That’s True Love (Part 4)

Tittle              :  That’s True Love

Cast                    : Kim Ryewook Super Junior

Tiffany Hwang SNSD

Support Cast    :  EunHyuk, Hyoyeon

Kyuhyun, SeoHyun

Siwon, Yoona

Leeteuk, Taeyon

DongHae, Jessica, Others

Author            :  Shin Eun Hwa

Genre             :  Romance, Family, Friendship, Musical

Rating            :  =

***********

Leeteuk benar-benar terpana dengan penampilan Taeyon malam ini. Ia bahkan dapat merasakan isi lagu yang dinyanyikan Taeyon. Isinya tentang merindukan seseorang dan ingin selalu bersama orang tersebut.

Leeteuk memandang Taeyon yang masih terus menyanyi dengan penuh arti. Dalam..

Karena tidak sanggup Leeteuk langsung meninggalkan kafe tersebut dengan perasaan nanar. (hua… pengen nangis bareng Teuk oppa)

“Taeng ah.. Mianhe jongmal Mianhe…” Gumam Leeteuk dalam hati

Kata yang tak pernah sempat Leeteuk ucapkan buat Taeyon. Sejak kejadian 5 tahun yang lalu, hubungan Taeyon dan Leeteuk benar-benar putus. Awalnya mereka adalah 2 sahabat dimasa kecil. Leeteuk sangat menyayangi Taeyon dan selalu menjaga Taeyon. Ia juga berjanji akan selalu membahagiakan Taeyon. Namun satu kejadian tak terduga telah terjadi.

Tn. Park (Ayah Leeteuk) yang merupakan sahabat baik Tn. Kim (ayah Taeyon) Mereka menjalankan sebuah bisnis bersama-sama itulah yang membuat Taeyon dan Leeteuk dekat selain karena ayah mereka yang bersahabat sangat dekat, mereka juga kelak akan menjadi pewaris perusahaan yang sama.

Flashback…

“semua orang mendukung Tn. Kim untuk menjadi pemimpin di perusahaan ini dan cabang lainnya” kata sekretaris Tn. Park. Tn. Park mengangguk mengerti

 “Tn.. sebenarnya tuan punya hak yang sama juga terhadap perusahaan ini kalian berdua yang membangun perusahaan ini hingga sampai sebesar ini. Tidak seharusnya hanya Tn. Kim yang mendapat sanjungan dan pujian. Tuan juga pantas mendapatkannya” bujuk sekretarisnya lagi

“apa maksudmu?”

“apa Tn. Tidak merasa bahwa Tn. Kim sudah merebut posisi Tuan?” bujuk sekretarisnya  lagi

“tidak. Dia memang pantas menjadi pemimpin disini. Aku akan selalu mendukungnya” kata Tn. Park bijak

***

“mwo?” Tn. Park membanting teleponnya. Ia langsung menarik jasnya yang tergantung dikursi dan berlari kecil. Tn. Park sampai di rumah sakit. Ia membuka pelan salah satu pintu rumah sakit itu

Tn. Park masuk kedalam ruangan dan tampaklah dua sosok wanita sedang menunggui seseorang yang terbaring lemah diranjangnya. Ny. Kim dan Taeyon kecil

“apa yang terjadi?” Tanya Tn. Park khawatir.

“mobil yang ditumpanginya tertabrak truk. Aku tidak tau apakah aku masih bisa melihatnya bangun dan tersenyum lagi setelah ini” Ny. Kim menangis sesenggukan

“tenanglah! Dia pasti akan baik-baik saja” Tn. Park mencoba menenangkan Ny. Kim

****

Taeyon duduk ditaman belakang rumahnya ia mencabut helai demi helai rumput hijau yang tumbuh disana.

“ada apa kau ke SEOUL?” Leeteuk kecil menghampiri Taeyon

“ayahku masuk rumah sakit dia kecelakaan” Taeyon menundukkan kepalanya.

“jinja? Kapan? Aku belum dengar”

“molla. Aku baru pulang sekolah dan ibu langsung menjemputku disana”

“oh.. jadi begitu? Kupikir kau kesini karena tidak betah diJepang” lanjut Leeteuk lagi “sudahlah! Jangan menangis lagi. Oppa janji akan selalu menjagamu” Leeteuk menghapus airmata Taeyon

“aku takut oppa… aku takut kalau ayahku tidak akan bangun lagi. Aku…” Taeyon tidak sanggup melanjutkan kata-katanya

“ani Taeng-ah. Oppa yakin dia akan baik-baik saja. sekarang kita kerumah sakit menjenguk ayahmu. Kajja” Leeteuk menarik Taeyon dan masuk kedalam mobil yang membawa mereka kerumah sakit tempat ayah Taeyon dirawat.

Dua bocah kecil itu menuju ruangan ayah Taeyon dirawat

“michisseo? (apa kau sudah gila?)” terdengar suara dari dalam kamar ayah Taeyon. Leeteuk dan Taeyon mengurungkan niat mereka untuk masuk. Taeyon memandang Leeteuk bingung sementara Leeteuk menggenggam erat tangan Taeyon

“songsaenim… aku melakukan ini semua untukmu” kata suara satunya

“ani. Aku tidak pernah menyuruhmu melakukannya. Kau tau apa akibat dari kecerobohanmu?” Suara itu makin keras. TaeTeuk masih berada didepan pintu

“songsaenim… mianhata!”

“aku tidak perlu kata maafmu” mereka tediam. “baiklah! Karena kau sudah memulainya, aku tidak punya pilihan lain selain membiarkan semuanya berjalan perlahan” Kata suara itu lagi. lalu orang dari dalam keluar dari ruangan tersebut. Taeyon dan Leeteuk bersembunyi dibalik pintu. Leeteuk menutup mulut Taeyon agar mereka tidak ketahuan.

Setelah kedua orang itu berlalu, TaeTeuk keluar dari persembunyiannya. Mereka melihat kearah sosok dua orang itu dan tekejut ternyata yang didalam tadi adalah Tn. Park (Ayah Leeteuk) dan juga sekretarisnya. Airmata Taeyon langsung jatuh berurai

Taeng… aku bisa menjelaskan semuanya…”

“aku tidak perlu penjelasanmu lagi Oppa. Lupakan semua yang pernah ku katakan padamu. Aku juga akan melupakan semuanya” Taeyon kecil meninggalkan Leeteuk dengan perasaan nanar

****

Semua tamu undangan bertepuk tangan ria. Hari itu adalah hari peresmian IRINE High School proyek yang dikerjakan oleh ayah Taeyon hingga membuatnya harus merenggut nyawa. Taeyon dan Ny. Kim juga menghadiri acara tersebut

“berikan tepuk tangan yang meriah atas kerja keras dari Park Chosoo (ayah Leeteuk)” kata suara Mc. tn. Park langsung menuju keatas podium.

“hari ini IRINE High School kuresmikan berdiri. Aku berharap sekolah ini kelak bisa bermanfaat bagi semua orang dan dapat mendidik anak-anak kita menjadi penerus bangsa yang baik” Tn. Park memulai pidatonya.

Taeyon menatap sedih bercampur emosi kearah Tn. Park

“IRINE High School ini kudedikasikan untuk sahabatku tercinta Kim Jun Tae (ayah Taeyon) yang sudah bekerja keras demi berdirinya sekolah ini. Semoga ia bisa melihat kesuksesan sekolah ini dari surga”

Taeyon tidak sanggup lagi mendengar semuanya ia langsung berlari keluar ruangan dan menjauh dari acara. Mulai saat itulah muncul kebencian didalam hatinya. “Park Jung Soo, Park Chosoo kalian harus membayar semuanya” Taeyon mengepalkan tangannya penuh dendam. Tanpa ia sadari airmatanya mulai berlinangan. Perasaannya bercampur aduk antara marah, benci, dendam, dan sedih bila harus berpisah dengan Leeteuk dengan cara seperti itu.

Sejak saat itulah Taeyon meninggalkan kehidupan awalnya. Ia dan ibunya memilih meninggalkan rumah peninggalan ayahnya. Mereka kini tinggal disebuah rumah yang cukup sederhana walaupun tidak sebesar dan selengkap rumah awalnya, tapi Taeyon bahagia tinggal disitu karena ia bisa melupakan rasa dendam dan sakit hatinya akibat kematian sang ayah.

Lama… hingga ia diterima masuk di IRINE High School dan bertemu kembali dengan Leeteuk yang membuatnya kembali harus mengenang masa menyedihkan itu. Tetapi kini keadaan berubah Taeyon malah membenci Leeteuk (padahal kan sebenarnya itu salah ayahnya bukan salah Leeteuk)

Flashback End.

****

Setelah kepergian Donghae, Fany lalu membuka tasnya ia berencana menghubungi Mis. Ryu untuk menyuruh sopir menjemputnya. Fany membolak balikkan tas dan… ponsel yang dicarinya tidak ia temukan. “mwo?” ucap Fany terkejut

Fany kesal karena tidak menemukan ponselnya ia pun memainkan manic matanya mencoba mencari tahu didaerah mana sekarang ia berada. “oh.. good! Help me” rengek Fany. Ia pun memutuskan berjalan kaki perlahan. Ia juga telah mencoba bertanya pada beberapa orang namun naas, orang yang ditanyai Fany semuanya tidak ada yang bisa berbahasa inggris.

“hush… this is a bad days (ini hari yang buruk)” gumam Fany sambil berjalan pelan diatas trotoar.

Mis. Ryu melihat jam dinding dirumah besar itu. Ia Nampak panic menantikan sosok yang dinantinya belum menampakkan diri. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 KST malam. Mis. Ryu masih berlalu lalang diruang tamu…

-Ryewook Pov-

Aku menyetir mobilku pelan aku berencana ingin ke rumah Kakek. Aku sangat merindukan sosok yang sangat menyayangiku itu. Awalnya supir ingin mengantarku namun aku ingin menyetir sendiri entah apa yang membuatku ingin menyetir sendiri. Aku lalu memutar sebuah lagu yang slow but easy listening. Lagu itu adalah lagu ciptaanku sendiri… but aku merekamnya cuman dalam versi piano.

Aku masih menikmati alunan music yang menghiasi ruang pendengaranku. Tiba-tiba saja mobilku melewati seorang gadis yang sedang berjalan gontai bak kapal tak tentu arah. Kuperhatikan kaca spionku sepertinya aku mengenalnya. Aku lalu memundurkan mobilku perlahan hingga tepat dihadapannya. Kuturankan kaca mobilku dan dugaanku tepat sekali. Dia si gadis murid baru itu…

“hei.. what are you doing here?” tanyaku padanya. Ia langsung menghentikan langkahnya dan mulai melihat kearahku. Sepertinya ia terkejut

“what are you doing here?” tanyaku kembali. “I am…” dia menggantungkan kalimatnya dan bisa kutebak dia pasti tidak tau arah jalan pulang. “sh.. gadis pabo” gumamku

“mwo?” katanya. Aku langsung terkejut mendengarnya bertanya dalam Bahasa Korea. “kau bisa bahasa Korea?”

“sedikit” jawabnya singkat. Aku menganggukan kepalaku. “kau mau kemana?” tanyaku lagi

“aku… mau pulang…” ia menundukkan kepalanya. “and you don’t know where to go (dan  kau tidak tau kemana harus pulang)” tebakku. Ia diam masih dalam posisi kepala yang menunduk

“didn’t like that (tidak seperti itu)” jawabnya pelan “so…?” aku menatapnya antusias menunggu jawabannya lagi

“ok! I admit I was lost and did not know the way back home (aku akui aku tersesat dan tidak tau jalan pulang)” ia menundukkan kepalanya lagi. Aku tersenyum geli mendengar jawabannya.

“sh.. gadis ini benar-benar pabo” pikirku. “then why you’re dare go out alone (lalu kenapa kau berani keluar sendiri?)” tanyaku lagi

“actually not be like this if I didn’t forget my phone (sebenarnya tidak akan seperti ini jika aku tidak melupakan ponselku)” ucapnya membela diri

“arrasho. Masuk lah!” pintaku padanya

“ng…??? you want to take me home? (kau mau mengantarku pulang?)” tanyanya sembari tersenyum sumringah. “come in before I change my mind (masuklah sebelum aku berubah pikiran)” iapun menurut dan langsung duduk disebelahku. Kuinjak gas mobilku hingga beranjak dari tempat semula. We’re go!

-Ryewook Pov end-

***

Taeyon telah selesai bekerja. Ia lalu keluar dari kafe dan menuju rumahnya. Sementara Leeteuk memperhatikan Taeyon dari dalam mobilnya diseberang jalan.

“aku pulang…” Taeyon membuka pintu rumahnya. Ia lalu meletakkan kantong yang tadi dipegangnya.

“eomma.. eommanie..” Taeyon mencari-cari sosok yang dipanggilnya Ibu itu.

“oh.. Taeyon-ah Neo osso? (kau sudah pulang?)” ibunya keluar dari dalam kamar. “ne” Taeyon langsung membuka bingkisan yang tadi ia bawa

“igi bwoya (ini apa?)” Tanya Ny. Kim pada putrinya

“aku tadi membelinya ketika diperjalanan pulang. Ayo makan” Taeyon dan ibunya pun duduk makan bersama

***

Ryewook memarkirkan mobilnya disebuah rumah bergaya tradisional namun tetap elegant. “where is this? This is not my home (dimana ini? Ini bukan rumahku)” tanya Tiffany dengan wajah panic

“siapa bilang ini rumahmu yeoja pabo?” gumam Ryewook

“mwo?” Tiffany menggerutu. ia tau bahwa Ryewook bukan mengatakan kata-kata yang baik padanya walau ia sendiri tidak tau apa yang diucapkan Ryewook barusan

“this is my grandfa house (ini rumah kakekku)” Ryewook melepas sabuk pengamannya hendak turun namun Fany menahan tangannya

“wait… what do we get here? (tunggu… untuk apa kita kesini?)”

“I Want to meet him” Ryewook keluar dari mobilnya. Ia melihat Tiffany masih dalam posisi semula.

“you won’t to come? (kau tidak mau ikut?)” Tanya Ryewook

“No. I will be waiting here (Tidak! aku akan menunggumu disini)” ucap Fany sambil menggendong tangannya didada. Ia lalu menyandarkan badannya dikursi tempat ia duduk

“OK. Happy waiting! (selamat menunggu)” Ryewook berjalan menuju pintu rumah kakeknya. Namun, beberapa detik kemudian Ryewook kembali lagi kemobilnya ia memasukkan kepalanya kedalam mobil lewat kaca yang tidak tertutup

“ but.. I do not promise to leave quickly (tetapi aku tidak janji akan keluar dengan cepat)” sahutnya

“mwo?”

“another! here a little haunted so, I hope you take care (satu lagi! Disini agak angker jadi, berhati-hatilah)” Ryewook meninggalkan Fany sambil tersenyum kecil. Fany mulai memperhatikan sekitarnya. Tidak ramai, seperti ditengah kota maklum saja rumah kakek Ryewook terletak dipinggiran kota yang agak jauh dari keramaian. Ia melihat disamping tempat mobil Ryewook parkir terdapat pohon besar yang membuat suasana memang terlihat agak seram. Fany mulai ketakutan

“hei… wait me” Tiffany akhirnya keluar juga dan mengejar Ryewook yang sedang memencet bel rumah kakeknya. Ryewook sukses menggoda Fany hingga mau ikut dengannya. Tidak lama kemudian sosok yang si empunya rumah menampakkan diri

“Wookie-ah” kata kakeknya

“ada apa kau kemari?” tanya Kakeknya yang berjalan dibelakang Ryewook. “aku hanya ingin jalan-jalan kek.. aku bosan dirumah” Ryewook merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.

“nuguseyo?” tanya kakeknya sambil memperhatikan gadis dibelakang Ryewook. Ryewook menoleh kearah Tiffany

“ah… dia orang yang kutemukan dijalan” kata Ryewook santai. Sementara Fany hanya mematung mendengar pembicaraan Ryewook dengan kakeknya

“kau ini… bicaramu kasar sekali pada wanita” tegur kakeknya

“sudahlah kek, dia tidak mengerti bahasa Korea” sahutnya lagi santai

“mwo? Kenapa bisa?”

“dia orang Amerika yang tersesat di Korea” jawab Ryewook lagi. bahasanya benar-benar sangat menjatuhkan Fany jika saja Tiffany mengerti apa yang ia dan kakeknya bicarakan, mungkin ia sudah akan berteriak kesal kearah namja itu. sayang, ia hanya bisa mematung dan menyaksikan kedua manusia itu bekotek-kotek tak jelas.

“hush.. kau ini” Kakek Ryewook tersenyum kearah Tiffany. Fany pun membalasnya.

“kenapa kau bisa kesini bersamanya?”

“sudah kubilang aku menemukannya dijalan. Dia sedang tersesat tidak tau arah jalan pulang jadi, kuajak dia kesini”

“jinja? Lalu kenapa dia mau mengikutimu?”

“itu karena dia pabo dan tidak tau harus kemana lagi!”

“Wookie-ah kapan kau akan merubah cara bicaramu yang kasar itu?”

“sudahlah kek,,, pertanyaannya nanti saja aku mau istrahat aku lelah” Ryewook mengangkat kedua kakinya disofa

“silahkan duduk” Kakek Ryewook mempersilahkan Tiffany duduk namun Fany hanya diam. Sepertinya ia tidak mengerti apa maksud kakek Ryewook

“my Grandfa say if you’re sure to stand up tomorrow you haven’t to sit (kakekku bilang jika kau merasa yakin akan berdiri sampai besok, maka kau tidak perlu duduk)”

“what?” Tiffany akhirnya mengerti maksud kakek Ryewook yang menyuruhnya duduk. Hanya saja Ryewook mengatakannya dalam versi sindirian.  “imposible” gumam Fany pelan dan duduk disofa depan Ryewook. Bibirnya sedikit berkeryut mendengar kata-kata Ryewook barusan

Ryewook menutup matanya pelan. Beberapa saat kemudian kakek Ryewook datang membawa minuman untuk Fany

“minumlah, selagi masih hangat” lagi-lagi Fany menatapnya tidak mengerti. Kakek Ryewook akhirnya memperagakan orang yang sedang minum dan menyuruh Fany melakukannya. “ah, gomawo” kata Tiffany

“kau bisa bahasa Korea?”

Tiffany tersenyum kecil. “baru sedikit. Aku sedang dalam tahap belajar” Kakek Ryewook terkejut mendengarnya ia lalu menoleh kearah Ryewook yang sedang tertidur

“jadi.. apa mungkin dia mendengar apa yang tadi Ryewook bicarakan?” gumamnya

***

-Tiffany Pov-

Aku sampai dirumah kakeknya. Entahlah, aku lupa nama orang yang kini bersamaku tapi yang pasti dia juga salah satu anggota Flower Boys yang terkenal disekolah baruq itu. Begitu sampai, ia langsung membaringkan badannya disofa. “ssh.. dasar tidak sopan” gumamku.

Setelah berbincang-bincang dengan kakeknya, kulihat ia sudah menutup matanya sepertinya ia tertidur. Tidak lama kemudian kakeknya datang membawakanku minuman aku tak tau jelas apa yang ia bicarakan tapi sepertinya ia menyuruhku meminumnya selagi masih hangat. Aku masih dalam posisi dudukku lama… dan akhirnya aku berdiri dan mulai menelusuri ruangan demi ruangan yang ada dirumah ini. Didinding, banyak sekali foto-foto keluarga yang tepajang.

Dari sekian banyak foto, ada satu foto yang menarik perhatianku. Didalam foto tersebut ada seorang anak lelaki yang sedang bermain piano. Kuambil pelan foto itu dan kuperhatikan lekat-lekat wajahnya. “apa mungkin dia ya? Tapi tidak mirip” pikirku

“don’t look to long. I’m afraid you’d be interested in him (jangan ditatap terlalu lama aku takut kau akan naksir padanya nanti)” kudengar sebuah suara dari arah belakangku

“you fascinated him, right? (kau terpesona padanya kan?)” tanyanya lagi. Sh, dasar namja narsis tingkat tinggi

“of course not! (tentu saja tidak)” ucapku lantang lalu menaruh kembali foto itu ditempatnya semula

“come on!” ia berlalu aku pun mengikutinya dari belakang. “where we will go now (kemana lagi kita akan pergi sekarang?)” tanyaku

“do you won’t to go home? (apa kau tidak mau pulang?)”

“of course I will (tentu saja aku mau)” aku tersenyum menatapnya namun ia hanya meninggalkanku. “ssh… dasar manusia berhati dingin!” gumamku

-Tiffany Pov End-

****

Fany sampai dirumahnya. Ryewook pun ikut turun mengantarkan Fany hingga didepan rumah

“so, this is your house?” tanya Ryewook sambil memperhatikan tempat tinggal Tiffany yang jauh dari kata Sederhana itu. lebih tepatnya Mewah

“yes. I’m lived here (ya aku tinggal disini)” sahut Fany sambil tersenyum ringan

Mis. Ryu membukakan pintu dan langsung memeluk Tiffany. “oh.. good! You’re save (oh syukurlah kau selamat)”

“sure, I have to tell you I’m be fine (aku sudah katakan padamu aku akan baik-baik saja)”

“ya” Mis. Ryu melepaskan pelukannya

Mis. Ryu menoleh kearah Ryewook. “anyonghasseo” sapa Ryewook. Mis. Ryu membalas sapaan Ryewook.

“Ok! You’ve come at your house, so I must to go home now (kau sudah sampai kerumahmu jadi, aku juga akan pulang sekarang)”

“You won’t to come? (kau tidak mau masuk?)”

“meybe next time (mungkin lain kali). I go” Ryewook menundukkan kepalanya kepada Mis. Ryu seraya permisi

****

Tiffany berjalan di bagian samping gedung IRINE. Ia jalan perlahan sambil sesekali membuka buku yang ditangannya. Sudah dua hari ini ia bergelut dengan buku itu. Ia lalu duduk santai dibangku tempat ia biasa melepas lelahnya. Ia membolak-balikkan buku yang sedari tadi serius dibacanya. Apa lagi kalau bukan buku bahasa korea. Ia benar-benar serius ingin mempelajari bahasa itu.

“bagaimana belajarnya?” Donghae langsung mengambil posisi duduk disebelah Tiffany

“lumayan” gumam Fany pelan. “jadi kau sudah bisa bahasa Korea?” Tanya Donghae lagi

“belum lancar tapi aku sudah mulai mengerti perlahan” Fany melanjutkan membaca

“coah. (baguslah)” kata Donghae lagi. Tiffany menoleh. “ne. gomawo”

“mwo?”

“gomawo sudah mau jadi temanku selama ini juga sudah mau mengajariku”

“hm… tapi kata terimakasih saja tidak cukup”

“mwo?” Tiffany menoleh kearah Donghae

“minimal kau men-traktir-ku makan direstoran mahal” balas Donghae lagi

“sh… kau kan kaya dan punya uang banyak. Kenapa harus aku yang traktir? Direstoran mahal pula” gerutu Tiffany. matanya kembali fokus pada tulisan-tulisan yang ada dibukunya

“memang. Tapi tidak lebih kaya darimu. Kudengar ibumu adalah seorang Menteri di Amerika” Tiffany menoleh kaget kearah Donghae

“kau… tau darimana?”

“mudah saja bagiku mendapatkan informasi itu. Kau lupa siapa aku disekolah ini? Aku bisa mendapatkan informasi yang kumau tanpa harus bersusah payah” sahut Donghae membanggakan dirinya.

“ah.. arraseo! Kau punya banyak fans jadi kau bisa menyuruh mereka kan?” Donghae menganggukan kepalanya. “Baiklah.. akan ku traktir kau” Tiffany akhirnya mengalah

“tapi,,, waktu dan tempatnya biar aku yang tentukan!”

“sh.. kau… banyak sekali permintaanmu” Tiffany mengeryutkan bibir mungilnya

“kau mau atau tidak? Lagipula kau belum tau banyak tentang Korea” gumam donghae pelan

“mwo?”

“ani” Donghae menggeleng. “akan kuhubungi kau jika aku sudah memutuskan waktu dan tempatnya. anyong…” pamitnya seraya pergi.

***

Taeyon merapikan tasnya. Ia memperhatikan sekelilingnya. Jessica sedang merapikan poninya, Hyoyeon sedang memakai sepatu kets yang baru saja dibelinya, Seohyun sedang membaca komik KERORO yang sangat digemarinya sementara Yoona sedang menikmati makanan ringan yang sedari tadi digenggamannya.

“yak..” Taeyon setengah berteriak. “eonni… kenapa berteriak?” Tanya Seohyun lemas

“kalian mau latihan atau tidak?” pekik Taeyon lagi. Emosinya meledak melihat para dongsaengnya yang nampak acuh hari ini

“aku mau” kata Jessica tapi pandangannya masih tetap pada cermin yang ada didepannya.

“sh.. kalau begini caranya tentu saja kita akan kalah dari Flower Boys” Taeyon menggendong tasnya dan keluar dari kelas dengan kesal.

“eonni… mau kemana? Tunggu aku!” Seohyun setengah berlari mengikuti Taeyon. Yang lainpun ikut menyusul dibelakang Taeyon.

Mereka membuka pintu studio yang selalu menjadi tempat latihan mereka. Taeyon CS mulai menaruh barang-barang bawaan mereka lalu mulai mengambil posisi.

Yoona langsung menyalakan music yang akan mengiringi latihan mereka. Lagu yang mereka pakai untuk latihan adalah “Into the New World (Remix Vers)”. Mereka pun mengambil posisi Hyoyeon didepan di ikuti dengan Yoona, Seohyun, Taeyon dan Jessica. Latihan mereka hari ini adalah khusus dance…

Saranghae neol i neukkim idaero geuryeowattteon hemae-imui kkeut
I sesang sogeseo banbokttoeneun seulpeum ijen annyeong
Sumanheun al su eomneun gil soge huimihan bicheul nan jjochaga
Eonjekkajirado hamkke haneungeoya dashi mannan na-ui segye

Hyoyeon meliukkan badannya mengikuti irama music. Kemudian disusul oleh Yoona yang muncul dibelakangnya dan mulai menari bersama Hyoyeon kemudian Seohyun, Taeyon dan Jessica pun menyusul dan melakukan gerakan dance yang sama. Mereka berbaris membentuk format huruf V.

****

-Tiffany Pov-

Aku meninggalkan bangku tempatku duduk tadi bersama Donghae. Sh… dia… banyak sekali permintaannya? Gumamku. Ku garuk kepalaku yang tidak gatal. “but gwenchana… lagipula berkat dia aku sudah mulai bisa bahasa korea dengan benar walaupun masih sering kucampur dengan bahasa Inggris. Ya! Jika aku lupa bahasa Korea-nya aku langsung menyambung kalimatku dengan bahasa Inggris. Lucu memang, namun inilah tahap belajarku dan aku berharap bisa dengan cepat menguasainya.

Ku langkahkan kakiku perlahan melewati ruangan yang pernah kumasuki sebelumnya. Ya! Ruangan dimana kulihat seorang gadis berambut pirang bernyanyi dengan pengahayatan yang sangat baik menurutku. Ku tundukkan kepalaku. Aku tidak berniat masuk lagi aku takut kejadian waktu itu terulang kembali.

Saranghae neol i neukkim idaero geuryeowattteon hemae-imui kkeut

Kudengar sebuah lagu melantun indah dari dalam ruangan itu. Ku masukkan kepalaku kedalam pintu ruangan yang memang agak sedikit terbuka. Sh… masuk tidak – masuk tidak – masuk tidak aku berpikir keras. Sudahlah! Rasa penasaranku lebih kuat daripada rasa takutku. Aku langkahkan kakiku perlahan hingga sampai diruangan tempat lagu itu di-play. Ku intip perlahan dan nampaklah 5 orang gadis cantik sedang berlatih koreo (dance). Wow! Keren gumamku. Ku perhatikan mereka yang makin lama makin energik dan gerakan mereka benar-benar sangat bagus. “pantas saja mereka tidak mau mengalah dari Flower Boys ternyata mereka benar-benar mempunyai talent yang sangat luar biasa” aku berbicara sendiri.

-Tiffany Pov end-

***

Taeyon cs telah selesai latihan. Mereka berhambur mengambil handuk untuk membersihkan keringat yang membasahi tubuh mereka. Seohyun langsung mengambil 5 botol air mineral dan ia berikan kepada eonni-eonni nya

“gomawo” gumam Taeyon sambil menerima minuman dari Seohyun. Begitu juga yang lainnya mereka mengucapkan terima kasih pada Seohyun.

Prak… prak.. prak…

Tifany menepuk tangannya dengan keras yang membuat Taeyon CS mengalihkan pandangan kearahnya. “kau lagi?” kata Jessica menghampiri Tiffany

“mianhe… tadi aku tidak sengaja..” sesal Fany

“tidak sengaja lewat dan mendengar suara music kemudian masuk dan melihat kami latihan” Jessica memotong perkataan Tiffany

“ne. mianhe jongmal mianhe” Tiffany menundukkan kepalanya menyesal.

“kau sudah bisa bahasa Korea?” Tanya Taeyon

“ah… aku masih dalam tahap belajar. Mohon bantuannya jika aku salah dalam mengucapkan kata” Tiffany tersenyum semangat menceritakan perkembangannya dalam berbahasa korea namun sesaat kemudian kembali tertunduk karena tatapan tajam dari Jessica

“hey… sudahlah kami bukan Tuhan atau Ratu yang harus disembah” Hyoyeon meneguk minumannya. Tiffany akhirnya mengangkat mukanya dan menatap Taeyon cs

“aku benar-benar minta maaf” katanya lagi masih dengan nada menyesal

“sudahlah! Kami sudah selesai latihan dan akan pergi sekarang” ucap Hyoyeon lagi

“ah… aku juga akan pergi” kata Tiffany dan menuju pintu ruangan tersebut dan keluar.

***

Tiffany menempelkan headset ditelinganya sambil berbaring diranjang empuk dikamarnya. Sesakali mulutnya berkomat kamit mengikuti alunan lagu yang kini play di telinganya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ada panggilan dari

Unknown number…

Tiffany mengeryutkan keningnya. Sh… nomornya tidak jelas. Ia langsung mematikan panggilannya. Tiffany lalu mem-play kembali music yang tadi sempat terhenti. Tiba-tiba ponselnya kembali bordering. Dari pemanggil yang sama. Fany masih berpikir untuk mengangkatnya atau tidak? Tiffany langsung menekan tombol hijau di layar touchsreen ponselnya

“kau kemana saja? Lama sekali mengangkatnya” omel suara diseberang. Sh… siapa dia berani mengomeliku seperti itu pikir Fany

“mianhe tadi aku sedang mandi” Tiffany mencari alasan

“ok! Keluarlah. Aku ingin makan sekarang!” perintah suara itu bagaikan Raja yang siap mengeluarkan titahnya

“mwo?”

“hey… tidak perlu terkejut begitu. Kau lupa dengan janjimu padaku?” Tifany mulai memutar otaknya dan berpikir. Seingatnya aku tidak pernah membuat janji dengan siapapun

“kau berpikir terlalu lama. Cepatlah! aku akan menunggumu selama 20 menit jika lewat, aku akan meminta lebih padamu” Tiffany masih bingung dengan semua perkataan orang yang meneleponnya. “orang ini benar-benar” gumam Fany kesal

“jika kau tidak keluar, aku akan menerobos masuk kedalam rumahmu. Waktumu tinggal 18 menit lagi” orang tersebut memutuskan sambungan telepon. “ya…” Fany setengah berteriak namun, orang diseberang sudah tidak lagi mendengarnya.

Tiffany bangkit dari rangjangnya dan mulai membuka lemari pakaiannya. Ia pun memilih baju yang akan ia pakai. “ah, ini lumayan” gumam Fany sambil mengeluarkan pakaian tersebut dari dalam lemari. 5 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah terganti dibadannya. Ia meraih tasnya tidak lupa pula ponselnya. Ia melihat jam tangannya 3 menit lagi. Tiffany turun dari kamarnya yang teletak dilantai 3 rumahnya. Ia berlari-lari kecil

“mis. Ryu aku keluar sebentar” kata Tiffany seraya memakai sepatu yang dipengangnya.

“kau mau kemana?” Tanya Mis. Ryu khawatir

“don’t worry. Aku pergi bersama temanku. Ok!” Tiffany mencium pipi mis. Ryu yang sudah ia anggap seperti kakak itu. “anyong…” suara Tiffany terdengar samar-samar ditelinga mis. Ryu.

Tiffany membuka pintu rumahnya ia mulai melihat sekeliling namun, ia tidak menemukan siapapun. Apa mungkin orang iseng yang sengaja mengerjaiku? Tiffany bertanya pada dirinya sendiri. Ponsel Fany berdering kembali

“waktumu tinggal 1,5 menit”

“hey… berhenti bermain-main denganku. Siapa kau? Kenapa kau menyuruhku keluar malam-malam begini?” Tiffany kesal. Terdengar tawa kecil dari suara diseberang

“keluarlah. Aku ada dijalan”

Tiffany mengikuti perintah orang itu dan langsung menuju jalan raya. Ia melemparkan pandangannya kesegala arah dan tidak menemukan sosok orang disekitar rumahnya. Ia berdecak kesal. Tiba-tiba saja sebuah ferrary hijau muda berhenti tepat didepan Tiffany.

“masuklah” kata si empunya mobil sembari menurunkan kaca mobilnya

Tiffany menoleh kearah sumber suara. Ia terkejut begitu melihat orang tersebut ternyata adalah Donghae. Tiffany masuk kedalam mobil Donghae namun dengan muka yang masih ditekuk

“waeyo?” Tanya Donghae sambil menyetir mobilnya pelan

“kau senang?”

“maksudmu?”

“kau senang kan mempermainkan aku” tanya Tiffany masih memasang wajah kesalnya

“sh.. aku tidak mempermainkanmu” jelas Donghae.  Fany hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataan Donghae.

****

Donghae memarkirkan mobilnya disebuah restoran mewah. Ia lalu turun dan menutup pintu mobilnya pelan

“kau tidak mau turun?” Tanya Donghae. Tiffany diam sambil menggendong tangannya didada

Donghae langsung membuka pintu mobil tempat Fany duduk iapun menarik tangan Fany untuk keluar. Fany akhirnya menurut.

Donghae dan Tiffany kini duduk disalah satu meja restoran elit itu. Tidak lama kemudian pelayan datang membawa buku menu.

“kau mau pesan apa?” Tanya Donghae

“terserah kau saja” kata Fany datar

“kau masih marah?” Tanya Donghae lagi. “ani” Fany menggeleng.

Donghae pun memesan menu makanan mereka mala mini. 10 menit kemudian makanan pesanan mereka datang. Donghae dan Tiffanypun mulai menikmati makanan mereka.

“jadi… kau merasa dipermainkan olehku?” Tanya Donghae disela-sela makannya dan spontan air yang diminum Fany tersembur keluar

Ohok… ohok… Tiffany batuk

“gwenchana?” Donghae mengambil tisu dan membersihkan wajah Fany yang agak berantakan. “sudahlah. Aku tidak apa-apa” tiffany mengambil tisu dari tangan Donghae tapi tangannya malah menggenggam tangan Donghae.

Tiffany memandang Donghae begitu juga sebaliknya. Pandangan mata mereka bertemu. Lama….

Hingga sebuah suara terdengar

“Oppa… ayo pulang” gadis itu langsung menarik tangan Donghae pergi. Tiffany hanya bingung melihat kejadian itu.

=================To be Continued==============

Satu pemikiran pada “That’s True Love (Part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s