin keluar dari kamar Yuri

“aku tidak peduli dengan ucapan eomma.. aku akan tetap pergi dengannya. Dia orang yang baik juga hangat dan aku sangat nyaman bersamanya…” jawab Yuri setengah berteriak yang membuat langkah ny. Kwon terhenti.

“terserah kau sajalah. Tapi, kau tau eomma bukanlah orang yang gampang menyerah kan?”

DAK… pintu kamar Yuri kembali tertutup dengan keras.

****

Sore itu, Jungwoon dan Yuri kembali bertemu ditaman. Mereka duduk disebuah bangku kecil sambil membaca novel kesukaan mereka. Novel keluaran terbaru yang sangat Yuri sukai dan hari itu, mereka menjadi orang yang beruntung karena berhasil mendapatkan novel yang pendistribusiannya dibatasi itu. Kebetulan Yuri dan Jungwoon sama-sama menyukai membaca…

“ah, novelnya bagus” gumam Yuri sambil membolak balikkan novel tersebut. “kau sudah membaca seluruhnya?” Tanya Jungwoon

“anio. Baru beberapa halaman. Aku akan membacanya dirumah..” Yuri menutup novelnya sebelumnya ia telah memberi tanda akhir bacaannya.

“ne. terserah kau saja..” balas Jungwoon

“Oo… hujan.. ayo cepat berlindung” teriak Yuri sambil menarik tangan Jungwoon mencari tempat perlindungan dari tetes-tetesan air yang berjatuhan itu. Mereka kini berlindung didepan sebuah toko. Yuri membersihkan bajunya yang tadi sempat terkena hujan..

“ah, basah…” gumam Yuri pelan sambil merapikan gaun dan rambutnya. Jungwoon langsung mebuka sweater-nya dan memakaikannya di pundak Yuri.

“hah?” Yuri menatap Jungwoon terkejut. “bajumu basah maka dari itu kau pakai ini saja.. setidaknya akan membuatmu lebih hangat” jawab Jungwoon

“ne, gomawo” kata Yuri tersenyum.

*****

Ny. Kwon duduk di ruang tengah rumahnya sambil mengepalkan tangannya. Ia mengingat kejadian saat Jungwoon memakaikan sweeaternya kepundak Yuri. Dan tampak Yuri tersenyum…

“sh, ternyata mereka masih sering bersama” gumam Ny. Kwon pelan. Sesaat kemudian Ny. Kwon mengambil ponselnya dan tampak berbicara dengan seseorang

“ah, gomawo atas novelnya.. aku pasti akan membacanya” jawab Yuri begitu ia sampai didepan rumahnya

“ne. cheonmaneyo.. kau  masuklah.. ini sudah malam dingin pula nanti kau sakit” kata Jungwoon perhatian

“oh, ne.. jaketmu nanti ku kembalikan ya?”

“ne.. aku pergi” pamit Jungwoon sambil menarik sepedanya.

Malam makin larut ditambah lagi cuaca yang sedang hujan menambah gelapnya hari dimalam itu. Jungwoon mengayuh sepedanya pulang setelah habis mengantar Yuri kerumahnya.

Jungwoon menghentikan sepedanya begitu ada beberapa orang berdiri tepat ditengah jalan. “hah, ada apa ini?” gumam Jungwoon sambil terus mengayuh sepedanya hingga berhenti tepat didepan ke-3 namja tersebut.

“chogiyo.. bisa aku lewat?” Tanya Jungwoon pelan. Ketiga namja tersebut hanya diam sambil menatap Jungwoon dengan tatapan maut. “ah, baiklah! Biar kuputar arah saja” kata Jungwoon seraya memutar balik arah sepedanya

2 orang namja dengan postur tinggi dan besar kini berada tepat dibelakang Jungwoon. “hah? Igi bwoya (ini apa?)” Tanya Jungwoon. Ke-5 namja misterius tersebut mulai berjalan mendekat kearah Jungwoon.

“yak.. changkkaman.. aku bisa menjelaskan semuanya. Ini pasti salah paham” kata Jungwoon seraya mengangkat kedua tangannya. Namun, bukannya berhenti ke-5 namja tersebut malah makin mendekat

“aku… ini salah paham” teriak Jungwoon sebelum akhirnya bungkam karena beberapa pukulan mendarat indah di perut dan wajahnya.

Ah.. ah.. gumam Jungwoon menahan sakit karena beberapa pukulan mendarat diwajah juga perutnya. Ketika selesai menumbangkan Jungwoon, ke-5 namja misterius itu lalu pergi.

Jungwoon tersungkur di aspal yang dingin itu. Wajahnya lebam karena pukulan dari 5 namja tadi. Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya mencoba berusaha bangkit. Namun, sakit lebih dulu menguasai tubuh Jungwoon. Rasa pusing mengendalikan otak dan kepalanya hingga akhirnya

BUK…

Tubuh Jungwoon mendarat dengan indahnya diaspal yang empuk itu sambil memegang perutnya yang kesakitan.

To Be Continued…………………………………………………………

***

ini FF baruku chingu.. gimana part ini? mnta koment ya? ini baru part satu masih awal inti ceritanya akan mulai dibahas di part berikutnya…

koment ya chingu ^^ gomawo… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s